Panrita Lopi Bulukumba Apresiasi Buku Fotografi Dokumenter Phinisi: Identitas Budaya Sulawesi Selatan

SULSELSATU.com, BULUKUMBA – Tim penyusun buku fotografi dokumenter PHINISI: Identitas Budaya Sulawesi Selatan – Karya Pengetahuan Maestro menyerahkan hasil karya mereka kepada dua Panrita Lopi, Haji Abdullah dan Haji Muh. Usman, di Kabupaten Bulukumba.
Penyerahan buku tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan hasil dokumentasi kepada para maestro pembuat Phinisi yang menjadi narasumber sekaligus pemilik pengetahuan tentang pembuatan kapal tradisional tersebut.
Buku itu diserahkan di kediaman masing-masing panrita, bertepatan dengan rangkaian Festival Phinisi 2026, Jumat (16 Oktober 2026)
Salah satu penerima buku, Haji Usman, mengapresiasi dokumentasi yang dilakukan tim. Ia mengatakan, selama ini banyak pihak datang untuk mewawancarainya, tetapi baru kali ini hasil dokumentasi tersebut diberikan dalam bentuk buku yang bisa ia terima secara langsung.
”Terima kasih banyak. Biasanya banyak yang datang wawancara sama saya, tapi baru kali ini yang ada fisiknya saya terima,” kata Haji Usman.
Buku tersebut memuat dokumentasi visual dan tulisan mengenai keterampilan serta pengetahuan para maestro dalam membuat Phinisi. Dokumentasi itu tidak hanya merekam bentuk kapal, tetapi juga pekerjaan dan proses yang dijalani para perajin di galangan.
Koordinator tim penyusun, Muh Alif Alim Arifki, mengatakan buku tersebut merupakan hasil penelitian dan dokumentasi kapal Phinisi yang didanai Dana Abadi Kebudayaan atau Dana Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan melalui skema pendanaan 2026.
Menurut Alif, penyerahan buku kepada para Panrita Lopi merupakan bagian penting dari proses dokumentasi. Pengetahuan yang mereka bagikan selama kegiatan lapangan dikemas menjadi karya yang dapat dibaca dan dipelajari oleh masyarakat di luar lingkungan galangan kapal.
”Buku ini kami kembalikan kepada para Panrita Lopi sebagai pemilik pengetahuannya, dan kami titipkan kepada pemerintah daerah supaya bisa menjangkau lebih banyak orang,” kata Alif, Minggu (25/10/2026).
Ia berharap buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan di perpustakaan serta menjadi sumber pengetahuan bagi pelajar dan masyarakat yang ingin mengenal tradisi pembuatan Phinisi.
”Harapan kami, buku ini bisa dibaca di perpustakaan, dipakai pelajar dan masyarakatnya umum, serta menjadi pengingat bahwa Phinisi itu lahir dari pengetahuan orang-orang yang bekerja langsung di galangan,” ujarnya.
Penyusunan buku melibatkan sejumlah anggota tim dengan pembagian tugas pada fotografi, penyuntingan foto, penulisan, tata letak, dan dokumentasi di balik layar.
Alif dan Muhammad Ishaq menangani fotografi serta penyuntingan foto, dengan Ishaq juga merancang sampul dan tata letak buku. Syamsi Nur Fadhila bertugas sebagai penulis dan Andi Baso Mappanyompa sebagai penyunting.
Dokumentasi di balik layar dikerjakan Muh Ilham Alqadri dan M. Rifyal Ramadhan, sementara Ismail dan Sudirman terlibat sebagai kontributor dokumentasi visual yang turut menyukseskan penyusunan buku ini.
Melalui buku ini, tim berupaya mendokumentasikan pengetahuan para Panrita Lopi agar dapat diakses lebih luas dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News