Makassar Leadership Summit 2026, Kepemimpinan Harus Berdampak bagi Lingkungan dan Masyarakat

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Makassar Leadership Summit 2026 resmi digelar dengan mengangkat isu kepemimpinan yang inklusif dan berkelanjutan.
Forum yang berlangsung di Sandeq Ballroom Claro Makassar pada Kamis (8/10/2026) ini menjadi ruang pembahasan mengenai bagaimana kepemimpinan dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.
Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah diskusi panel “Inclusive and Sustainable Leadership: People, Planet and Long-Term Values”.
Diskusi itu membahas pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga memperhatikan masyarakat, lingkungan, serta nilai jangka panjang.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi yang hadir sebagai salah satu pembicara sekaligus membuka kegiatan menyoroti pentingnya dampak nyata dari penyelenggaraan event berskala besar.
Menurutnya, kegiatan seperti Makassar Leadership Summit harus mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Appi menjelaskan, semakin besar kegiatan yang digelar di Makassar, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi yang tercipta. Kehadiran peserta dari luar daerah diharapkan memberikan efek berantai bagi perhotelan, UMKM, kuliner, transportasi, perdagangan hingga ekonomi kreatif.
“Kalau datang ke Makassar, jangan hanya datang kemudian pulang. Kita ingin kegiatan-kegiatan seperti ini memberikan dampak perputaran ekonomi kepada masyarakat,” katanya.
Dalam forum tersebut, isu pertumbuhan ekonomi juga dikaitkan dengan pentingnya tata kelola pemerintahan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Appi menyebut pertumbuhan ekonomi Makassar yang sebelumnya berada di angka 6,61 persen kemudian meningkat menjadi 7,04 persen harus diikuti dengan dampak yang dirasakan masyarakat.
“Jangan sampai pertumbuhan ini hanya berada di atas kertas. Kami terus melakukan berbagai kegiatan dan program untuk bisa memberikan dampak dan manfaat langsung kepada masyarakat,” tegasnya.
Perspektif tersebut sejalan dengan gagasan impactful governance yang didorong dalam forum. Pemerintahan tidak hanya dituntut menghasilkan output, tetapi juga memastikan kebijakan dan program memberikan manfaat nyata.
Makassar Leadership Summit juga mendorong agar kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda yang lebih luas bagi kawasan Indonesia Timur.
Ia berharap, forum tersebut dapat tumbuh dengan melibatkan lebih banyak masyarakat dan pemangku kepentingan dari kawasan tersebut.
Selain kepemimpinan inklusif dan berkelanjutan, forum ini juga menyoroti transformasi pelayanan publik dan penguatan ekonomi lokal. Appi mencontohkan penggunaan batik Lontara sebagai pakaian kerja aparatur Pemkot Makassar setiap Kamis yang dinilai dapat memberikan dampak langsung kepada pelaku UMKM.
Transformasi digital turut menjadi bagian dari pembahasan melalui penerapan Lontara Apps. Platform tersebut disebut mengintegrasikan ratusan aplikasi yang sebelumnya berjalan secara terpisah ke dalam satu ekosistem layanan digital.
“Dari Lontara Apps inilah kita bisa tahu pengaduan-pengaduan masyarakat, kita bisa berinteraksi antara pemerintah dengan masyarakat,” beber Appi.
Melalui forum tersebut, Makassar Leadership Summit 2026 juga menempatkan event sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kota.
Peserta dari luar daerah didorong untuk tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi turut menikmati produk, kuliner dan aktivitas ekonomi lokal selama berada di Makassar.
Appi menyampaikan pesan tersebut dengan gaya ringan kepada peserta. “Kalau datang ke Makassar dilarang untuk diet, karena makanannya enak-enak,” ujarnya, disusul pesan kedua, “dilarang untuk tidak belanja.”
Pemkot Makassar memastikan dukungan terhadap berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional yang digelar di kota tersebut.
Dukungan itu diarahkan agar penyelenggaraan event tidak berhenti pada aktivitas kegiatan, tetapi turut memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian lokal.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News