CEO Haka Auto: Mobilitas Masa Depan Sudah Dimulai, Kendaraan Listrik Kian Diterima Masyarakat

CEO Haka Auto: Mobilitas Masa Depan Sudah Dimulai, Kendaraan Listrik Kian Diterima Masyarakat

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Transformasi menuju era mobilitas berkelanjutan di Indonesia dinilai bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah berlangsung seiring meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Meski penetrasi pasar masih didominasi wilayah Pulau Jawa, tren pertumbuhan kendaraan listrik dinilai terus menunjukkan prospek yang menjanjikan, termasuk di kawasan Indonesia Timur.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin, dalam Talkshow BYD bertajuk “Mobilitas Masa Depan Dimulai Hari Ini” yang dirangkaikan dengan Press Conference Driving the Future with Haka Auto di Atrium Trans Studio Makassar, Jalan Metro Tanjung Bunga, Minggu (26/7/2026).

Ia mengatakan perkembangan kendaraan listrik dalam dua tahun terakhir menunjukkan perubahan besar pada industri otomotif nasional. Menurutnya, masyarakat kini mulai menjadikan kendaraan listrik sebagai salah satu pilihan utama saat membeli mobil baru.

“Mobilitas masa depan sebenarnya sudah dimulai hari ini. Masyarakat semakin terbuka menggunakan kendaraan listrik karena mereka mulai memahami manfaatnya, baik dari sisi efisiensi, biaya operasional, maupun dampaknya terhadap lingkungan,” ujar Hariyadi.

Ia mengungkapkan, penetrasi kendaraan listrik nasional hingga kini masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek yang menyumbang sekitar 67 persen dari total penjualan EV nasional.

Sementara itu, di Pulau Jawa secara keseluruhan, penetrasi kendaraan listrik telah mencapai kisaran 20 persen. Sebaliknya, di luar Pulau Jawa angkanya masih berada di kisaran 5 hingga 6 persen, sehingga kontribusi penjualan kendaraan listrik, termasuk produk BYD, masih relatif kecil.

“Karena pasar Jawa sangat besar, rata-rata nasional terlihat tinggi. Padahal kalau di luar Jawa, penetrasinya masih sekitar lima persen. Otomatis penjualan BYD juga mengikuti kondisi tersebut,” jelasnya.

Menurut Hariyadi, rendahnya adopsi kendaraan listrik di luar Jawa bukan disebabkan minimnya minat masyarakat, melainkan masih terbatasnya infrastruktur pengisian daya.

Karena itu, pihaknya berharap pengembangan jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dapat dipercepat agar masyarakat semakin percaya diri beralih menggunakan kendaraan listrik.

Ia mengungkapkan BYD saat ini tengah menyiapkan pengembangan teknologi Flash Charging yang akan mulai diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.

Teknologi tersebut, kata dia, memiliki kemampuan pengisian daya hingga 1.500 kW atau 1,5 megawatt, jauh melampaui teknologi pengisian cepat yang saat ini umumnya berada di kisaran 100 kW.

“Kalau teknologi sekarang sekitar 100 kW, Flash Charging milik BYD sudah mencapai 1.500 kW. Dengan kemampuan itu, pengisian baterai hanya membutuhkan hitungan menit. Ini akan menjadi lompatan besar dalam perkembangan kendaraan listrik,” katanya.

Hariyadi mengatakan pembangunan infrastruktur pengisian daya akan berjalan seiring bertambahnya populasi kendaraan listrik.

Menurutnya, ketika jumlah pengguna terus meningkat, pelaku usaha juga akan melihat pembangunan SPKLU sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

“Kalau pengguna mobil listrik semakin banyak, tanpa diminta pun para pengusaha akan membangun SPKLU karena secara bisnis ini menguntungkan,” ujarnya.

Selain mendorong pengembangan kendaraan listrik murni, BYD juga memperkenalkan teknologi Dual Mode atau Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang dinilai dapat menjadi solusi sementara bagi daerah yang infrastruktur pengisian dayanya belum memadai.

Hariyadi menjelaskan teknologi tersebut berbeda dengan sistem hybrid konvensional karena kendaraan tetap dapat diisi ulang menggunakan listrik, sementara mesin bensin hanya berfungsi sebagai pendukung ketika diperlukan.

“Konsepnya sebenarnya mobil listrik yang ditambahkan mesin bensin sebagai cadangan. Jadi pengguna tetap merasakan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik, tetapi tidak khawatir ketika belum tersedia charging station,” katanya.

Ia menjelaskan sistem Dual Mode memanfaatkan keunggulan masing-masing sumber tenaga.

Saat kendaraan melaju di kemacetan atau kecepatan rendah, motor listrik menjadi penggerak utama sehingga konsumsi energi lebih hemat. Sebaliknya, saat melaju dengan kecepatan tinggi seperti di jalan tol, mesin bensin bekerja sehingga efisiensi tetap terjaga.

“Dengan kombinasi itu kendaraan bisa menempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam satu kali pengisian listrik dan bahan bakar. Jadi pengguna memperoleh efisiensi dari dua teknologi sekaligus,” jelasnya.

Hariyadi juga menilai semakin banyak masyarakat yang mulai menerima kendaraan listrik karena menawarkan berbagai keuntungan dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.

Selain biaya energi yang lebih murah, kendaraan listrik memiliki komponen yang lebih sedikit sehingga biaya perawatannya jauh lebih rendah.

Di sisi lain, insentif perpajakan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

“Kendaraan listrik menawarkan biaya operasional yang lebih hemat. Komponennya lebih sedikit sehingga biaya servis juga jauh lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar minyak. Pajaknya pun lebih ringan,” ujarnya.

Ia menambahkan penggunaan kendaraan listrik juga memiliki dampak strategis bagi Indonesia karena mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

“Listrik kita diproduksi sendiri, baik dari pembangkit tenaga air, angin, batu bara maupun sumber energi lainnya. Artinya kita tidak lagi terlalu bergantung pada impor bahan bakar dari luar negeri,” katanya.

Menurut Hariyadi, semakin banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik, semakin besar pula potensi penghematan subsidi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, penggunaan kendaraan listrik juga berkontribusi dalam menekan pencemaran udara karena sektor transportasi selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.

“Menggunakan mobil listrik berarti ikut mengurangi polusi udara. Transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar, sehingga semakin banyak kendaraan listrik digunakan, kualitas udara juga akan semakin baik,” ujarnya.

Meski demikian, Hariyadi menegaskan masyarakat tidak perlu terburu-buru meninggalkan kendaraan berbahan bakar minyak.

Menurutnya, saat ini konsumen justru memiliki lebih banyak pilihan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

“Kita sekarang punya alternatif. Ada mobil listrik, ada Dual Mode, ada kendaraan konvensional. Semua teknologi punya masanya. Yang terpenting masyarakat memiliki pilihan terbaik sesuai kebutuhan mereka,” pungkasnya.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Berita Terkait
Baca Juga