Pujasera Petahineando, Ruang Baru Pertumbuhan Ekonomi di Towuti

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Program Pengembangan Kawasan Perdesaan Mandiri (PKPM) PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat di Kecamatan Towuti, Luwu Timur.
Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera) Petahineando adalah salah inisitaif yang dihadirkan untuk membantu masyarakat menumbuhkan sumber penghidupan baru dengan memanfaatkan potensi alam yang ada di Kecamatan Towuti.
Pujasera Petahineando menampung 26 lapak dari lima desa yaitu Lioka, Baruga, Wawondula, Asuli, dan Langkea Raya, ditambah satu lapak utusan kecamatan.
Lokasi Pujasera Petahineando di simpang Jalan Ahmad Yani dan Jalan Jenderal Sudirman, Wowondula-Towuti menjadi daya tarik baru yang selalu ramai kendaraan dan pengunjung.
Head of External Relations PT Vale Endra Kusuma menjelaskan, pembangunan Pujasera Petahineando merupakan bagian dari upaya memperkuat simpul ekonomi lokal. Dirancang untuk membuka akses pasar dan memperkuat daya tarik kawasan.
“Dengan adanya Pujasera, pelaku usaha yang tadinya terpencar kini terkonsolidasi, lebih mudah dipromosikan, dan punya daya tarik wisata,” jelasnya.
Di dalamnya, terdapat produk turunan buah seperti Nanas yang dikembangkan warga seperti selai, dodol, keripik, asinan, hingga sirup.
Bahan baku nanas ini datang dari hasil pertanian masyarakat dari Kecamatan Wasuponda. Prosesnya juga mendapatkan sentuhan program pemberdayaan PT Vale untuk membantu masyarakat.
Upaya ini menandai pergeseran dari sekadar menjual bahan mentah menuju diversifikasi produk bernilai tambah.
“Setelah ada Pujasera, Towuti jadi semakin ramai. Banyak masyarakat bahkan dari luar wilayah ini yang datang ke sini untuk nongkrong,” tutur Frengky selaku Manajer Lapangan Bumdesma Moiko Morokono selaku pengelola.
Lebih dari sekadar pusat kuliner, Pujasera menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat solidaritas warga.
“Kami berharap Pujasera ini menjadi ikon Towuti. Ke depan semoga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, jadi tempat kumpul sekaligus sumber penghasilan yang menjanjikan,” tambah Frengky.
Manfaatnya terasa nyata di tingkat rumah tangga. Ayu Pratiwi, salah satu pedagang, mengaku kehidupannya berubah sejak berjualan di Pujasera.
“Alhamdulillah cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga kami. Saya di sini jualan dari pagi sampai malam hari. Kalau akhir pekan pasti ramai,” ujarnya.
Rangkaian inisiatif ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Luwu Timur bukanlah hasil kerja satu pihak, melainkan buah kolaborasi.
Dari lahan kritis yang berubah menjadi kebun nanas hingga Pujasera yang menghidupkan UMKM, semua lahir dari semangat gotong royong lintas pihak.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News