SMPN 44 Makassar Luncurkan PADUKA, Ubah Aset Lingkungan dan Sampah Sekolah Jadi Produk Bernilai Guna

SULSELSATU.com, MAKASSAR – SMP Negeri 44 Makassar meluncurkan inovasi lingkungan dan tata kelola sarana prasarana bertajuk PADUKA (Program Daur Ulang dan Pemanfaatan Aset Sekolah). Program ini mengolah sampah plastik dan memanfaatkan aset lingkungan sekolah menjadi berbagai produk yang dapat digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, Rabu (30/9/2026).
Peluncuran PADUKA digelar di halaman SMP Negeri 44 Makassar dan ditandai dengan penyerahan sejumlah hasil karya murid kepada Bank Aset Pembelajaran (Inventarisasi). Produk yang diserahkan di antaranya furnitur berbahan anyaman bambu yang dipadukan dengan material hasil daur ulang sampah plastik, alat peraga untuk mendukung kegiatan urban farming dan pembelajaran, serta berbagai kerajinan tangan edukatif.
Kepala SMP Negeri 44 Makassar, Dr. Tenri Dasrawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan PADUKA lahir dari kepedulian sekolah terhadap potensi aset lingkungan yang tersedia sekaligus persoalan sampah yang ada di lingkungan sekolah.
Menurutnya, SMPN 44 Makassar memiliki rumpun bambu yang cukup banyak. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai sarana yang dapat digunakan kembali oleh sekolah.
“PADUKA bukan sekadar kegiatan daur ulang biasa. Ini adalah gerakan terpadu yang menggabungkan pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, dan keterampilan wirausaha bagi para murid,” ujar Tenri Dasrawati.
Ia mengatakan pemanfaatan aset yang tersedia di lingkungan sekolah juga dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan media pembelajaran.
“Aset sekolah yang sebelumnya dianggap barang biasa saja karena jumlahnya yang relatif banyak difungsikan dan diolah sehingga dapat menjadi media edukatif yang dapat menekan anggaran pengadaan media pembelajaran di sekolah,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, PADUKA melibatkan seluruh warga sekolah dengan mengedepankan pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga diarahkan untuk membangun kebiasaan memilah dan mengolah barang yang masih memiliki nilai guna.
Salah satu fokusnya adalah menanamkan kesadaran lingkungan melalui penerapan konsep 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle. Konsep tersebut diterapkan dalam aktivitas sekolah agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari murid.
Selain pengelolaan sampah, PADUKA juga mendorong optimalisasi aset sekolah. Bahan bekas dan potensi fisik lingkungan, termasuk rumpun bambu, dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat media pembelajaran dan sarana pendukung kegiatan sekolah.
Program ini sekaligus menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan kreativitas. Mereka didorong merancang dan menghasilkan produk yang bermanfaat dari bahan sederhana dan terjangkau, sekaligus diperkenalkan dengan konsep ecopreneurship atau kewirausahaan yang berbasis kepedulian lingkungan.
PADUKA juga dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning/PBL). Melalui pendekatan tersebut, murid mendapatkan pengalaman langsung dalam mengolah bahan, merancang produk, hingga memanfaatkannya untuk kebutuhan pembelajaran.
Dengan demikian, materi pembelajaran tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan melalui kegiatan yang berhubungan langsung dengan kondisi lingkungan sekolah.
Tenri menargetkan PADUKA dapat berjalan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan kegiatan kokurikuler. Ia berharap Program tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan karakter murid yang peduli terhadap lingkungan, kreatif dalam memanfaatkan sumber daya, sekaligus memiliki keterampilan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai guna.
Melalui PADUKA, sekolah berupaya menjadikan sampah dan aset lingkungan bukan sekadar persoalan yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi bagian dari proses pendidikan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News