Sinyal Bahaya di Balik Panggilan Tak Dikenal

Sinyal Bahaya di Balik Panggilan Tak Dikenal

SULSELSATU.com, GOWA – Penipuan digital dapat menyusup ke aktivitas sehari-hari, mulai dari transaksi usaha kecil hingga panggilan telepon yang tampak biasa. Di tengah ancaman tersebut, teknologi pendeteksi nomor mencurigakan menjadi salah satu upaya melindungi pengguna, sekaligus menguji bagaimana ruang digital yang aman dan tepercaya dapat diwujudkan.

Pengalaman itu pernah dialami Luqman Zainuddin (33 tahun), warga Desa Julupa’mai, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), ketika merintis usaha rumahan berupa kacang mede goreng tepung krispi beberapa tahun lalu.

Ia menerima telepon dari seseorang yang mengaku hendak memesan produknya dalam jumlah puluhan bungkus. Namun, pesanan yang semula tampak seperti peluang bisnis itu justru menjadi awal dari upaya penipuan berkedok transaksi jual beli.

Saat itu, usaha yang baru berjalan beberapa bulan berkembang dan merangkak nik. Pesanan perlahan bertambah, sehingga telepon dari nomor tak dikenal bukan sesuatu yang mencurigakan.

“Saya ladeni seperti biasa, karena mungkin calon pembeli yang ingin memesan kacang mede dalam jumlah puluhan bungkus,” cerita Luqman, Jumat, 2 Oktober 2026.

Setelah membicarakan pesanan, penelpon mengaku telah mengirimkan pembayaran melalui layanan mobile banking. Namun, Luqman tidak menerima pembritahuan dana masuk. Ketika ia menyampaikan hal itu, penelepon justru meyakinkannya bahwa ia keliru memeriksa saldo rekening.

“Dia arahkan buka fitur lain. Baru suruh kasih masuk kode-kode tertentu. Memang itu saya baru pakai mobile banking saat itu,” kenang bapak satu anak itu.

Di titik tersebut, Luqman mulai menyadari ada yang tidak beres. Ia pun tidak melanjutkan arahan tersebut lebih jauh.

Upaya penipuan melalui telepon juga pernah dialami istri Luqman. Saat itu, seseorang menghubunginya dengan mengaku sebagai pihak bank, lalu meminta korban membuka aplikasi mobile banking dan mengonfirmasi sebuah notifikasi transaksi.

“Ternyata itu persetujuan pembayaran transaksi di market place. Terpotong dananya langsung dari rekening Rp2 juta. Tapi istri saya langsung berkomunikasi dengan pihak market place via layanan kosumen, menginformasikan bahwa transaksi itu bukan atas sepengetahuannya,” sambung mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.

Dua pengalaman tersebut membuat Luqman dan keluarganya lebih berhati-hati saat berhadapan dengan nomor yang tidak dikenal. Apalagi, panggilan semacam itu masih kerap masuk ke ponsel istrinya. Tetapi, bedanya sekarang, sebelum memutuskan untuk menjawab, ada peringatan di layar yang bisa menjadi pertimbangan.

Peringatan itu datang dari SATSPAM, layanan anti-spam dan anti-penipuan milik Indosat. Label “Nomor Modus” atau “Nomor Spam” biasanya muncul ketika ada panggilan masuk. Jika panggilan berhenti berdering, terkadang muncul pemberitahuan lanjutan bertuliskan “potensi penipuan”.

“Sekarang, gampang mi, soalnya sudah ada muncul di atasnya nomor penelpon pemberitahuan potensi spam. Inobasi ino berguna sekali, mngruangi rasa was-was dan membuat kita lebih berhati-hati,” ucap Luqman.

Bagi Luqman, kehadiran peringatan nomor mencurigakan di layar ponsel menjadi hal positif karena membantu pengguna lebih waspada sebelum menjawab panggilan. Ia berharap sistem seperti SATSPAM terus dikembangkan agar mampu mengenali semakin banyak modus penipuan, bekerja lebih akurat, dan menjangkau lebih banyak pengguna.

Menurutnya, perlindungan semacam ini penting di tengah semakin beragamnya cara pelaku menjalankan penipuan melalui telepon. Meski peringatan teknologi tidak serta-merta menjamin seseorang terbebas dari penipuan, informasi awal yang muncul di ponsel setidaknya dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati.

SATSPAM dan Perlindungan Digital
SATSPAM atau Satuan Anti Scam dan Spam merupakan layanan perlindungan digital dari Indosat Ooredoo Hutchison melalui merek IM3. Layanan ini terintegrasi dengan jaringan IM3 untuk mengenali, menyaring, dan memberikan peringatan terhadap potensi penipuan digtal melalui panggilan telepon maupun pesan singkat atau SMS.

Indosat menyebut SATSPAM memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mengidentifikasi nomor yang terindikasi sebagai spam atau penipuan. Sistem tersebut bekerja secara real-time di jaringan IM3 dan dapat aktif otomatis ketika pelanggan menggunakan layanan dengan paket data aktif.

Indosat menghadirkan dua jenis perlindungan, yakni SATSPAM BASIC dan SATSPAM+. Versi BASIC memberikan deteksi otomatis terhadap nomor mencurigakan saat pelanggan menerima panggilan atau SMS. Sementara itu, SATSPAM+ menawarkan fitur tambahan, termasuk identifikasi jenis panggilan masuk, deteksi tautan berbahaya dalam SMS secara real-time, serta laporan mingguan melalui aplikasi myIM3.

Upaya memperkenalkan layanan ini kepada masyarakat terus dilakukan Indosat.salah satunya lewat gelaran Parade IM3 SATSPAM di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, untuk memperkenalkan fitur perlindungan tersebut kepada pengguna.

Dalam kegiatan itu, SVP Head of Marketing Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison, Adiyanto Adhi Kusumo, menyebut 65 persen orang di Indonesia menjadi target penipuan setiap minggu.

“Fitur SATSPAM menggunakan teknologi AI dan tertanam di jaringan IM3, sehingga pelanggan akan dibantu dalam mengenali nomor modus yang sudah terlapor sebagai spam atau scam,” ujar Adiyanto dalam media update di Hotel Novotel Grand Shayla Makassar.

Indosat kembali memperkenalkan pengembangan layanan tersebut melalui kegiatan Bookber SATSPAM+ di Vaan in Sky Makassar, pertengahan tahun ini. Kegiatan yang menghadirkan penyanyi Sal Priadi itu menjadi bagian dari upaya perusahaan mendekatkan fitur perlindungan digital kepada pelanggan.

Dalam kegiatan tersebut, Acting Officer Head of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison, Yogo Pandego Bagus Widodo, mengatakan SATSPAM+ ditujukan untuk memperkuat perlindungan pelanggan di tengah meningkatnya ancaman penipuan berbasis komunikasi.

“Bagi kami, jaringan bukan hanya soal kecepatan tapi bagaimana itu bisa melindungi pengguna secara real time,” ujarnya.

SATSPAM+ yang didukung teknologi AIvolusi5G memberikan perlindungan terhadap potensi penpuan melalui panggilan telepon, termasuk WhatsApp Call. Namun, cakupan dan mekanisme perlindungan untuk setiap jenis komunikasi perlu dijelaskan lebih lanjut oleh perusahaan agar pengguna memahami batas kemampuan layanan tersebut.

SVP Head of Region Sulawesi Indosat, Beni Iskandar, mengatakan SATSPAM+ dapat digunakan pelanggan Indosat, baik pengguna lama maupun baru. Aktivasi dilakukan melalui aplikasi myIM3 dengan memilih opsi SATSPAM+ di halaman beranda, sesuai ketentuan layanan yang berlaku.

Dalam kegiatan yang sama, Indosat turut mengutip data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mengenai sekitar 2.530 laporan kasus penipuan digital dengan total kerugian masyarakat hampir Rp106 miliar. Data tersebut menggambarkan besarnya persoalan penipuan digital yang perlu ditangani, meski periode laporan dan cakupan data tersebut perlu dipastikan sebelum digunakan sebagai gambaran situasi terki.

Kerugian Scam Tembus Rp7,5 Triliun
Ancaman penipuan digital tidak hanya menjadi persoalan yang dihadapi pengguna secara individual. Besarnya kerugian yang ditimbulkan membuat pemerintah mendorong penguatan perlindungan konsumen di ruang digital, termasuk melalui penerapan fitur anti-scam oleh perusahaan telekomunikasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyebut total kerugian akibat spam dan scam di Indonesia mencapai Rp7,5 triliun. Angka tersebut merujuk pada laporan Global Anti-Scam Alliance yang disampaikan Nezar dalam audiensi dengan Kaspersky di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat.

“Angka scam naik terus. Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan dari Global Anti-Scam Alliance,” ungkap Nezar, dalam kterangannya, baru-baru ini.

Nezar juga menyoroti kelompok masyarakat lanjut usia yang dinilai rentan menjadi korban. Menurutnya, modus penipuan semakin canggih karena pelaku dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meniru suara orang lain, termasuk figur pejabat.

“Para lansia kasihan. Banyak sekali yang kena scam dan spam. Scam yang paling bahaya dengan menelepon sebagai orang lain. Sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang,” jelasnya.

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah mendorong perusahaan telekomunikasi menerapkan fitur anti-scam untuk memperkuat perlindungan konsumen. Nezar mengatakan, bentuk penerapannya dapat disesuaikan dengan model bisnis masing-masing perusahaan.

“Pemerintah mendorong agar seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi para konsumen dengan mengimplementasikan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau bentuk lain,” lanjutnya.

Ia menambahkan, perusahaan telekomunikasi dapat melakukan asesmen mandiri untuk menentukan langkah penerapan yang sesuai dengan kebutuhan dan model bisnis masing-masing.

Dorongan tersebut menempatkan layanan pendeteksi spam dan scam sebagai salah satu bagian dari upaya perlindungan konsumen digital. Namun, manfaatnya tetap perlu ditinjau melalui kinerja sistem, akurasi identifikasi, dan kemampuan melindungi pengguna dari risiko penipuan.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Baca Juga