Keamanan Lemah, Popularitas Zoom Kian Terpuruk Dikompori Kompetitor

JAKARTA – Aplikasi video konferensi, Zoom dirundung masalah serius. Di tengah popularitas yang kian menanjak, faktor keamanan menjadi celah bagi kompetitor untuk menyerang.
Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Zoom, Eric Yuan dibuat meradang akibat ‘hujatan’ para pesaing.
Eric menuding, ada kompetitor yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu menyerang Zoom yang sedang dalam kondisi kurang baik.
Eric tak menyebut siapa kompetitor yang dimaksud. Akan tetapi diketahui belum lama ini Microsoft dan Cisco berpromosi bahwa produk mereka jauh lebih aman.
Eric yang mantan pegawai Cisco ini menyatakan kompetisi merupakan hal bagus di pasar layanan konferensi video. Namun demikian, menyerang pihak lain di tengah krisis pandemi corona menurutnya tidak pantas.
“Ini adalah krisis. Siapapun yang memanfaatkan kesempatan ini untuk marketing, sales, menyerang yang lain, sejarah akan menyatakan kebenaran, siapa perusahaan yang melakukan hal benar, siapa yang salah,” cetus Eric, dikutip dari Business Insider.
“Saya berkata beberapa kali ke karyawan, mari fokus ke end user, fokus berkomitmen ke masyarakat dan fokus ke krisis serta melakukan hal benar, menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Jangan fokus ke marketing dan penjualan. Itu budaya mengerikan,” sambungnya.
Microsoft belum lama ini mempromosikan betapa aman aplikasi Teams melalui tulisan di blog. “Orang perlu tahu pembicaraan virtual mereka aman dan privat. Di Microsoft, privasi dan sekuriti tak pernah dikesampingkan,” tulis pejabat Microsoft.
Cisco mengutarakan hal senada soal layanan meeting online WebEx. “Sekuriti bukan untuk dipikirkan kemudian. Ini adalah bagian dari budaya kami,” kata General Manager WebEx, Abhay Kulkarni.
Beberapa pihak kini mulai melarang Zoom karena isu semacam zoom bombing di mana pesan dari orang asing membanjiri suatu percakapan. Pegawai Google sampai para guru di Singapura misalnya, telah dilarang menggunakan Zoom.
Editor: Hendra Wijaya
Cek berita dan artikel yang lain di Google News