Polisi Kejar Pemilik Akun @opposite6890

21
Ilustrasi. (Int)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Mabes Polri mengejar pemilik akun Twitter @opposite6890 yang disebut sebagai penyebar konten berita bohong atau hoaks. Polisi mengaku telah mengantongi data dan rincian informasi dari akun tersebut.

Pemilik akun @opposite6890 diintai polisi karena dinilai telah menyebar info hoaks soal aplikasi bernama Shambar dioperasikan di Mabes Polri.

APK Sambhar sendiri disebut merupakan aplikasi yang digunakan untuk melakukan koordinasi antara angoota polisi dengan buzzer Jokowi.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan tim siber Bareskrim Polri telah melalukan identifikasi dan sudah memprofil identitas pelaku di balik akun twitter tersebut.

“Kita sudah dapat datanya, cuma ingat bahwa proses pembuktian suatu tindak pidana itu butuh pembuktian berdasarkan fakta hukum dan alat bukti yang sangat kuat,” tutur Dedi di Mabes Polri, seperti dikutip dari CNNIndonesia, Senin (11/3/2019).

Dedi juga menyebut bahwa dalam proses pembuktian tersebut, juga perlu dilakukan verifikasi terhadap bukti-bukti yang ditemukan. Selain itu, juga perlu dilakukan analisa pembuktian secara ilmiah.

“Kita tidak akan buru-buru, yang jelas bahwa apa yang disampaikan di medsos tidak benar,” ujarnya.

Di sisi lain, Dedi menuturkan bahwa pihak kepolisian saat ini menduga ada praktik-praktik propaganda yang dilakukan di media sosial.

Pada kurun November hingga Desember, kata Dedi, serangan ditujukan kepada Kementerian Dalam Negeri dengan isu tentang e-KTP.

Kemudian memasuki Desember-Januari, serangan ditujukan kepada KPU dengan isu hoaks tentang surat suara tercoblos di tujuh kontainer.

Memasuki Maret, yang diserang adalah Bawaslu dengan isu soal netralitas dalam menyelesaikan masalah-masalah selama Pemilu.

“Pola-pola itu sudah kita maping, ya dalam rangka apa akhirnya? Deligitimasi pemilu, jangan sampai ini terjadi karena ini merusak demokrasi yang ada di Indonesia,” ujar Dedi.

Lebih dari itu, Dedi memastikan bahwa Polri akan menindak tegas para pelaku membuat hoaks tersebut ddemi memberantas produksi dan penyebaran hoaks di Indonesia.

“Kita akan terus fokus untuk terus memberantas kasus-kasus hoax atau juga propaganda-propaganda yang dimunculkan. Di medsos, kita akan habisi itu,” kata Dedi.

Diketahui dalam sebuah postingannya, akun @opposite6890 menyatakan bahwa IP addres dari APK Sambhar merupakan milik Mabes Polri. APK Sambhar sendiri disebut merupakan aplikasi yang digunakan untuk melakukan koordinasi antara angoota polisi buzzer Jokowi.

Akun @opposite6890 juga sempat menghebohkan media sosial lewat sebuah postingan yang menyebut bahwa polisi membentuk tim buzzer 100 orang per polres di seluruh Indonesia yang terorganisir dari polres hingga mabes untuk mendukung capres Jokowi.

Editor: Awang Darmawan

Rekomendasi Berita

Baca Juga