Demo Dukung Papua, 47 Mahasiswa di Tomor Leste Diamankan Petugas

SULSELSATU.com, JAKARTA – Aparat kepolisian di Timor Leste mengamankan 47 mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Progresif (KEP) setelah berunjuk rasa mendukung Papua untuk merdeka. Unjuk rasa itu dilakukan pada Kamis (22/8/2019).
Sekretaris Jenderal KEP, Adriano da Costa Freitas mengatakan, bahwa kepolisian menahan puluhan mahasiswa itu setelah mereka menggelar konferensi pers pernyataan dukungan di Universitas Nasional Timor Lorosae (UNTL).
Sekitar 100 mahasiswa yang ikut serta kemudian menggelar long march. Rencananya, mereka akan berjalan menuju gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia, kemudian Kedubes Amerika Serikat.
“Namun, belum sampai KBRI, polisi menahan 47 orang dari sekitar 100 orang yang ikut,” ujar Adriano dikutip dari laman CNNIndonesia, Jumat (23/8/2019).
Adrian mengatakan bahwa penangkapan itu terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Mereka kemudian diinterogasi dan dibebaskan pukul 16.00.
Menurut Adrian, kepolisian sebenarnya memang melarang aktivitas berbau politik apa pun di tengah persiapan menjelang peringatan referendum kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia pada 30 Agustus mendatang.
“Di sini memang sedang melakukan sterilisasi. Semua aktivitas dilarang, tapi kami tetap ingin turun ke jalan. Aksi yang kami lakukan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap bangsa Papua,” tutur Adrian.
Dari video yang diterima, para mahasiswa terlihat menggelar konferensi pers di atas meja yang beralaskan bendera bintang kejora.
Di awal pernyataannya, perwakilan KEP menyatakan bahwa mereka mengutuk insiden rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang pekan lalu yang memicu aksi demonstrasi di Manokwari dan Sorong.
“Kami mengutuk tindakan represif dan rasis aparat TNI-Polri dan ormas sipil reaksioner terhadap mahasiswa-mahasiswi Papua dengan sebutan kata monyet,” kata seorang perwakilan KEP.
Mereka juga menuntut agar pemerintah Indonesia menarik militer dari tanah Papua. Selain itu, para anggota KEP juga mendesak agar Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa agar segera berkunjung ke Papua.
“Hentikan rasisme terhadap bangsa Papua. Segera bebaskan bangsa monyet dari tanah mereka,” katanya.
Editor: Hendra Wijaya
Cek berita dan artikel yang lain di Google News