Wawancara Eksklusif : 22 Hari Junaedi Jabat Pj Bupati Jeneponto, Apa Yang Sudah Dilakukan ?

SULSELSATU.com, JENEPONTO – Terhitung Senin 01 Januari 2024 yang lalu, Junaedi B resmi menjabat PJ Bupati Jeneponto usai dilantik oleh Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan Bahtiar Baharuddin pada Minggu (31/12/2023) lalu. Lantas apa yang sudah dilakukan di Jeneponto?
Memasuki hari ke-22 Junaedi menjabat PJ Bupati Jeneponto, Sulselsatu.com diberi kesempatan melakukan wawancara eksklusif diruang kerjanya, Senin (22/01/2024).
Kepala Biro (Karo) Perekonomian dan Administrasi Pembangunan (Ekbang) Setda Sulsel itu kepada suslelsatu.com menyampaikan bahwa selama ini dirinya baru sebatas keliling beberapa wilayah di Jeneponto untuk bertemu dengan masyarakat, ingin tahu apa yang menjadi keluhannya.
“Jadi sejak saya dilantik 31 desember 2023, saya pernah belum pernah berkeliling ke OPD. Saya kelilingi adalah wilayah kabupaten Jeneponto bertemu dengan masyarakat untuk sekedar memastikan apa keluhan dan harapan mereka. Karena saya tidak mau mengambil kebijakan itu tidak bisa berbasis keluhan masyarakat jadi saya banyak banyak bertemu masyarakat dan adek adek mahasiswa,”ujarnya.
Terkait dengan kinerja OPD, pihaknya mengaku sudah mempercayai mereka apa yang sudah menjadi tupoksinya.
“Saya kira kita ini dibirokrasi berbasis by sistem jadi saya percaya semua pimpinan OPD kalau mereka harus lakukan apa dan target apa yang harus mereka wujudkan. Makanya saya lebih memilih bersama dengan masyarakat,”kata Junaedi.
Sementara disektor pertanian, Junaedi mengaku mendapat keluhan dari masyarakat terkait ketersediaan pupuk. Namun demikian kata dia, pupuk adalah persoalan klasik namun tidak boleh disepelekan.
“Di Jeneponto kita ini sebagian masyarakat bekerja di sektor pertanian, tentunya harapan mereka adalah persoalan klasik seperti pupuk dan kemudian harga anjlok di musim panen dan itu masalah klasik,”katanya.
Ditanya mengenai solusi terkait ketersediaan pupuk, Junaedi mengaku akan membangun bisnis baru dengan melibatkan perbankan.
“Makanya saya mencoba membangun sebuah ekosistem bisnis baru di Jeneponto, bagaimana perbankan mengintervensi kegiatan kegiatan pertani. Jangan hanya kemudian perbankan hanya sekedar memberi kredit saja, tidak. Kalau saya harapkan ada edukasi juga ke petani,”katanya.
“Saya juga mencoba sebuah grand design ekosistem bisnis bagaimana bisa terbangun sebuah hubungannya tiga aktor ini, diantaranya pengusaha, petani dan lembaga perbankan. Jadi kami hanya memfasilitasi sehingga petani tidak lagi terjebak di mekanisme kerja yang tersandera oleh tengkulak atau rentenir tapi perbankan harus hadir mensupport kegiatan pertanian,”pungkasnya.
Sementara untuk sektor pendidikan, Junaedi mengaku bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) di Jeneponto sangat rendah di Sulawesi Selatan.
“Yang kedua Pendidikan yang berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan itu juga menjadi hal strategis. Kita di Jeneponto IPM sangat rendah dari 24 kabupaten kota namun walaupun hanya satu tahun penugasan saya di Jeneponto namun Insha allah ada embrio, inovasi atau terbosan yang bisa meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di dI Jeneponto,”katanya.
“Kemudian layanan kesehatan, karena sebagian warga kita adalah petani maka dia harus punya fisik yang kuat dan tahan dalam setiap perubahan iklan, makanya saya wanti wanti seluruh layanan kesehatan tidak boleh lagi ada warga Jeneponto yang tidak terlayani hanya karena persoalan administrasi. Layani dulu baru adminstrasi menyusul,”Tambahnya.
Kembali lagi terkait persoalan pupuk, pihaknya memerintahkan dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto untuk segerah melakukan koordinasi dengan kementerian pertanian.
“Terkait dengan pupuk, bahwa ini secara nasional ada pengurangan Kouta. Makanya kemarin kedatangan pak Mentan saya minta bahwa kembalikan Kouta pupuk seperti tahu sebelumnya karena saya sering kali bertemu masyarakat, itu data tahun sebelumnya pupuk cukup memadai. Tadi juga kita rapat dengan Forkopimda dan melibatkan dinas terkait, saya perintahkan dinas pertanian Minggu ini harus ada terkonfirmasi kementrian pertanian terkait dengan jatah tambahan pupuk di Jeneponto,”jelas Junaedi.
Laporan Kontributor: Dedi Jentak
Cek berita dan artikel yang lain di Google News