Transformasi Keberlanjutan PT Vale, Produksi Nikel Kadar Tinggi Berbasis Energi Bersih

SULSELSATU.com, MAKASSAR — PT Vale Indonesia menegaskan arah barunya dalam memperkuat industri nikel nasional di pasar global.
Seiring dengan komitmen terhadap lingkungan, PT Vale memfokuskan hilirisasi dan produksi pada nikel berkadar tinggi yang memenuhi standar keberlanjutan global atau yang akrab disebut right nickel.
Manager Corporate Finance and Investor Relations PT Vale Indonesia Andaru Brahmono Adi menjelaskan, sektor nikel Indonesia sedang memasuki fase transisi menuju produksi bernilai tambah.
Kondisi ini seiring meningkatnya kapasitas pemurnian di dalam negeri dan permintaan pasar global terhadap nikel.
“Pergerakan ekspor harus dilihat sejalan dengan penguatan kapasitas smelter dan pemenuhan kebutuhan nikel global. Ini bagian dari transformasi hilirisasi,” kata Andaru.
Andaru menjelaskan, PT Vale menegaskan fokus baru perusahaan adalah menghasilkan right nickel berkadar tinggi dengan jejak karbon rendah. Langkah ini sebagai bagian dari reposisi menuju industri hijau dan daya saing global.
PT Vale sebelumnya telah dikenal sebagai produsen utama nikel matte yang beroperasi di Sorowako, Luwu Timur.
Namun, saat ini, PT Vale juga memperkuat portofolio komersialnya dengan penjualan perdana bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.
Dalam produksi nikel, PT Vale menerapkan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Sorowako dan Pomalaa yang menggunakan infrastruktur yang kompleks, kendali proses yang presisi, serta manajemen residu yang ketat agar tetap memenuhi standar lingkungan dan keberlanjutan.
Kemudian, untuk di Morowali, PT Vale Indonesia mengandalkan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Proyek ini memungkinkan pengolahan nikel rendah karbon yang ramah lingkungan.
Komitmen tersebut juga dipaparkan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) yang merupakan bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) dalam sesi talk show “Emerging Technologies to Respond to Climate Change” di Paviliun Indonesia pada COP30 di Brasil.
PT Vale menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pemasok utama nikel global, namun sebagai pemimpin dalam pengembangan mineral kritis berkelanjutan.
Budiawansyah selaku Direktur dan Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale memaparkan ambisi iklim PT Vale secara lugas.
Ia menekankan, operasi PT Vale di Sorowako tengah menjalani transformasi teknologi signifikan untuk mencapai penurunan emisi absolut 33 persen pada 2030 serta penurunan intensitas karbon produk nikel sebesar 50 persen.
Target ambisius itu didorong oleh inovasi seperti heat recovery, pemanfaatan off-gas, optimalisasi ore dewatering, serta elektrifikasi infrastruktur pemrosesan.
“Melalui inovasi dan kolaborasi, termasuk kemitraan hilirisasi strategis dengan Huayou, kami berkomitmen menghadirkan nikel rendah karbon yang memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan global,” jelas Budiansyah.
Ia menambahkan, kemitraan PT Vale dan Huayou mencerminkan misi bersama untuk mempercepat pemrosesan material baterai yang lebih bersih dan efisien.
Melalui kemitraan strategis, jalur pemrosesan berbasis energi bersih, serta komitmen kuat terhadap keunggulan ESG, PT Vale berkontribusi pada transformasi ekosistem nikel, di mana inovasi mendorong pencapaian iklim dan Indonesia menjadi kekuatan strategis yang bertanggung jawab dalam transisi energi bersih dunia.
Sementara itu, David Wei selaku General Manager Huayou Indonesia menyoroti pentingnya kemitraan jangka panjang yang mengedepankan inovasi dan keberlanjutan.
“Keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan tolok ukur kredibilitas global. Kolaborasi kami dengan PT Vale menunjukkan bagaimana kemitraan industri dapat mendorong rantai pasok yang bertanggung jawab, pengurangan karbon, dan kesejahteraan bersama. Masa depan mineral kritis bergantung pada bagaimana kita tumbuh bersama—dengan integritas dan dampak nyata,” ujar David.
Komitmen terhadap Keberlanjutan dan Pertumbuhan Bersama
Sebagai tonggak penting dalam upaya keberlanjutan, PT Vale memperkuat kepemimpinannya di bidang keberlanjutan melalui tiga penghargaan bergengsi.
Perseroan meraih Lestari Awards 2025 atas inisiatif keanekaragaman hayati unggulannya, Kehati Lutim Bersinergi, yang diakui dalam kategori Ekosistem Berkelanjutan atas kontribusi jangka panjangnya terhadap konservasi dan pemulihan lingkungan di Luwu Timur.
PT Vale juga meraih Gold Star Award (Big Cap – Public Company) dalam ajang Investortrust ESG Awards 2025, sebagai pengakuan atas transparansi dan keunggulan dalam pengungkapan kinerja ESG (Environmental, Social, and Governance).
Selain itu, PT Vale memenangkan Penghargaan Subroto 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk kategori Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Terbaik melalui program unggulannya Matano Iniaku.
Program Matano Iniaku adalah sebuah model nasional yang diakui dalam rehabilitasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan transformasi masyarakat yang inklusif.
Selain menerima beberapa penghargaan, PT Vale juga mencatat tonggak penting dalam upaya keberlanjutannya, dengan mendapatkan peringkat risiko ESG terbaru sebesar 27,5 dari Sustainalytics. Peringkat ini menempatkan Perseroan dalam kategori Risiko ESG Sedang dan mencerminkan kemajuan yang signifikan dari klasifikasi sebelumnya.
Secara keseluruhan, pencapaian ini menegaskan komitmen jangka panjang PT Vale terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab, inklusi sosial, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
PT Vale tetap teguh pada tujuan utamanya yaitu “Kami hadir untuk meningkatkan kehidupan dan mengubah masa depan. Bersama.”. Dalam perjalanannya, PT Vale terus menjadikan keberlanjutan, keselamatan, dan kemitraan dengan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi pertumbuhannya, memastikan bahwa kemajuan hari ini mendukung generasi masa depan
Arah 2026: Efisiensi, Keandalan, dan Transformasi Berkelanjutan
Tahun mendatang akan menjadi fase penting ketika perusahaan membentuk baseline biaya baru, meningkatkan keandalan operasi, dan memperkuat disiplin di tiga area operasi utama yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Dengan ketidakpastian pasar yang masih terasa dan ekspektasi regulasi yang meningkat, fokus perusahaan memasuki 2026 sangat jelas: meningkatkan keandalan produksi, menjaga standar keberlanjutan tertinggi, mempercepat eksekusi proyek, dan menciptakan nilai bersama bagi Indonesia.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News