Rasisme Bentuk Perilaku Kolonial

Rasisme Bentuk Perilaku Kolonial

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Komunitas Kajian Filsafat dan Ilmu Humaniora Pojok Bunker bekerja sama dengan Lembaga Dakwah dan Studi Islam (LDSI) Almuntazhar menggelar bedah buku karya Frantz Fanon yang berjudul Black Skin White Masks, di Warkop Bundu, Jalan Aeropala, Sabtu (31/8/2019). 

Buku psikiater asal Martinique itu dibedah oleh Muhajir MA selaku pegiat literasi dari Paradigma Institute. Ketua Panitia Halik mengatakan, bedah buku Black Skin Wahite Masks digelar, mengingat situasi Indonesia sedang dikacaukan oleh isu rasisme.

Karya Fanon tersebut cukup kontekstual dibedah untuk membuktikan, jika rasisme adalah warisan kolonial yang membuat psikologi masyarakat terjajah mengalami neurosis. Semacam kompleks inferior yang membuatnya merasa rendah.

“Kondisi tersebut membuat mereka berhasrat menutupi kekurangannya itu dengan mengidentifikasi diri dengan kulit putih, seperti meniru nilai dan budaya kulit putih (penjajah),” ujarnya. 

“Jangan-jangan perlakuan rasis kita terhadap Papua adalah buntut dari peniruan budaya penjajah sehingga secara tak sadar merasa superior dan tak segan menunjuk saudara kita dengan stereotip yang rasis?,” tambah Halik. 

Muhajir MA yang diwawancarai pasca bedah buku menjelaskan, Fanon menerapkan psikoanalisa dalam melihat gejala psikopatologi yang sedang menjangkiti masyarakat kulit hitam, atau masyarakat bekas jajahan pada umumnya. 

“Rasa inferior masyarakat kulit hitam mesti dipersepsi sebagai sebuah konstruksi kolonial. Realitas ini seperti struktur keluarga, dimana masyarakat kulit putih, atau bekas penjajah sebagai ayah atau otoritas dunia luar selalu menentukan prinsip dan hukum yang berlaku,” ujar mahasiswa pascasarjana UNM itu. 

Muhajir mengatakan, meski penjajahan telah selesai. Namun, superioritas kulit putih dan inferioritas kulit hitam selalu dipertahankan. Karena mentalitas tersebut sudah menjadi semacam ketidaksadaran kolektif, yakni ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Celakanya, kata Muhajir saat mengutip Fanon, masyarakat kulit hitam memiliki kebiasaan meniru bekas “tuannya” akibat dari rasa inferior dan mistifikasi identitas kulit putih. Muhajir melihat, masyarakat eks koloni lainnya, seperti Indonesia memiliki kecenderungan demikian. 

“Kalau kita lihat rasisme dalam konteks Indonesia. Masyarakat Indonesia kan pernah dijajah dan dianggap rendah oleh kolonial. Tapi kenapa sekarang banyak yang bersikap rasis sebagaimana yang pernah dilakukan penjajah dulu? Kita harus curiga banyak dari kita meniru penjajah, hingga merasa superior dari saudara kita yang lain,” ujarnya.

“Fanon mengatakan, semakin intensif masyarakat jajahan berasimilasi dengan budaya penjajah, semakin besar kemungkinan derajatnya terangkat,” tandas Muhajir.

Penulis: Jahir Majid
Editor: Awang Darmawan

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Baca Juga