Perbankan Sulsel Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global, Aset Tumbuh 5,29 Persen

Perbankan Sulsel Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global, Aset Tumbuh 5,29 Persen

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar) menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga April 2026 tetap stabil meski dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi global dan domestik.

Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin mengatakan, stabilitas tersebut tercermin dari kinerja sektor perbankan, pasar modal, hingga Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang masih menunjukkan pertumbuhan positif.

“Kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga April 2026 tetap terjaga dengan baik. Fungsi intermediasi perbankan berjalan, penghimpunan dana masyarakat dan penyaluran kredit terus tumbuh, sementara partisipasi masyarakat di pasar modal juga meningkat,” ujar Muchlasin.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi perkembangan geopolitik, inflasi global, serta volatilitas pasar keuangan.

Dari sisi perbankan, total aset perbankan di Sulsel tercatat mencapai Rp215,79 triliun atau tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,23 persen menjadi Rp149,46 triliun. Penghimpunan dana masyarakat masih didominasi tabungan dengan porsi 60,72 persen, disusul deposito sebesar 22,79 persen dan giro 16,50 persen.

“Pertumbuhan DPK menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan masih kuat. Ini menjadi indikator penting bahwa masyarakat tetap menjadikan perbankan sebagai tempat utama dalam mengelola dan menyimpan dana,” kata Muchlasin.

Di sisi penyaluran dana, kredit perbankan tumbuh 5,46 persen menjadi Rp174,60 triliun.

Kredit produktif memiliki porsi 52,36 persen dari total kredit dan tumbuh 2,64 persen, sedangkan kredit konsumtif tumbuh lebih tinggi sebesar 8,74 persen dengan pangsa 47,64 persen.

Berdasarkan sektor ekonomi, kredit produktif terbesar masih disalurkan ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi mencapai 21,86 persen dari total kredit yang diberikan.

Fungsi intermediasi perbankan juga tetap berjalan optimal. Hal ini tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada pada level 116,82 persen.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) masih terjaga di level 3,74 persen.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan di Sulawesi Selatan tetap mampu menjalankan fungsi pembiayaan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang baik,” jelas Muchlasin.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Berita Terkait
Baca Juga