Menelusuri Jejak Sejarah Jeneponto: Dari Kejayaan Turatea Menuju Kabupaten yang Mandiri

Menelusuri Jejak Sejarah Jeneponto: Dari Kejayaan Turatea Menuju Kabupaten yang Mandiri

SULSELSATU.com, JENEPONTO – Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu daerah yang memiliki nilai historis tinggi di Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak sekitar 90 kilometer sebelah selatan Kota Makassar, daerah ini dulunya merupakan wilayah dari Kerajaan Turatea—sebuah kerajaan kuno yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Bugis-Makassar.

Kerajaan Turatea: Jejak Peradaban Masa Lampau

Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Turatea berdiri sejak abad ke-14 Masehi. Nama “Turatea” berasal dari bahasa Makassar yang berarti “orang bangsawan” atau “darah biru.” Kerajaan ini dikenal sebagai salah satu kerajaan yang disegani di wilayah selatan Sulawesi karena sistem pemerintahannya yang kuat dan adat istiadatnya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Kerajaan Turatea dipimpin oleh seorang raja yang disebut “Karaeng,” dan dalam struktur pemerintahan tradisionalnya, terdapat pula bangsawan-bangsawan yang berperan sebagai penasihat dan pelaksana adat. Wilayah kekuasaannya mencakup berbagai daerah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Jeneponto dan sebagian wilayah Takalar.

Selain dikenal karena kekuatan politiknya, Kerajaan Turatea juga menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan. Letaknya yang strategis di pesisir memudahkan interaksi dengan pedagang dari luar Sulawesi, termasuk dari Jawa, Maluku, hingga bangsa asing seperti Portugis dan Belanda.

Perlawanan terhadap Kolonialisme

Pada abad ke-17 hingga 20, seperti banyak kerajaan lain di Nusantara, Turatea mengalami tekanan dan intervensi dari pemerintah kolonial Belanda. Namun, masyarakat Turatea tidak tinggal diam. Berbagai perlawanan dilakukan, baik melalui diplomasi maupun perang terbuka.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan ini adalah Karaeng Turatea yang kala itu memimpin perjuangan melawan intervensi kolonial. Semangat perlawanan ini menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat Jeneponto hingga kini.

Pembentukan Kabupaten Jeneponto

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1960, Jeneponto resmi menjadi kabupaten tersendiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, Namun Sebelumnya, wilayah ini merupakan bagian dari Kabupaten Takalar. Dengan terbentuknya kabupaten baru, masyarakat Jeneponto mulai membangun struktur pemerintahan sendiri dan melanjutkan perjuangan dalam bentuk pembangunan daerah. Sehingga Hari jadi Jeneponto ditetapkan pada tanggal 1 Mei 1863, dan dikukuhkan dalam peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 1 Tahun 2003 tanggal 25 April 2003

Kabupaten Jeneponto kini terdiri dari 11 kecamatan, dengan Bontosunggu sebagai ibu kota kabupaten. Wilayah ini dikenal sebagai sentra pertanian, khususnya jagung, dan peternakan kuda. Tak heran jika Jeneponto mendapat julukan “Kota Kuda”, merujuk pada banyaknya kuda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun upacara adat.

Upaya Pelestarian Sejarah dan Budaya

Pemerintah Kabupaten Jeneponto kini aktif menggalakkan pelestarian sejarah dan budaya. Festival budaya, seperti Festival Turatea dan Pekan Budaya Jeneponto, rutin diselenggarakan untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah kepada generasi muda.

Selain itu, pemerintah daerah bekerja sama dengan lembaga kebudayaan dan akademisi untuk menggali dan mendokumentasikan situs-situs bersejarah seperti benteng peninggalan kerajaan, makam raja-raja Turatea, serta manuskrip kuno yang masih tersimpan oleh keluarga bangsawan.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan potensi sejarah dan budaya yang besar, Jeneponto memiliki peluang untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya dan sejarah.

Diharapkan juga ada destinasi wisata sejarah yang terintegrasi dengan wisata alam dan kuliner lokal.

Masyarakat Jeneponto kini hidup dalam semangat kemandirian, namun tidak melupakan akar sejarah mereka yang kuat. Dari kejayaan masa lalu sebagai kerajaan, kini Jeneponto bergerak maju sebagai kabupaten yang terus tumbuh dalam bingkai budaya dan sejarah yang lestari.

Kabupaten Jeneponto ini juga dikenal memiliki banyak potensi dari pariwisatanya. Seperti Pantai Bonto Ujung, Pantai Karsut, Boyong Water Park, Birtaria Kassi, Lembah Hijau Rumbia (LHR), Agrowisata Bontolojong, Air Terjun Bossolo, Pantai Tamarunang, Kawasan Bakau Tarowang, Kitesurfing Mallasoro’, Indonesia, Pacuan Kuda dan Kawasan Turbin PLTB.

Kini tepatnya Kamis 01 Mei 2025 , Kabupaten Jeneponto berusia 162 Tahun. (Red/Int)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Baca Juga