Senior Golkar Sulsel Tak Nyaman Gaya Kepemimpinan Taufan Pawe

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Gaya kepemimipinan Ketua DPD I Golkar Sulsel Taufan Pawe membuat para senior partai beringin itu tak nyaman.
Perasaan itu dicurahkan saat bertemu dengan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang baru saja bergabung dengan Partai Golkar.
Senior Golkar, HM Roem, mengawali bincang-bincang tersebut. Mantan Ketua DPRD Sulsel ini berkisah sudah tidak pernah lagi mendapat undangan dalam kegiatan-kegiatan kepartaian. Padahal, cintanya pada Golkar sebenarnya tidak akan pernah redup.
Bagaimana bisa redup? Segala prestasi sepanjang karier politik kader yang ber-Golkar sejak 1974 ini, diraih di bawah pohon beringin. Menjadi Bupati Sinjai dua periode, menjadi ketua DPRD Sulsel 3 periode, semua bersama beringin.
“Kami rindu dengan suasana di mana Golkar itu benar-benar terasa seperti milik semua kader, bukan hanya milik pengurus. Saya sudah ber-Golkar sejak Bapaknya IAS, Sirajuddin, menjadi sekretaris Golkar tahun 1974. Tidak pernah ada perasaan sebagai anak tiri. Semua kader terpanggil dalam setiap kepemimpinan untuk merasa memiliki Golkar. Itu yang hilang saat ini,” kenang Roem
Roem yang mengaku masih banyak berkomunikasi dengan sejumlah kader di daerah memastikan sangat banyak orang yang pernah berjasa pada Golkar, mau mengabdi dan berbakti lagi.
“Tapi mereka ini semua tidak pernah disentuh. Dulu, prinsip melibatkan lebih banyak orang agar partai semakin besar sangat kental. Sekarang, terbalik, jangankan orang di luar pengurus, yang saya dengar, bahkan pengurus yang dilibatkan hanya segelintir saja. Ini perlu diperbaiki,” tegas Roem.
Padahal, urgensi melibatkan kader-kader lama ini bukan sekadar untuk menghargai jasa mereka pada partai, juga untuk menjaga suara dari kelompok mereka tetap untuk Golkar. “Pengurus jangan terkesan takut tersaingi dengan kader senior, toh rata-rata mereka sudah tidak maccaleg lagi kan”.
Senior perempuan Golkar, Heriany juga memberi masukan agar suasana kebatinan kader yang dulu menyala-nyala memperjuangkan Golkar kembali bisa berkobar di tangan Ketua Golkar Sulsel, HM Taufan Pawe.
“Sebenarnya, banyak kader perempuan Golkar yang sudah mau mundur beramai-ramai. Tapi bujukan senior-senior lain yang begitu cinta Golkar membuat itu urung terjadi,” tuturnya.
Sebagai Korwil Pemenangan Soppeng-Wajo, dirinya hampir tidak pernah dilibatkan dalam setiap acara-acara Golkar. Karena itu, dirinya yang awalnya berniat mengajak kader lain untuk aktif ber-Golkar menjadi malu hati.
“Kami sangat berharap, kebersamaan yang dulu ada itu bisa tercipta kembali. Saya tidak pernah diundang pleno dalam kepengurusan ini. Saya tidak tahu, apakah memang tidak diundang atau memang belum pernah pleno”.
Senior Golkar lainnya, Hoist Bachtiar berkisah, kepengurusan Golkar saat ini punya istilah rapat terbatas “ratas”. Istilah yang lahir karena setiap kali ada keputusan internal, maka yang akan dilibatkan hanya orang-orang pilihan saja. Selalu tidak lebih dari tujuh orang saja. “Yang lain terpaksa diam. Bukan karena tidak mau berpartisipasi, tapi memang karena tidak dilibatkan,” kata Hoist.
Senior Golkar dari Gowa, Mappaujung, sepakat dengan langkah para senior untuk mendorong agar Golkar bisa kembali ke relnya. “Kita semua memberi masukan dan sepakat Golkar harus bisa mengembalikan kebersamaan yang pernah ada. Demi kejayaan Golkar”.
Senior Golkar lainnya, Chaerul Tallu Rahim berharap pengurus DPD Golkar Sulsel bisa membuka diri dengan kehadiran tokoh-tokoh yang bisa mengangkat elektoral Golkar seperti IAS.
“Tidak usah diterima sebagai pesaing, mengingat ada mekanisme organisasi yang akan menjadi rel bagi persaingan untuk sebuah jabatan”.
Ketua Harian Golkar Sulsel, Kadir Halid, mengaku siap meneruskan semua masukan dari senior-senior ke meja DPD I Golkar Sulsel.
“Semua yang ada di sini niatnya hanya ingin memperbaiki Golkar. Saya percaya itu, dan siap meneruskan segala keluh kesah ini,” kata Kadir.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News