Kepada Jokowi, Nurdin Abdullah Klaim Penyebaran Covid-19 di Sulsel Menurun

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menghadiri rapat terbatas via video conference (vicom) bersama Presiden Joko Widodo seluruh menteri dan gubernur se-Indonesia.
Dalam rapat itu, Nurdin Abdullah, melaporkan kondisi Covid-19 dan ekonomi Sulsel saat ini kepada Jokowi.
Dalam laporannya, Nurdin menjelaskan, pandemi Covid-19 yang masih berlanjut membuat Indonesia bernasib sama seperti negara-negara lainnya. Tak hanya mengganggu sektor kesehatan, namun telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan.
Nurdin mengatakan angka penyebaran Covid-19 di Sulsel berada di angka 0.68-0.89 (dibawah 1) sejak pertengahan Juli hingga akhir Agustus 2020. Artinya angka tersebut terbilang turun.
Dengan kondisi menurunya kasus di Sulsel, Nurdin mengindikasi bahwa wilayah Sulsel secara bertahap mulai memenuhi kriteria terkendali dengan angka Reproduksi efektif (Rt) di bawah satu.
Hal ini menandakan segala upaya intervensi yang dilakukan bersama selama ini mulai menunjukkan hasil dan ini juga tidak terlepas dari kesadaran masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan.
“Sinergi dan kolaborasi dari berbagai elemen, dalam upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 merupakan kunci dalam penanganan Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan, karena pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, sendi-sendi perekonomian tapi berdampak pada hampir semua lini kehidupan manusia,” kata Nurdin.
Diskes Makassar Sebut Penularan Covid-19 Menurun karena Tak Ada Lagi Swab Kontrol
Khusus di Kota Makassar yang menurupakan zona merah Covid-19, angka penularan Covid-19 memang cenderung menurun dari angka sebelumnya, di mana angka reproduksi (RT) sudah mencapai angka 0,8 yang sebelumnya mencapai lebih dari angka 1.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Naisyah Tun Azikin mengatakan, penurunan penularan Covid-19 dikarenakan adanya perubahan dalam pemeriksaan spesimen swab sesuai instruksi Menteri Kesehatan.
Pemeriksaan swab kontrol sudah berbeda dengan yang dilakukan dari yang sebelumnya di mana pasien positif akan diuji swab setiap 14 hari maka saat ini hal itu tidak lagi dilakukan. Jika setelah uji swab hasilnya masih positif maka tes dilakukan lagi sampai hasilnya negatif 2 kali.
“Sekarang sudah tidak ada lagi pemeriksaan swab kontrol sehingga memang kalau dilihat spesimen pemeriksaan swab di laboratorium itu menurun. Jadi semua yang dilakukan pemeriksaan hanya swab pertama,” ujar Naisyah
Swab kontrol dilakukan untuk mengetahui apakah pasien tersebut sudah sembuh atau belum.
Naisyah mengungkapkan bahwa, berubahnya proses pemeriksaan pasien berdasarkan penelitian organisasi kesehatan dunia WHO, pasien positif pada hari ke-14 tidak lagi infeksius atau menular. Dengan demikian, pemeriksaan kedua tidak perlu lagi dilakukan.
“Pada hari ke-14 sudah bisa dinyatakan sehat karena tidak menularkan lagi sehingga pemeriksaan spesimen swab di laboratorium itu menurun karena tidak ada swab kontrol lagi,” paparnya
Meski begitu, Naisyah mengaku Pemkot Makassar akan memasifkan pemeriksaan swab sebagai bagian dari penelusuran kontak atau tracing. Itu dilakukan untuk mengetahui jelas apakah benar penurunan Covid-19 menurun.”
Kalau ada positif kita dapatkan, pasti satu rumah akan kita swab,” jelas dia.
Penulis: Jahir Majid
Editor: Hendra Wijaya
Cek berita dan artikel yang lain di Google News