KKN-T Zero Waste Unhas Bangun Maggot Hub di Kelurahan Pai, Dorong Pengelolaan Sampah Organik Berkelanjutan

KKN-T Zero Waste Unhas Bangun Maggot Hub di Kelurahan Pai, Dorong Pengelolaan Sampah Organik Berkelanjutan

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Zero Waste Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja bertajuk “Maggot Hub: Gerakan Zero Waste melalui Pemanfaatan Maggot BSF sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Organik Berkelanjutan” di Baruga BTN Kodam VII Wirabuana, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Minggu (19/7/2026). Program tersebut menjadi upaya mendorong pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah rumah tangga.

Melalui pembangunan Maggot Hub, mahasiswa memperkenalkan sistem pengolahan sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens). Teknologi ini dinilai mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menghasilkan produk turunan berupa maggot sebagai pakan ternak dan ikan serta kasgot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Seminar pelaksanaan program kerja tersebut dihadiri Lurah Pai Nur Ikhwan, S.S.T.P., warga Kelurahan Pai, serta Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kecamatan Biringkanaya Andi Achiruddin, S.Sos., M.M., yang hadir mewakili Camat Biringkanaya.

Dalam sambutannya, Andi Achiruddin mengatakan program yang diinisiasi mahasiswa KKN-T Unhas memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam membangun kesadaran memilah sampah sejak dari rumah tangga sebagai langkah awal mewujudkan lingkungan yang lebih bersih.

“Zero waste bukan berarti nol sampah, tapi bagaimana sampah terolah dengan baik,” ujarnya.

Konsep Maggot Hub dikembangkan melalui pembangunan kandang budi daya larva BSF yang terintegrasi dengan pengelolaan sampah berbasis Bank Sampah Unit (BSU). Larva BSF dipilih karena memiliki kemampuan mengurai sampah organik secara cepat dan efisien pada fase aktifnya selama sekitar 14 hingga 18 hari.

Berbeda dengan lalat rumah, lalat BSF dewasa tidak mengonsumsi makanan manusia maupun sampah sehingga tidak menjadi vektor penyebar penyakit. Karakteristik tersebut menjadikan serangga ini sebagai salah satu alternatif ramah lingkungan dalam mendukung sistem pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan.

Proses pengolahan dimulai dari pemilahan dan pencacahan sampah organik sebelum diberikan sebagai pakan larva BSF. Sampah kemudian diurai dengan bantuan enzim dan mikroorganisme di dalam sistem pencernaan larva hingga menghasilkan biomassa maggot dan kasgot. Kedua produk tersebut memiliki nilai guna dan nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pakan ikan, maupun pupuk organik.

Selain mempercepat proses penguraian dibandingkan metode konvensional, sistem tersebut mampu menekan volume sampah organik secara signifikan. Bagi Bank Sampah Unit, keberadaan Maggot Hub juga membuka peluang usaha melalui penjualan telur BSF, maggot, dan kasgot sehingga mendukung keberlanjutan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Zero Waste Gelombang 116 Universitas Hasanuddin berharap masyarakat tidak lagi memandang sampah organik sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi dalam membangun budaya zero waste yang berkelanjutan di Kota Makassar.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Baca Juga