Idrus Marham Luncurkan Buku tentang NU dan Tantangan Peradaban

SULSELSATU.com, JAKARTA – Mantan Menteri Sosial Idrus Marham memperkenalkan buku terbarunya berjudul Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Peluncuran buku yang digelar Laskar Ansor bersama Bina Ruhani Nusantara itu menjadi ruang bagi Idrus untuk menyampaikan pandangannya mengenai masa depan Nahdlatul Ulama (NU) di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman yang kian cepat.
Dalam buku tersebut, Idrus membahas posisi strategis NU, tidak hanya dalam menjaga kehidupan keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga dalam merespons persoalan peradaban yang terus berkembang.
Idrus mengatakan, gagasan dalam buku itu berangkat dari kegelisahannya melihat berbagai perubahan yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan umat.
Menurutnya, dinamika zaman membutuhkan organisasi keagamaan seperti NU untuk terus melakukan refleksi dan mengambil peran lebih besar.
“Buku ini merupakan refleksi tentang bagaimana Nahdlatul Ulama dapat terus memainkan peran strategis dalam menghadapi tantangan zaman. NU memiliki modal sejarah, tradisi keilmuan, dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang sangat relevan untuk menjawab persoalan masa depan,” ujar Idrus.
Ia menyebut tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin beragam. Kemajuan teknologi, perubahan pola interaksi sosial, hingga pergeseran nilai menjadi bagian dari dinamika yang perlu diantisipasi.
Dalam kondisi tersebut, Idrus menilai NU perlu mengambil posisi yang lebih aktif. Menurut dia, NU tidak cukup hanya beradaptasi terhadap perubahan, tetapi juga harus mampu ikut menentukan arah perubahan agar tetap sejalan dengan nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan kemaslahatan.
“Yang kita butuhkan bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi perubahan, tetapi bagaimana NU dapat menjadi bagian penting dalam menentukan arah peradaban. Nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan harus terus dikembangkan,” katanya.
Idrus berharap buku tersebut dapat menjadi bahan diskusi bagi berbagai kalangan, mulai dari kader NU, generasi muda, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat umum.
Menurutnya, buku itu tidak semata-mata ditujukan sebagai karya akademik atau dokumentasi pemikiran, tetapi diharapkan mampu membuka percakapan yang lebih luas mengenai masa depan NU dan Indonesia.
“Semoga buku ini tidak berhenti sebagai sebuah karya tulis, tetapi menjadi bahan pemikiran dan percakapan bersama tentang bagaimana kita merawat peradaban dan membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Peluncuran buku tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali pengalaman panjang NU dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan.
Tradisi keilmuan serta gagasan Islam moderat dinilai dapat menjadi modal dalam menghadapi perubahan yang semakin kompleks.
Panitia pelaksana turut mengundang tokoh agama, akademisi, kader organisasi, generasi muda, dan masyarakat umum untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Kehadiran berbagai unsur diharapkan dapat memperluas diskusi mengenai peran organisasi keagamaan dalam menjaga nilai kebangsaan sekaligus merespons tantangan peradaban.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News