Ketua DPP Sayangkan Penunjukan Plt Ketum PPP yang Terburu-buru

29
HTI, Partai Persatuan Pembangunan, Romahurmuziy
Romahurmuziy (int)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Ketua DPP Syaifullah Tamliha menyoroti proses pemilihan Plt Ketum PPP pengganti Romahurmuziy yang menjadi tersangka dugaan kasus suap. Saat ini, Suharso Monarfa menjabat sebagai plt.

Sebagai pengurus PPP yang sudah malang melintang, dengan kejadian ini mengingatkannya pada peristiwa saat Suryadharma Ali menjadi tersangka korupsi.

“Saya sudah dua kali menghadapi masa-masa yang sulit ketika Ketua Umum PPP menjadi tersangka korupsi oleh KPK. Menjelang Pilpres 2014, SDA (Suryadharma Ali) menjadi tersangka saat menjabat Menteri Agama dan Romy terkena OTT dan tersangka korupsi yang juga berhubungan dengan Kementerian Agama,” ujar Tamliha dalam keterangannya seperti dilansir Kumparan, Minggu (17/3/2019).

Tamliha kemudian mengingat momen di 2014 saat Romy memimpin rapat untuk memecat Suryadharma Ali sebagai ketum. Tamliha ikut dalam rapat tersebut, tapi ia bercerita sempat meminta pemberhentian Suryadharma saat ia sudah diputuskan bersalah.

“Ketika kawan-kawan memecat SDA di malam kelabu yg rapatnya ‘dipimpin’ Romy, sebagai Wasekjen saya meminta pemberhentian dilakukan setelah SDA benar-benar masuk penjara,” kata Tamliha.

Ia ingat betul, Suharso Monoarfa merupakan salah satu orang yang mendesak agar pemberhentian Suryadharma Ali dilakukan sesegera mungkin. Kejadian di 2014 seakan kembali terjadi di 2019.

“Tapi Suharso Monoarfa dengan lantang memintanya ‘sekarang juga’. Ketika Romy ditetapkan tersangka oleh KPK, Sumo (Suharso Monoarfa) pula yang ‘buru-buru‘ dijadikan Plt Ketua Umum. Saat kemarin, saya menolak kembali ke Jakarta untuk hanya sekadar rapat memberhentikan Romy,” kata Tamliha.

Anggota DPR RI Fraksi PPP ini memiliki alasan mengapa ia tak setuju pemberhentian dilakukan dengan buru-buru. Ia pun menilai pergantian ketum harusnya dilakukan setelah minta pertimbangan dari Romy yang merupakan mantan ketum.

“Saya manusia, berpolitik tentunya dengan hati, sebab saya bukan seekor binatang yang dalam Al-Quran digambarkan lebih jelek daripada manusia,” kata dia.

“Kenapa kita tidak menunggu Romy istirahat terlebih dahulu setelah ‘terperiksa’ yang tentunya tidak tidur 24 jam dan nantinya ‘atas izin KPK’ Perwakilan DPP PPP membesuknya untuk dimintakan pertimbangan siapa yang pantas menggantikan kedudukannya,” jelasnya.

Tamliha mengatakan, merujuk kepada AD/ART PPP, yang bisa menjadi Plt Ketum hanyalah salah satu dari 10 waketum PPP. Sehingga, penunjukan Suharso sebagai Plt ketum patut dipertanyakan.

“Itulah isi AD/ART hasil muktamar ke muktamar. Tidak ada alasan konstitusional lainnya ‘atas nama apapun’ kecuali forum muktamar yang bisa ‘mengubahnya,” katanya.

“Kalau tidak gatal, buat apa punggung digaruk. Sesuatu berasal dari tiada, menjadi ada dan pasti akan tiada. Mohon ampun ya Tuhanku jika hambamu salah mengulas kata-kata ini,” tutup dia.

Editor: Hendra Wijaya

 

Rekomendasi Berita

Berita Terkini

Duo Amran Komit Dukung Pendidikan Berkualitas Bagi Putra-Putri Wajo

SULSELSATU.com, WAJO - Bupati Wajo diwakili Wakil Bupati Wajo...

Indah Hadiri Deklarasi Genpi Lutra dan Launching Pasar Digital

SULSELSATU.com, LUTRA - Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani...

Tim Bentukan Pemkot Parepare Susun Amdal Pembangunan RS Hasri Ainun

SULSELSATU.com, PAREPARE - Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan gedung...

Baca Juga