DPPPA Makassar Lakukan Trauma Healing untuk Bilkis, Korban Penculikan Usia 4 Tahun

SULSELSATU.com MAKASSAR – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar melalui tim Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) bersama psikolog melaksanakan proses trauma healing bagi Bilkis, anak perempuan berusia 4 tahun yang menjadi korban kasus penculikan beberapa waktu lalu.
Kepala DPPPA Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan kunjungan langsung ke rumah Bilkis untuk memberikan pendampingan psikologis tahap pertama.
“Jadi memang kemarin kami kunjungi rumah anak Bilkis, yang kasus penculikan itu. Saat kami datang, kondisi anak terlihat seperti biasa saja, tapi kami membawa tim Puspaga dan psikolog untuk melaksanakan trauma healing. Ini baru tahap pertama,” jelas Ita, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan bermain dan mewarnai, tanpa menekan anak dengan pertanyaan-pertanyaan berat.
“Anak usia empat tahun belum bisa kita bebani dengan banyak pertanyaan. Jadi kami gunakan metode bermain dan menggambar. Awalnya Bilkis menunjukkan gambar orang menangis dan takut, tapi setelah dua jam lebih kami mewarnai bersama, dia mulai merasa aman, tertawa, dan akhirnya menggambar wajah tersenyum,” ungkapnya.
Ita menambahkan, timnya berupaya menciptakan rasa aman bagi Bilkis agar trauma akibat penculikan dapat perlahan pulih.
“Awalnya dia tampak menarik diri, tapi setelah kami ajak bermain dan berinteraksi, dia mulai terbuka dan merasa nyaman. Bahkan sudah mau berpelukan dengan kami,” katanya.
Meski menunjukkan perkembangan positif, Ita menegaskan bahwa pendampingan masih akan terus berlanjut karena proses pemulihan psikologis anak tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Kami sudah janjian dengan orang tuanya untuk kunjungan lanjutan. Ini proses yang harus berkelanjutan, karena tidak mungkin selesai dalam satu kali pertemuan,” tambahnya.
Sementara itu, pihak keluarga mengakui bahwa pascakejadian, Bilkis terkadang menunjukkan perubahan emosi, seperti mudah marah atau bersikap kasar, yang menjadi perhatian tim pendamping dalam sesi berikutnya.
“Yang jelas sekarang Bilkis sudah mulai senang dan tidak takut lagi dengan kami. Itu kemajuan besar,” tutup Ita
Cek berita dan artikel yang lain di Google News