Awali Tahun 2023, Karantina Pertanian Makassar Lepas Ekpor Ribuan Ton Komoditas Jagung Tujuan Filipina

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Mengawali tahun 2023, Balai Besar Karantina Pertanian Makassar melakukan pelepasan ekspor jagung tujuan Filipina.
Sebanyak 6.150 ton jagung milik PT Seger Agro Nusantara diekspor melalui pelabuhan Soekarno-Hatta, Rabu (11/1/2023).
Pelepasan ini dipimpin langsung oleh Deputi Pangan dan Agribisnis, Kementriaan Koordinator Bidang Perekonomian dengan didampingi oleh Kepala Karantina Pertanian Makassar, Lutfie Natsir, Kepala Ororitas Pelabuhan Utama Makassar.
Turut hadir pula Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Makassar, Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean B Makassar, Reagional Head IV Pelindo Makassar, serta para kepala dinas instansi terkait lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi selatan.
Dalam sambutannya Kepala Karantina Pertanian Makassar mengapresiasi PT Seger Agro Nusantara yang telah melakukan ekspor di awal tahun 2023 ini. Selain itu Lutfie juga sangat bangga dengan capaian Karantina Pertanian Makassar sepanjang tahun 2022 terkait ekspor.
“Perkembangan ekspor dari Provinsi Sulawesi Selatan terutama untuk komoditas pertanian mengalami kenaikan sebesar 26,85% untuk volume ekspor atau sebesar 170.407 Ton dan kenaikan sebesar 14,29% atau senilai Rp. 2,5 Triliun dengan frekuensi 810 kali. Dibandingkan dengan tahun 2021 yaitu volume sebanyak 134.371 Ton, nilai barang Rp. 2,2 Triliun dan frekuensi sebanyak 1.071 kali. Total negara tujuan ekspor dari BBKP Makassar pada Tahun 2022 mencapai 40 negara. Adapun frekuensi negara tujuan ekspor terbesar pada tahun 2022 ialah China sebanyak 166 kali, Malaysia sebanyak 123 kali, Amerika Serikat (USA) sebanyak 72 kali, Korea Selatan sebanyak 67 kali dan Jepang sebanyak 45 kali.”, tutur Lutfie
Lebih lanjut, Lutfie mengatakan Nilai ekspor Sulsel pada 2021 capai Rp2,2 triliun, sementara tahun 2022 Rp2,6 triliun. Ia mengaku, Jagung merupakan ekspor perdana komoditas pangan pada tahun 2023 ini.
Adapun Nilai ekspor diestimasi capai Rp40 miliar.
“Adapun untuk negara tujuan ekspor baru yaitu Ireland dan Ukraine, dengan jumlah eksportir baru sebanyak 2 eksportir dan komoditas ekspor baru yaitu Serbuk Kelapa, Ubi Banggai, Ubi Jalar, Wheat Gluten, dan Markisa. Sementara itu untuk jagung ini sendiri merupakan salah satu komoditas penyumbang kenaikan ekspor pada tahun 2022, yaitu dengan volume ekspor sebesar 25.900 Ton dan frekuensi 8 kali dengan Nilai barang mencapai Rp. 138 Miliar. Selain itu Jagung merupakan ekspor perdana komoditas pangan pada tahun 2023.”, lanjutnya.
Sementara itu, Deputi Pangan dan Agribisnis, Kementriaan Koordinator Bidang Perekonomian Musdalifah Machmud juga sangat mengapresiasi pelepasan ekspor jagung ini, harapannya semua stakeholder dari hulu hingga hilir agar para petani dapat didukung untuk menghasilkan komoditas pertanian yang unggul dan diminati banyak pasar
“Mudah – mudahan ekspor ini bukan awal tapi kita melanjutkan dan meningkatkan kembali semangat untuk memproduksi komoditas yang berkualitas dan unggul untuk kita pasarkan ke seluruh dunia. Saat ini kita akan mengekspor sebanyak 6.150 ton sementara target kita ada 100 hingga 200 ribu ton dapat kita ekspor, karena saat ini kita sudah dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri”, tuturnya.
Direktur PT Segar Agro Nusantara, Christian Chandra mengucapkan terimakasih atas dukungan semua pihak atas terselenggaranya kegiatan pelepasan ekspor Jagung tujuan negara Filipina ini.
“Saya berharap dengan dibukanya keran ekspor yang dibuka sepanjang tahun, negara – negara tujuan ekspor sudah pasti akan sangat mengutamakan dari Indonesia.Kami pun sudah pasti menjaga kualitas dan volume komoditas tersebut. Kami sangat optimis volume yang ditargetkan oleh pemerintah dapat tercapai, karena pada 2022 sendiri kan posisinya surplus sebanyak 2,6 juta ton. Kita juga berkomitmen untuk membantu petani agar mempunyai motivasi untuk terus berproduksi sehingga produktivitas dapat terus naik”, jelas Christian.
Saat ini Badan Karantina Pertanian melalui Balai Besar Karantina Pertanian Makassar mendukung ketertelusuran (traceability), keberlanjutan (sustainability), ketersediaan komoditas ekspor, dan pertumbuhan eksportir baru. Hali ini dilakukan agar dapat terus mendukung percepatan ekspor tidak hanya di Sulawesi Selatan tapi juga di seluruh wilayah Reapublik Indonesia.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News