Kalla Institute dan Politeknik Indonesia Dampingi Industri Kue Tradisional Gowa Go Digital

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kalla Institute bersama Politeknik Indonesia mendorong pelaku industri rumahan kue tradisional di Kabupaten Gowa meningkatkan daya saing melalui digitalisasi usaha, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), penguatan produksi, dan literasi keuangan.
Program bertajuk “Pendampingan Digitalisasi Usaha Berbasis AI, Penguatan Produksi, dan Literasi Keuangan Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional di Kabupaten Gowa” tersebut menyasar kelompok usaha yang dipimpin Hj. Nurbiah Dg. Caya di Jalan Karaeng Loe Sero, Kabupaten Gowa.
Kelompok ini memproduksi sejumlah panganan tradisional khas Bugis-Makassar, seperti putu kacang, ote’ote’re’, dan berbagai kue tradisional lainnya yang telah dipasarkan secara turun-temurun.
Program tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) bersama Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (RISBANG), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026. Tahap awal dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan pada 12 dan 14 Juni, yang mencakup pengelolaan usaha, produksi, literasi keuangan, serta pemanfaatan teknologi digital.
Program kemudian dilanjutkan dengan penerapan dan pendampingan pada 10 dan 12 Juli 2026. Pada tahap ini, tim mendampingi mitra secara langsung dalam memanfaatkan AI dan teknologi digital untuk mendukung aktivitas usaha.
Kegiatan dipimpin Mochammad Fadhil Abdullah bersama anggota tim Wahyuni dan Yogi Hady Afrizal.
Selain dosen, mahasiswa Politeknik Indonesia turut dilibatkan untuk memberikan pengalaman pembelajaran berbasis praktik melalui pendampingan langsung kepada pelaku usaha.
Ketua Tim Pengabdian Mochammad Fadhil Abdullah mengatakan, tantangan pelaku UMKM saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga kemampuan mengelola dan memasarkan usaha di tengah perkembangan teknologi.
“Kami ingin menghadirkan pendampingan yang benar-benar menyentuh kebutuhan pelaku usaha. Bukan sekadar memberikan materi, tetapi membantu mereka membangun sistem usaha yang lebih baik, mulai dari proses produksi, identitas produk, pengelolaan keuangan hingga pemasaran digital,” jelasnya.
Salah satu penerapan teknologi yang dilakukan adalah pemanfaatan AI untuk membangun identitas usaha. Melalui pendampingan tersebut, mitra berhasil memiliki logo usaha dan desain stiker produk yang sebelumnya belum tersedia.
Identitas visual ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat citra produk kue tradisional sekaligus membantu konsumen mengenali produk secara lebih mudah.
Digitalisasi juga diterapkan pada aspek pemasaran. Tim mendampingi kelompok usaha dalam membuat akun media sosial sebagai etalase digital untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.
Langkah tersebut diharapkan membuat pemasaran produk tidak lagi bergantung pada penjualan langsung maupun pelanggan tetap.
Selain digitalisasi, tim PKM Kalla Institute dan Politeknik Indonesia memperkuat proses produksi melalui penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disesuaikan dengan kondisi usaha mitra.
SOP tersebut menjadi pedoman dalam tahapan produksi untuk membantu menjaga konsistensi kualitas, meningkatkan efisiensi kerja, serta memperkuat penerapan standar kebersihan.
Pada sisi administrasi, pelaku usaha juga diperkenalkan dengan aplikasi pencatatan keuangan digital. Sebelumnya, pencatatan transaksi masih dilakukan secara sederhana dan sebagian mengandalkan ingatan.
Melalui sistem digital, mitra mulai diarahkan mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga menghitung laba usaha secara lebih sistematis.
Ketua Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional Hj. Nurbiah Dg. Caya menyambut positif program tersebut.
Pendampingan dinilai memberikan pengetahuan baru mengenai pengelolaan usaha, pembangunan merek, pencatatan keuangan, serta pemanfaatan teknologi digital.
Program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menggunakan pola pendampingan agar pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Kalla Institute dan Politeknik Indonesia berharap penerapan AI, digitalisasi pemasaran dan keuangan, peningkatan standar produksi, serta penguatan kapasitas pelaku usaha dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi kelompok industri rumahan di Gowa.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan membantu produk kue tradisional tetap berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen dan persaingan pasar yang semakin terdigitalisasi.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News