PT Vale Hidupkan Warisan Budaya Anyaman Teduhu, dari Luwu Timur ke Panggung Nasional

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bagi PT Vale Indonesia bukan sekadar menjalankan program tanggung jawab sosial. Lebih dari itu, langkah ini merupakan upaya menjaga warisan budaya lokal sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Komitmen itu ditunjukkan PT Vale dengan menampilkan salah satu warisan budaya Anyaman Teduhu dari Luwu Timur di acara nasional. Terbaru, PT Vale membawa Anyaman Teduhu dalam peringatan Hari Ulang Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2026.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, PT Vale tidak hanya memamerkan produk UMKM binaan, tetapi juga menggelar pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha, mulai dari pemasaran, proses produksi, hingga penguatan merek.
Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia Endra Kusuma mengatakan, pengembangan UMKM merupakan salah satu program utama pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Vale di wilayah lingkar tambang.
“Kami ingin UMKM binaan tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan mandiri secara ekonomi. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga menyentuh aspek manajemen usaha, pemasaran, hingga bantuan sarana produksi,” kata Endra.
Menurut Endra, PT Vale saat ini membina sekitar 150 UMKM yang tersebar di wilayah operasional perusahaan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Sebagian besar bergerak di sektor makanan dan minuman, sementara sekitar 10 persen merupakan pelaku usaha kerajinan tangan.
Meski jumlah pelaku kerajinan belum sebanyak sektor kuliner, justru kelompok inilah yang mendapat perhatian khusus karena memiliki nilai budaya yang kuat.
Salah satu yang terus didorong dan dikembangkan adalah anyaman Teduhu, kerajinan khas Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.
Dahulu, kerajinan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah perajinnya terus berkurang karena semakin sedikit generasi muda yang tertarik melanjutkan tradisi tersebut.
Endra mengatakan, PT Vale berupaya membangkitkan kembali kerajinan tersebut melalui pelatihan bagi generasi muda agar keterampilan menganyam tidak hilang ditelan zaman.
“Ini merupakan salah satu kearifan lokal yang menjadi ciri khas daerah kami. Kami ingin regenerasi tetap berjalan sehingga warisan budaya ini tidak terputus,” ujarnya.
Tak hanya membina proses produksi, PT Vale juga membuka akses pasar bagi produk UMKM. Perusahaan menghadirkan UMKM Gallery sebagai etalase sekaligus tempat penjualan produk binaan.
Produk-produk lokal tersebut juga rutin dijadikan cendera mata resmi perusahaan bagi tamu maupun mitra kerja, serta dipromosikan dalam berbagai pameran dan kegiatan di tingkat daerah maupun nasional.
Menurut Endra, fokus utama perusahaan bukan mengejar banyaknya UMKM yang dibina, melainkan memastikan usaha yang telah berkembang mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Yang paling penting bukan kuantitas, tetapi kualitas dan keberlanjutan usahanya. Banyak UMKM bermunculan, tetapi tidak sedikit yang akhirnya berhenti. Kami ingin memastikan mereka bisa terus berkembang,” katanya.
Selain aktif membina pelaku usaha, PT Vale juga menjalin kolaborasi dengan Dekranas di tingkat kabupaten maupun provinsi melalui berbagai pelatihan dan kegiatan pendampingan.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berharap UMKM lokal tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat di sekitar wilayah tambang, tetapi juga menjadi duta yang memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi ke panggung yang lebih luas.
Salah seorang pengrajin anyaman Teduhu, Yulianti mengatakan, kerajinan tersebut sebelumnya didominasi oleh perajin berusia di atas 45 tahun. Bahkan, sebagian di antaranya kini sudah tidak lagi mampu berproduksi sehingga regenerasi menjadi kebutuhan mendesak.
“Hal itu menjadi salah satu dorongan bagi saya karena saya merupakan generasi ketiga dari keluarga pengrajin. Kami tidak ingin anyaman Teduhu berhenti di generasi kami,” ujar Yulianti sebagai Ketua Kelompok Anyaman Teduhu.
Melalui pelatihan regenerasi yang didukung PT Vale Indonesia, kini telah lahir sekitar 10 pengrajin muda berusia di bawah 25 tahun. Mereka dipersiapkan untuk menjadi penerus sekaligus menjaga keberlangsungan kerajinan khas Desa Nuha.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menarik minat generasi muda, khususnya Generasi Z, agar kembali mengenal dan mencintai budaya lokal.
“Kami berharap adik-adik yang telah mengikuti pelatihan bisa menjadi regenerasi baru sehingga anyaman Teduhu tetap lestari di Desa Nuha,” katanya.
Selain melakukan pembinaan kepada pengrajin, PT Vale juga membuka akses promosi bagi produk-produk UMKM binaan melalui berbagai pameran, galeri UMKM, hingga berbagai kegiatan di tingkat regional maupun nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat di wilayah operasional sekaligus memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas.
Keunikan anyaman Teduhu juga terletak pada bahan bakunya. Teduhu merupakan sejenis pakis hutan yang dalam bahasa Nuha berarti “tertusuk”, merujuk pada batangnya yang keras dan tajam ketika patah.
Sebelum menjadi produk kerajinan, batang teduhu harus melalui beberapa tahapan pengerjaan. Setelah dipanen, bahan tersebut harus segera dikupas melalui tiga tahap, dilanjutkan proses penghalusan hingga siap dianyam.
Dalam proses pembuatannya, pengrajin juga memanfaatkan rotan sebagai rangka untuk membentuk berbagai produk.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, PT Vale berharap anyaman Teduhu tidak hanya menjadi sumber penghasilan masyarakat, tetapi juga tetap hidup sebagai identitas budaya Luwu Timur yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News