300 Petani Sidrap Dibekali Teknologi Smart Farming, Kolaborasi Australia-Unhas Dukung Pertanian Modern

300 Petani Sidrap Dibekali Teknologi Smart Farming, Kolaborasi Australia-Unhas Dukung Pertanian Modern

SULSELSATU.com, SIDRAP – Sebanyak 300 petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mengikuti pelatihan smart Farming sebagai upaya memperkenalkan teknologi digital dalam sektor pertanian.

Program ini diharapkan dapat membantu petani meningkatkan hasil produksi sekaligus lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim.

Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi peneliti dari University of Newcastle Australia, Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Kegiatan berlangsung selama empat hari dan menjadi bagian dari rangkaian pengembangan pertanian modern di Sulawesi Selatan.

Salah seorang pemateri, Dr. Shaleeza Sohail, mengatakan teknologi digital kini menjadi salah satu solusi yang dapat membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin dirasakan di berbagai wilayah.

“Kehadiran kami di Sidrap yang pertama ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan seluruh jajaran yang telah memfasilitasi pengadaan workshop. Jadi kami mengajarkan petani Sidrap untuk menggunakan smart farming bagi ketahanan iklim,” ujar Dr. Shaleeza saat menghadiri Panen Perdana Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae, Kamis (6/8/2026).

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai perangkat digital yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas budidaya tanaman. Para petani tidak hanya menerima materi, tetapi juga mempraktikkan langsung penggunaan teknologi tersebut.

“Alat yang saya pegang saat ini adalah alat yang kita pergunakan di pelatihan. Sudah berjalan satu hari kemarin, hari ini sebenarnya sedang berjalan di Kantor Bapak Bupati,” katanya.

Dr. Shaleeza menjelaskan, meski dirinya dan tim berasal dari bidang ilmu komputer, mereka berupaya menghadirkan solusi teknologi yang dapat diaplikasikan secara praktis di sektor pertanian melalui pemanfaatan perangkat keras (hardware) dan sistem digital.

“Karena itu kami berdua adalah dosen dan peneliti dari bidang komputer sains. Kami tidak memiliki pengetahuan pertanian, tetapi kami memahami bagaimana bekerja dengan hardware,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi bersama Universitas Hasanuddin bertujuan menjembatani kebutuhan petani dengan perkembangan teknologi sehingga penerapannya benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Harapannya teknologi ini bisa dipakai untuk meningkatkan produktivitas panen ataupun tanam, khususnya di Kabupaten Sidrap,” jelasnya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan perangkat smart farming, cara pengoperasian teknologi di lahan pertanian, hingga pemanfaatannya untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mendukung ketahanan terhadap perubahan iklim.

Menurut Dr. Shaleeza, program di Sidrap menjadi langkah awal untuk memperluas penggunaan teknologi pertanian modern ke daerah lain apabila hasilnya terbukti memberikan manfaat bagi petani.

“Jika kesadaran telah tumbuh bahwa teknologi bisa membantu meningkatkan produktivitas tanaman, maka kita akan menduplikasi dan mereplikasi pendekatan teknologi ini ke daerah lain. Ini masih tahap awal, tetapi semuanya akan dimulai dengan pengetahuan,” tuturnya.

Program di Sidrap merupakan bagian dari agenda selama 10 hari tim peneliti di Sulawesi Selatan. Sebelum turun ke lapangan, mereka mengikuti seminar internasional di Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan kegiatan pelatihan bagi petani di Sidrap sebelum kembali ke Makassar.

“Kami mengucapkan terima kasih kembali kepada Bapak Bupati dan seluruh jajaran serta semua yang telah memfasilitasi keberadaan dan kedatangan kami di sini untuk melatih sahabat kami para petani Sidrap. Semoga ada manfaatnya,” tutup Dr. Shaleeza.

Pemerintah Kabupaten Sidrap menilai pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Selain meningkatkan produktivitas, penerapan teknologi digital juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah di masa mendatang.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Berita Terkait
Baca Juga