Dilanda El Nino, Mesin Air Konversi LPG Hijaukan Sawah Petani

Dilanda El Nino, Mesin Air Konversi LPG Hijaukan Sawah Petani

El Nino yang memicu kemarau lebih panjang dan kering menjadi ancaman bagi keberlangsungan pertanian, terutama ketika petani harus menjaga sawah tetap mendapat pasokan air. Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, petani menyiasatinya dengan memanfaatkan mesin pompa air bertenaga LPG.

SULSELSATU.com, GOWA – Sakir Daeng Sewang (62) baru saja pulang dari Agen Liquefied Petroleum Gas (LPG) di kampung tetangga, Rabu 28 Oktober 2026, pagi. Di dek motor tuanya, ada sebuah tabung LPG 3 kilogram. Sesaat ia memarkir motornya, kemudian masuk ke rumah dan kembali dengan mesin pompa air.

Sakir kemudian mengikat mesin seberat kurang lebih 20 kg itu di bagian belakang motornya menggunakan karet ban dalam bekas. Setelah beres, ia bergegas menyalakan motor, kemudian menggebernya menuju lahan pertaniannya di kampung sebelah.

Sakir berdomisili di Watu-watu, Desa Julupa’mai, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Sementara lahannya berada di kampung sebelah, Dusun Palompong, Desa Pa’bbentengang. Ia hanya butuh 10 menit bermotor untuk sampai ke sana.

Di Palompong, Sakir mengelola lahan seluas 24 Are. Ia mengolah sawah di sana, juga kebun yang ditanami rambutan, kelapa, dan sesekali jagung atau palawija lain.

Di musim kemarau seperti sekarang, Sakir akan membawa pergi pulang mesin pompa air tadi dari rumah ke sawah dan kebunnya beberapa kali dalam sepekan. Tujuannya, mengairi lahan-lahan tersebut.

“Biasanya disela dua hari, bisa juga sehari,” ucap Sakir.

Menariknya, pompa air Sakir itu tidak seperti mesin pada umumnya, sebab merupakan modifikasi, yang memanfaatkan energi bahan bakar gas (BBG), alih-alih bahan bakar minyak (BBM). Untuk itulah LPG 3 kg itu terlebih dahulu ia beli sebelum bertolak ke lahannya.

Sakir bilang, sudah 10 tahun ia menggunakan mesin pompa bertenaga gas ini. Dia mendapat inspirasi dari seorang nelayan di Galesong, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulsel.

“Awalnya karena saya lihat nelayan di daerah Galesong pakai mesin penggerak perahu bertenaga gas,” kenamg Sakir.

Nelayan itu bercerita, mesin yang ditenagai gas lebih hemat ketimbang BBM, sekalipun tidak memberi perbandingan langsung. Kendati begitu, Sakir tetap mau mencoba.

“Saya coba dulu rakit dan ternyata berhasil dan bagus. Dan terbukti murah. setelah pakai, dari yang biasanya saya menghabiskan 8 liter dengan harga Rp10 ribu/liter, sekarang hanya 1 tabung seharga Rp20 ribu,” katanya.

Seingat Sewang, ia merupakan petani pertama di Watu-watu yang pertama kali menggunakan pompa mesin konverter.

Penggunaan mesin pompa air konverter ini menekan pengeluarannya untuk mengirigasi sawah. Sementara produksi sawah dan kebunnya tetap sama dan cemderung meningkat.

Penggunaan mesin pompa konverter LPG bukan satu-satunya cerita tentang upaya petani di Julupa’mai menjaga produktivitas sawah. Ketersediaan air dan kemampuan mengatur pengairan juga menjadi faktor penting, terutama ketika tanaman padi memasuki masa pertumbuhan.

Pengalaman itu dirasakan Suddin Daeng Rani, petani di Dusun Watu-Watu, Desa Julupa’mai. Ia mengungkapkan hasil produksi sawahnya meningkat pada musim tanam ketiga dibandingkan dua musim sebelumnya.

Dari lahan seluas 20 are, Suddin memperoleh 15 karung gabah. Sama seperti Sakir, ia merupakan petani yang memanfaatkan pompa air bertenaga gas LPG.

Menurutnya, kondisi air di sawah turut memengaruhi pertumbuhan padi. Saat musim kemarau, petani justru memiliki keleluasaan untuk mengatur kebutuhan air tanaman.

“Kalau tergenang air, padinya biasa susah tumbuh. Kalau kemarau, kita bisa kontrol airnya,” ucap Daeng Rani.

Namun, tahun ini, Daeng Rani dan banyak petani lain dihadapkan dengan fenomena El-Nino Godzilla, kemarau yang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Fenomeda ini berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering, sehingga meningkatkan risiko kekurangan air di sejumlah wilayahi.

Sawah petani menghijau di tengah el nino yang diabadikan pada 28 Oktober 2026. Foto: Sri Wahyu Diastuti / Sulselsatu.com.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks El Nino pada periode Agustus–Oktober 2026 mencapai +3,05 derajat Celsius. Hingga September 2026, sebanyak 556 Zona Musim atau sekitar 61,91 persen wilayah daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau.

Kondisi ini menuntut pengairan yang lebih intens untuk sawah dan pertanian lain. Dengan begitu, sawah tetap menghijau di tengah fwnomena el-nino godzilla.

“Sekarang harus lebih sering dari biasanya. Sekarang dibeei air, besok jeda, besoknya bisa diairi lagi,” sambung Daeng Rani.

Ia bercerita, sekali melakukan pengairan, satu tabung gas 3 kg akan digunakan sepanjang hari atau kurang lebih sekitar 9 jam. Mesin akan terus menyala, menyedot air dari dalam sumur bor di sawah, sampai gas habis.

Beruntung, keberadaan gas LPG 3 kg selama fenomena ini terjadi sangat terjangkau, sehingga Sakir, termasuk Daeng Rani, bisa tetap hidup dari pertaniannya. Demikian juga yang dirasakan termasuk Basse Daeng Nurung (70).

Nurung bilang, gas sekarang lebih terjangkau dan mudah diakses, bisa dibeli di toko kelontong. Kalau ingin harga yang lebih murah, ia bisa langsung ke agen yang juga ada di desanya.

“Rp20 ribu saja kalau agen. Itu sudah cukupvmi. Saya biasa tidak habis, setengah (tabung) dulu, setengah bisa dipakai lagi nanti,” kata Nurung, salah satu petani yang juga berada di Desa Julupa’mai Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, Sulsel.

Dukungan Pertamina
Ketika fenomena ini terjadi, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menjawab denhan penguatan distribusi LPG 3 kg di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dan Barat yang mengalami peningkatan kebutuhan selama musim kemarau. Langkah tersebut dilakukan melalui mekanisme extra dropping atau penambahan pasokan di luar alokasi reguler.

Pada minggu ketiga hingga keempat Agustus, tambahan pasokan yang disalurkan mencapai 229 persen dari rata-rata alokasi harian. Penguatan distribusi menyasar sejumlah daerah, dengan mempertimbangkan perkembangan konsumsi serta kondisi stok di masing-masing wilayah.

Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto mengatakan, penambahan pasokan dilakukan berdasarkan pemantauan kebutuhan aktual di lapangan. Dengan demikian, distribusi tambahan dapat diarahkan ke wilayah yang membutuhkan.

“Kami terus memetakan kebutuhan LPG 3 Kg di wilayah Sulselbar, termasuk daerah yang terdampak kondisi kemarau. Tambahan pasokan diberikan secara selektif dan terukur dengan mempertimbangkan kondisi stok serta perkembangan konsumsi di masing-masing wilayah,” ujar Lilik.

Menurut dia, pengawasan distribusi juga dilakukan bersama agen dan pangkalan agar tambahan pasokan dapat diterima masyarakat sesuai kebutuhan. Pertamina turut melakukan evaluasi untuk menyesuaikan pola penyaluran apabila terjadi perubahan konsumsi di suatu wilayah.

“Penyaluran kami kawal bersama jaringan agen dan pangkalan agar tambahan pasokan dapat diterima masyarakat sesuai kebutuhan. Kami akan terus melakukan evaluasi dan menyesuaikan pola distribusi apabila terdapat perubahan kebutuhan di lapangan,” tambahnya.

Penguatan pasokan tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina menjaga kelancaran distribusi LPG di tengah perubahan kebutuhan masyarakat, termasuk akibat kondisi cuaca. Perusahaan juga mengimbau masyarakat menggunakan LPG 3 kilogram secara bijak dan sesuai peruntukannya agar penyalurannya tetap merata.

Bright Gas Jadi Alternatif
Selain penggunaan LPG 3 kilogram untuk mesin pompa air, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi juga menghadirkan alternatif energi bagi petani melalui program Bright Gas untuk Petani di Kabupaten Gowa.

Program yang diluncurkan pada 12 Agustus 2026 itu menawarkan Bright Gas 5,5 kilogram dengan harga khusus untuk kebutuhan mesin pompa air.

Pada tahap awal, Pertamina memberikan harga isi ulang Rp60.000 untuk 100 tabung pertama, Rp80.000 untuk 100 tabung berikutnya, dan Rp90.000 untuk 100 tabung selanjutnya.

Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga normal yang mencapai Rp110.000 per tabung. Petani juga diberi kesempatan menukar dua tabung LPG 3 kilogram dengan satu tabung Bright Gas 5,5 kilogram. Dalam skema tersebut, petani hanya perlu membayar biaya pengisian ulang.

Program ini sekaligus menjadi upaya mendorong penggunaan LPG sesuai peruntukannya. Sebab, tidak semua kelompok tani masuk dalam kategori penerima LPG bersubsidi 3 kilogram. Bright Gas dihadirkan sebagai pilihan energi nonsubsidi yang dapat menunjang kebutuhan pengairan sawah.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa Zubair Usman menyambut baik program tersebut.

Ia menilai dukungan energi menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan aktivitas pertanian, terutama ketika petani menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pertamina yang telah memberikan dukungan serta memfasilitasi Bright Gas sebagai alternatif energi bagi mesin pompa air petani. Program ini sangat membantu, khususnya bagi petani yang membutuhkan pompa untuk menjaga pengairan sawah di tengah kondisi kemarau. Kami berharap program ini dapat terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak kelompok tani di Kabupaten Gowa,” ujar Zubair.

Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto mengatakan, program tersebut merupakan bentuk kolaborasi untuk menghadirkan solusi energi yang sesuai dengan kebutuhan sektor pertanian.

“Kami ingin memastikan petani memiliki akses terhadap pilihan energi yang dapat menunjang kegiatan pengairan persawahan. Melalui Bright Gas untuk Petani, kami memberikan kemudahan akses LPG Non-Subsidi sekaligus mendorong penggunaan LPG 3 kg agar semakin tepat sasaran. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan kelompok tani akan terus kami perkuat agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” kata Lilik.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Berita Terkait
Baca Juga