Pascapenembakan Brutal, Pemerintah Selandia Baru Bakal Revisi UU Senjata Api

26
Evakuasi korban penembakan dalam masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru. (Reuters/Martin Hunter)

SULSELSATU.com, SELANDIA BARU – Pemerintah Selandia Baru mewacanakan merevisi undang-undang kepemilikan senjata api. Revisi ini menyusul penembakan brutal yang dilakukan seorang pria di dua masjid di Christchurch dan menewaskan puluhan warga muslim.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan bahwa peraturan senjata akan dibahas pada hari ini di dalam rapat kabinet.

“Kita tidak dapat dihalangi dari pekerjaan yang perlu kita lakukan pada hukum senjata kita di Selandia Baru. Aturannya perlu dubah,” ujarnya sebagaimana dikutip Theguardian, Senin (18/3/2019).

Sedikitnya warga Selandia Baru yang memiliki senjata api sebanyak 1,2 juta orang yang membuat tingkat kepemilikan senjata per kapita negara itu lebih tinggi daripada milik Australia. Akan tetapi, jumlah itu masih jauh di bawah AS.

Diduga bahwa tersangka dalam serangan itu, warga Australia bernama Brenton Tarrant, memiliki lisensi senjata api sebanyak lima pucuk.

Sebanyak 34 orang korban serangan itu masih berada di rumah sakit, termasuk seorang gadis berusia empat tahun yang berada dalam kondisi kritis. Facebook pun segera menghapus 1,5 juta video serangan teror Selandia Baru dalam 24 jam pertama.

Ardern mengatakan bahwa tersangka telah mengirim pernyataan sikap atau manifesto ke kantornya beberapa menit sebelum serangan.

Dia mengaku merupakan salah satu dari lebih dari 30 penerima manifesto yang dikirim sembilan menit sebelum serangan terjadi. Hanya saja lokasi dimana serangan akan dilakukan tidak disebutkan.

Ardern mengatakan bahwa jika dokumen itu “memberikan rincian yang bisa ditindaklanjuti maka pihaknya akan segera bertindak.

“Sayangnya, tidak ada detail seperti itu di email itu,” katanya.

Komisaris polisi Selandia Baru, Mike Bush menyampaikan kekhawatiran bahwa polisi terlalu lama untuk menanggapi pembantaian tersebut. Dia mengatakan petugas berada di tempat kejadian dalam waktu enam menit dari panggilan darurat pertama dan menangkap tersangka dalam waktu 36 menit.

Bush mengatakan Tarrant tetap satu-satunya orang yang didakwa sehubungan dengan serangan itu dan dia kemungkinan akan menghadapi lebih banyak tuduhan. Seorang wanita yang ditangkap di tempat kejadian dibebaskan tanpa tuduhan. Pria berusia 18 tahun lainnya yang ditangkap dalam sebuah kendaraan telah didakwa melakukan pelanggaran senjata api yang tidak terkait dengan serangan teroris.

Editor: Hendra Wijaya

 

Rekomendasi Berita

Berita Terkini

Duo Amran Komit Dukung Pendidikan Berkualitas Bagi Putra-Putri Wajo

SULSELSATU.com, WAJO - Bupati Wajo diwakili Wakil Bupati Wajo...

Indah Hadiri Deklarasi Genpi Lutra dan Launching Pasar Digital

SULSELSATU.com, LUTRA - Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani...

Tim Bentukan Pemkot Parepare Susun Amdal Pembangunan RS Hasri Ainun

SULSELSATU.com, PAREPARE - Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan gedung...

Baca Juga