Pertama di Indonesia Timur, RS Mata JEC Orbita Makassar Hadirkan Presbyond untuk Usia 40 Tahun ke Atas

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Rumah Sakit (RS) Mata JEC Orbita Makassar menghadirkan teknologi Presbyond sebagai solusi koreksi penglihatan atau presbiopia pada usia 40 tahun ke atas. Layanan ini diklaim menjadi yang pertama di Indonesia Timur untuk penanganan gangguan penglihatan jarak dekat akibat faktor usia.
Presbyond Laser Blended Vision diluncurkan di RS Mata Makassar lantai 10, pada Selasa (9/6/2026). Presbyond Laser Blended Vision ini ditujukan bagi pasien berusia di atas 40 tahun yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap kacamata.
“Jadi untuk Presbyond laser blended vision ini adalah untuk mereka yang ingin mengurangi ketergantungan kacamata tapi berusia di atas 40 tahun,” kata Direktur RS Mata JEC Orbita Makassar, dr. Mirella Afifuddin kepada wartawan di sela-sela peluncuran alat tersebut.
dr. Mirella menjelaskan bahwa teknologi Presbyond tidak hanya membantu memperjelas penglihatan jarak jauh, tetapi juga penglihatan jarak dekat bagi pasien berusia di atas 40 tahun. Menurutnya, layanan Presbyond Laser yang dihadirkan di RS Mata JEC Orbita Makassar menjadi yang pertama di wilayah Indonesia Timur.
“Karena berusia diatas 40 tahun, bukan cuma penglihatan jauhnya akan dibantu agar lebih jelas, tapi juga penglihatan jarak dekat. Untuk layanan Presbyond Indonesia timur, kami adalah yang pertama memberikan layanan Presbyond Laser,” ujarnya.
dr. Mirella mengungkapkan RS Mata JEC Orbita Makassar mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kualitas layanan dalam setiap pelayanan yang diberikan kepada pasien. Dia juga menyebutkan bahwa dari sisi keunggulan, pihaknya menggunakan teknologi terbaru sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan layanan kesehatan mata yang terpercaya.
“Kalau dari segi keunggulan, kami menggunakan teknologi terbaru, sesuai dengan komitmen kami menerapkan teknologi terpercaya,” bebernya.
“Jadi kedepannya pun sesuai dengan komitmen kami untuk memberikan pelayanan berbasis teknologi yang memang sesuai dengan standar dan keamanan pasien,” tambahnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Mata JEC Orbita Makassar, dr Andi Akhmad Faisal menyampaikan bahwa tindakan Presbyond tidak membutuhkan waktu lama dalam prosesnya. Menurutnya, prosedur tersebut berlangsung singkat dan pemulihan pasien juga relatif cepat.
“Penyembuhan ini cukup cepat karena hanya dilakukan beberapa detik proses ini dan satu dua hari sudah merasa nyaman,” katanya.
“Apabila operasinya bagus pasien merasa senang karena sudah tidak bergantungan kepada kacamata,” sambungnya.
Dia menuturkan presbiopia tidak hanya sekadar kondisi rabun dekat seperti yang biasa tercantum pada resep kacamata, melainkan merupakan bagian dari proses alami penuaan pada mata.
Menurutnya, seiring bertambahnya usia, lensa alami mata akan mengalami penurunan kemampuan akomodasi sehingga seseorang mulai membutuhkan bantuan untuk melihat objek jarak dekat.
“Seiring bertambahnya usia, lensa alami mata mengalami penurunan kemampuan akomodasi, sehingga seseorang mulai membutuhkan bantuan untuk melihat dekat. Presbyond tidak menghentikan proses penuaan tersebut, tetapi dirancang untuk membantu mengompensasi perubahan itu dengan memperluas rentang fokus penglihatan,” jelasnya.
Sebagai informasi, presbiopia merupakan kondisi ketika kemampuan mata untuk memfokuskan penglihatan pada jarak dekat mulai menurun, yang umumnya dialami setelah usia 40 tahun.
Kondisi ini kerap membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang nyaman tanpa bantuan kacamata baca, seperti membaca pesan di ponsel, melihat menu makanan, bekerja di depan laptop, hingga membaca dokumen.
Secara global, presbiopia merupakan salah satu masalah kesehatan mata yang sangat luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa presbiopia menjadi penyebab utama gangguan penglihatan dekat yang belum tertangani, dengan sekitar 826 juta orang terdampak di dunia.
Sementara itu, studi global yang dipublikasikan dalam jurnal Ophthalmology memperkirakan terdapat sekitar 1,8 miliar orang dengan presbiopia pada tahun 2015. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2,1 miliar pada tahun 2030. (*)
Cek berita dan artikel yang lain di Google News