Di Tengah Gejolak Global, Indonesia Percaya Diri Jadi Lumbung Pangan Dunia

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ancaman krisis pangan global semakin nyata di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan lonjakan harga energi.
Sejumlah negara mulai menghadapi tekanan terhadap pasokan pangan, namun Indonesia dinilai masih berada dalam posisi relatif aman berkat penguatan sektor pertanian yang terus dilakukan pemerintah.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan memperburuk situasi.
Jika konflik berlanjut hingga akhir tahun, sekitar 45 juta orang berpotensi mengalami kerawanan pangan baru.
Padahal sebelumnya, sekitar 318 juta penduduk dunia sudah berada dalam kondisi serupa.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kondisi tersebut sebagai peringatan serius bagi seluruh negara untuk memperkuat ketahanan pangan masing-masing.
“Dunia saat ini menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujar Amran dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, hingga meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global, seperti yang pernah terjadi saat konflik Rusia dan Ukraina.
“Dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi merambat ke seluruh dunia melalui rantai pasok global,” katanya.
Menurutnya, negara yang bergantung pada impor pangan akan menjadi pihak paling rentan ketika krisis terjadi.
“Kalau terjadi krisis global, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” tegasnya.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru menunjukkan perkembangan positif dalam memperkuat kemandirian pangan. Pemerintah terus menjalankan berbagai program strategis, mulai dari peningkatan produksi hingga modernisasi sektor pertanian.
“Kita harus optimistis. Indonesia punya lahan, air, iklim dan sumber daya manusia. Kalau semua dimaksimalkan, swasembada bukan mimpi,” ujar Amran.
Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui dua pendekatan, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan melalui penggunaan benih unggul, mekanisasi, hingga peningkatan indeks pertanaman.
Sementara itu, ekstensifikasi dilakukan dengan membuka lahan baru melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa.
“Mandiri mutlak, swasembada mutlak. Produksi harus naik secara signifikan,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong deregulasi serta transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju modern sebagai langkah utama menjaga keberlanjutan produksi.
“Langkah kami ada dua, yakni deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional ke modern. Ini kunci untuk menjaga produksi di tengah tantangan global,” pungkasnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News