Latansa Bimbel dan KKN UINAM 78 Hadirkan Semarak Pekan Raya Anak Sholeh di Luwu

SULSELSATU.com, LUWU — Di antara riuh tawa anak-anak dan lantunan ayat suci yang menggema dari sudut-sudut masjid, sebuah gerakan kecil namun bermakna tengah tumbuh.
Latansa Bimbel bersama mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar Angkatan 78 posko 1 Desa Komba, sukses menghadirkan Pekan Raya Festival Anak Sholeh, sebuah ruang pembinaan karakter yang berlangsung selama sepekan di Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu (14 sampai dengan 19 April 2026).
Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan ikhtiar kolektif untuk menghadirkan pendidikan yang hidup yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan sosial dalam diri anak-anak sejak dini.
Penggagas kegiatan, Epi Aresih Tangan, selaku pengelola Latansa Bimbel sekaligus alumni UIN Alauddin Makassar tahun 2019, menuturkan bahwa festival ini lahir dari kesadaran sederhana namun mendalam: bahwa ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan harus kembali kepada masyarakat dalam bentuk nyata.
“Latansa Bimbel kami hadirkan bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai ruang pengabdian. Kegiatan ini adalah langkah kecil untuk membangun sinergi dalam mencerdaskan generasi, khususnya anak-anak di Larompong,” ujarnya.
Selama sepekan pelaksanaan di Desa Komba, masjid yang menjadi pusat kegiatan tidak pernah sepi. Anak-anak datang dengan semangat yang tumbuh dari rasa ingin belajar dan keberanian untuk tampil.
“Jumlah pendaftar 14 cabang lomba pada kegiatan ini yaitu 110 anak usia 4 sampai 14 tahun,” ujar Keisya Haliza mahasiswa prodi Perbaikan Mazhab dan Hukum yang sedang ber KKN desa Komba Kecamatan Larompong.
Lebih lanjut Keisya menjelaskan bahwa 110 peserta mengikuti berbagai perlombaan bernuansa islami dan akademis mulai dari hafalan surah pendek, adzan, mewarnai,cerdas cermat antar sekolah dan lomba Rengking 1 Mapel Matematika, IPA, IPS hingga penampilan bakat islami.
rekan Keisya Setiap, Rizki R. Saputra mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam menuturkan bahwa lomba dirancang dengan pendekatan yang ramah anak, menghadirkan suasana yang hangat dan membangun.
Tidak ada sekat antara belajar dan bermain keduanya berpadu dalam satu ruang yang menumbuhkan rasa percaya diri, kedisiplinan, serta semangat berkompetisi secara sehat.
“Kolaborasi dengan mahasiswa KKN UINAM Angkatan 78 menjadi fondasi kuat dalam menyukseskan kegiatan ini,” ujar Riski.
Andi Marlinawati selaku anggota BPD Desa Komba menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan ini. Ia menilai bahwa festival yang digelar selama sepekan tersebut mampu menghadirkan suasana yang berbeda di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini sangat positif. Selain meramaikan masjid, juga menanamkan semangat kompetitif dalam nuansa islami kepada anak-anak. Kami menyambut baik inisiatif dari Latansa Bimbel dan mahasiswa KKN yang telah menghidupkan ruang-ruang pendidikan di desa ini,” ungkapnya.
Lebih jauh, kegiatan ini juga mendapatkan apresiasi dari pihak pemerintahan setempat. Mereka melihat adanya hubungan yang harmonis antara alumni dan mahasiswa dalam menghadirkan dakwah melalui jalur pendidikan.
Menurut Suanto Kepala Desa Komba pada sambutannya di acara penutupan Pekan Raya Festival Anak Sholeh di Masjid Muhajirin Desa Komba “satu kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antar generasi dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat”.
“Kami sangat mengapresiasi hubungan baik antara alumni dan mahasiswa yang terjalin dengan sangat harmonis. Ini adalah bentuk dakwah yang nyata di bidang pendidikan, yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Di balik seluruh rangkaian kegiatan, terdapat pesan yang lebih dalam bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi tentang membangun manusia seutuhnya. Nilai-nilai seperti kerapian, tanggung jawab, keberanian, serta kecintaan terhadap ajaran agama menjadi bagian yang ditanamkan melalui setiap aktivitas.
Latansa Bimbel, sebagai wadah alumni, hadir dengan visi yang lebih luas: menjadikan pendidikan sebagai gerakan sosial yang berkelanjutan. Tidak hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus tumbuh menjadi ruang yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pekan Raya Festival Anak Sholeh pun menjadi bukti bahwa ketika alumni memilih untuk kembali, dan mahasiswa memilih untuk mengabdi, maka akan lahir ruang-ruang kebaikan yang menghidupkan harapan.
Di tengah sederhana, kegiatan ini menyimpan makna yang besar. Dari anak-anak yang belajar berani tampil, dari mahasiswa yang belajar melayani, hingga dari alumni yang memilih untuk pulang semuanya bertemu dalam satu titik yakni membangun generasi yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, pengabdian bukan tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi tentang kesediaannya untuk kembali. Membawa cahaya, seperti matahari yang setia terbenam di senja, lalu kembali di fajar menyapa langit dengan harapan yang tak pernah padam.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News