Lamella Gravity Settler dan Bukti Konkret Praktik Pertambangan Berkelanjutan PT Vale

Lamella Gravity Settler (LGS) berhasil menjaga kualitas air di wilayah PT Vale Indonesia menambang selama bertahun-tahun. Sebuah bukti konkret praktik pertambangan berkelanjutan.
SULSELSATU.com, LUWU TIMUR – Di tepi Jalan Poros Malili-Batu Putih, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), terdapat sebuah rumah makan yang menyajikan menu hasil laut. Posisinya menjorok ke arah Laut Lampia.
Bangunan rumah makan itu didominasi kayu. Serupa rumah panggung. Sebagian badannya berada di laut. Dari sela-sela papan lantai, tamu bisa melihat air laut menghantam kaki-kaki bangunan.
Mereka yang datang bisa menikmati berbagai kuliner ikan, kepiting, sampai lobster. Sembari melahap makanan, tamu juga bisa menikmati pemandangan laut kejauhan dan hijau pepohonan yang menyelimuti pegunungan sekitar.
Sayangnya, hari itu pada pertengahan Mei 2023, pesisir laut tampak tidak begitu indah. Airnya keruh. Terlihat kecoklatan, seperti tercampur tanah lumpur. Kondisi itu terjadi pada pesisir laut sejauh mata memandang.
Masyarakat sekitar bilang, pemandangan itu disebabkan aktivitas penambangan. Memang, di sekitar wilayah tersebut ada beberapa perusahaan pertambangan nikel yang beroperasi. Namun, air limpasan tambangnya mengalir ke arah laut.
Proses penambangan nikel dengan cara pembukaan lahan umumnya akan menghasilkan limbah cair (fluent). Ia tercipta dari reaksi udara dan air hujan. Limbah itu memuat total suspended solid (TSS) dan kromium valensi (Cr6+). Sifatnya mobile, larut dalam air serta bersifat toksik dan karsinogenik akut pada makhluk hidup.
Sekitar 55 kilometer ke arah utara dari rumah makan itu, terbentang luas Danau Matano. Itu adalah danau terdalam di Asia Tenggara. Kedalamannya mencapai 590 meter. Terhampar dengan panjang 28 kilometer, serta lebar maksimal mencapai 8 kilometer.
Air danau hijau bening. Pada beberapa bagian, lantai danau bisa terlihat jelas. Fauna yang hidup di danau, seperti louhan dan kepiting gori tampak meliak-liuk dan berjalan di dasar danau. Sejauh mata memandang terhampar air berwarna hijau jernih. Pepohonan hijau rimbun, tampak mengelilingi danau.
Tak jauh dari danau itu, beroperasi salah satu perusahaan tambang nikel raksasa, PT Vale Indonesia (Tbk). Selama 55 tahun, perusahaan asal Brasil ini mengeruk nikel di Luwu Timur dengan praktik pertambangan berkelanjutan.
Praktik pertambangan berkelanjutan bertujuan meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan, masyarakat dan perekonomian, sekaligus mengoptimalkan manfaat kegiatan pertambangan. Salah satu yang ditempuh Vale adalah menghadirkan fasilitas LGS.
LGS beroperasi sejak 2014 lalu. Ia berfungsi menampung air limpasan limbah. LGS terintegrasi langsung dengan 100 lebih kolam sedimen di lokasi-lokasi penambangan. Infrastruktur itu berfungsi sebagai pemurnian limbah air tambang. Ia mereduksi elemen yang terkandung dalam air, utamanya TSS dan Cr6+.
“Di sini kita mendesain bagaimana air limpasan tambang mengalir ke satu titik konsentrasi, atau sedimen pond. Di situlah kita melakukan treatment, baik TSS, dan Cr6+ beberapa parameter baku mutu syarat pemerintah,” ujar Hasliana Amiruddin, Mining Infrastructure PT Vale baru-baru ini.
LGS berdiri berkat kerja sama PT Vale dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). LGS diadaptasi dari pengelolaan air milik PDAM. Pengembangan infrastruktur ini dilakukan pada 2011, lalu beroperasi resmi 2014.
Di LGS terdapat beberapa area. Seperti area yang digunakan untuk menginjeksi fero sulfat untuk mereduksi Cr6+. Dari situ, air melalui slow mixing area, berbentuk kamar bersekat-sekat, dengan kedalaman 9 meter.
Air lalu mengalir pelan di slow mixing area. Kotoran yang terkandung di air tereduksi menjadi endapan dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Melalui proses ini, air yang keluar memiliki kandungan baku mutu sesuai yang dipersyaratkan.
Air dari LGS ini kemudian dialirkan ke kolam penampungan. Di kolam itu, kandungan airnya masih akan diuji terlebih dahulu, sebelum dilepas ke aliran yang mengarah ke Danau Matano dan Danau Mahalona.
Pada akhir Juli 2023 lalu, PT Vale memperlihatkan bagaimana petugas di LGS mengontrol air hasil proses penjernihan sebelum dilepaskan. Salah satu yang diuji adalah kandungan pH air.
Air yang diambil tersebut menunjukkan pH meter di angka delapan sampai sembilan. Pun tidak ada ada bau yang tercium, dan aliran air jernih seperti sumber air yang mengalir ke permukiman penduduk.
Padahal, sebelum memasuki kawasan pengolahan limbah tersebut, air yang masuk terlihat keruh karena membawa endapan lumpur. Namun, setelah melalui proses penyaringan dan penjernihan membuat air sisa tambang nikel menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan.
Teknologi LGS merupakan teknologi standar dalam penjernihan air untuk pengolahan bahan baku air minum. PT Vale menjadi perusahaan pertambangan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi LGS ini.
Nilai yang dikeluarkan PT Vale untuk teknologi ini mencapai 6,2 juta dolar AS atau sekitar Rp95 miliar. Namun nilai itu terasa wajar sebab sejak awal, misi PT Vale adalah mengubah kekayaan sumber daya alam untuk membawa kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan. Sesuai dengan UU pasal 33 ayat 3 1945.
“Kinerja PT Vale diukur dari people, profit dan planet. Planet sangat penting, salah satunya Danau Matano yang tetap terjaga karena merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Luwu Timur. Dan ketika Danau Matano tidak dijaga dengan baik dampaknya sangat luar biasa bagi masyarakat karena sumber air ada di Danau Matano,” kata CEO PT Vale Febriany Eddy.
Febriany menjelaskan, Danau Matano telah menjadi perhatian dunia karena merupakan danau purba yang memiliki endemik khusus yang hanya ada di Danau Matano. Apabila danau tersebut rusak maka endemik itu akan ikut rusak dan punah, sehingga dapat mempengaruhi keseluruhan ekosistem di dalamnya.
“Di sini keragaman hayati sangat tinggi makanya kami menambang sangat hati-hati dan memperhatikan keanekaragaman hayati di dalamnya,” imbuhnya.
Febriany menjelaskan, safety dan lingkungan jangan pernah dikorbankan demi mendapatkan keuntungan yang besar. Menurutnya, ketika salah satunya dikorbankan maka akan sulit kembali normal.
“Kita harus tetap mempertahankan komitmen terhadap safety dan lingkungan, keduanya jangan pernah ditinggalkan,” jelasnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News