Peneliti Taiwan Telusuri Jejak Pelaut Bugis-Makassar Lewat Arsip Pemprov Sulsel

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Jejak pelayaran orang Bugis-Makassar yang pernah menghubungkan Nusantara dengan berbagai belahan dunia ternyata menyimpan daya tarik bagi kalangan akademisi internasional.
Hal itu terlihat dari kunjungan Peneliti National Tsing Hua University Taiwan, Fabio Yuchung Lee ke UPT Jasa Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu, 22 Juli 2026.
Ia disambut oleh pejabat administrator, pengawas, Arsiparis pustakawan DPK dan Kepala Prodi Magister Sejarah Unhas, Amrullah Amir.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda akademik biasa. Fabio datang untuk menelusuri berbagai arsip bersejarah yang diyakini dapat membuka tabir hubungan maritim Sulawesi Selatan dengan kawasan Asia Tenggara hingga dunia Hispanik pada abad ke-16 hingga ke-19.
Penelitian yang sedang ia lakukan berfokus pada sejarah maritim Sulawesi Selatan, diaspora Bugis-Makassar, jaringan perdagangan Asia Tenggara, serta hubungan historis antara Sulawesi Selatan, Taiwan, Filipina, dan wilayah kekuasaan Spanyol pada masa lampau.
“Penelitian saya mengkaji sejarah maritim Sulawesi Selatan, diaspora Bugis-Makassar, jaringan perdagangan Asia Tenggara, serta hubungan historis antara Sulawesi Selatan, Taiwan, Filipina, dan dunia Hispanik dari abad ke-16 hingga abad ke-19,” ujar Fabio.
Untuk mendukung penelitiannya, Fabio mengajukan izin mempelajari berbagai koleksi arsip yang tersimpan di UPT Jasa Kearsipan Pemprov Sulsel.
Ia juga berharap dapat mendokumentasikan sejumlah arsip melalui pemotretan maupun digitalisasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Arsip yang menjadi fokus penelitiannya mencakup dokumen mengenai Kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya, silsilah keluarga kerajaan, naskah kuno, peta, foto, arsip kolonial, hingga dokumen yang berkaitan dengan perdagangan maritim, pelayaran, komunitas Tionghoa, dan hubungan internasional.
Fabio menegaskan seluruh arsip yang dipelajari hanya akan digunakan untuk kepentingan akademik, publikasi ilmiah, dan pendidikan.
“Saya mematuhi seluruh peraturan mengenai akses arsip, reproduksi, hak cipta, dan tata cara sitasi yang ditetapkan oleh institusi,” katanya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Muh Jufri mengatakan kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa koleksi arsip daerah memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan mampu menarik perhatian peneliti dari berbagai negara.
Menurutnya, arsip yang tersimpan di lembaga kearsipan daerah bukan hanya menjadi sumber informasi bagi peneliti dalam negeri, tetapi juga memiliki arti penting bagi penelitian sejarah dunia.
“Fabio datang untuk menelusuri sejarah kemaritiman Bugis-Makassar, diaspora Bugis-Makassar, budaya maritim di Kerajaan Bone, Luwu, Bulukumba, hingga tradisi pembuatan kapal Pinisi. Ini menunjukkan arsip yang kita miliki memiliki nilai ilmiah dan historis yang sangat tinggi,” ujar Jufri.
Ia menjelaskan salah satu hasil kerja sama yang akan dibangun adalah penyerahan sebuah atlas mengenai jaringan pelayaran dan perdagangan saudagar Bugis-Makassar.
Atlas tersebut berisi hasil pengembangan data sejarah yang selama ini tersimpan di Belanda dan dikaji di National Tsing Hua University, Taiwan.
Nantinya, atlas itu akan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menjadi bagian dari koleksi arsip daerah.
Menurut Jufri, kerja sama tersebut bukan hanya memperkaya koleksi kearsipan daerah, tetapi juga membuka peluang penelitian lanjutan mengenai sejarah maritim Sulawesi Selatan yang selama ini tersebar di berbagai negara.
Ia berharap semakin banyak peneliti internasional yang memanfaatkan arsip Sulawesi Selatan sebagai rujukan ilmiah sehingga sejarah dan budaya Bugis-Makassar semakin dikenal di tingkat global.
“Kehadiran para peneliti ini semakin menegaskan pentingnya menjaga dan mengelola arsip dengan baik. Arsip bukan sekadar dokumen, melainkan warisan sejarah dan budaya bangsa,” katanya.
Jufri menilai arsip memiliki peran penting dalam menjaga identitas suatu daerah. Melalui arsip, generasi masa kini dapat memahami perjalanan sejarah, nilai budaya, hingga hubungan Sulawesi Selatan dengan bangsa-bangsa lain yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu.
“Tanpa arsip kita akan kehilangan identitas, jati diri kebangsaan, dan keterhubungan dengan masa depan. Sebab masa depan dibangun berdasarkan pemahaman terhadap sejarah dan pengalaman masa lalu,” sebutnya.
Kepala UPT Jasa Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj Mustaana menambahkan kunjungan peneliti dari National Tsing Hua University, Taiwan menjadi bukti bahwa khazanah arsip yang dikelola Pemprov Sulsel memiliki nilai sejarah dan akademik yang diakui hingga tingkat internasional.
Penelitian tersebut diharapkan semakin memperkuat kajian mengenai sejarah maritim, peradaban Bugis-Makassar, serta jaringan perdagangan Sulawesi Selatan dalam perspektif global.
“Kami berkomitmen memberikan layanan akses arsip sesuai ketentuan yang berlaku, sekaligus mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber ilmu pengetahuan, penelitian dan pelestarian memori kolektif daerah. Semakin banyak arsip dimanfaatkan untuk kepentingan akademik, semakin besar pula kontribusinya dalam menjaga dan memperkenalkan sejarah Sulawesi Selatan kepada dunia,” ujar Mustaana.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News