OPINI: Transpersonal

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Membantu dan menolong orang lain termasuk ke dalam perilaku jenis pro-sosial atau lebih khusus lagi disebut sebagai altruisme.

Perilaku ini berarti berbagai perilaku yang bertujuan untuk menguntungkan orang lain dan bukan diri sendiri.

Barack Obama pada pemakaman veteran Partai Demokrat Elijah Cummings, mengatakan “Tidak ada kelemahan dalam kebaikan dan kasih sayang,” katanya.

“Bukanlah suatu kelemahan jika Anda memperhatian orang lain. Anda bukanlah seorang tolol jika memiliki integritas dan memperlakukan orang lain dengan perasaan hormat.”

Hakekat diri sebagai kesadaran melihat individu manusia sebagai bagian dari lingkungan sosialnya dan secara kuat mempengaruhi persepsi dan perilaku manusia.

Tahap kesadaran eksistensial sudah mampu dihayati secara penuh, kesadaran akan melakukan lompatan menuju pengalaman-pengalaman transpersonal yang melibatkan suatu perluasan kesadaran di luar batas-batas konvensional sesuai dengan rasa identitas yang lebih besar.

Pada akhirnya spektrum kesadaran, berkas-berkas transpersonal itu masuk ke dalam tingkat Jiwa, (Ken Wilber seorang eksponen gerakan psikologi transpersonal) Transpersonal dalam wujud bantuan sosial kepada orang-orang lemah/mustadl’afin mendapat perhatian yang cukup tinggi dalam Islam. Kita diperintahkan untuk mengentaskannya.

Bahkan orang yang tidak terbetik hatinya untuk menolong golongan lemah, atau mendorong orang lain untuk melakukan amal yang mulia ini dikatakan sebagai orang yang mendustakan agama.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Al Ma’un: 1-3).

Dari uraian-uraian di atas jelaslah bahwa Islam menuntut umatnya untuk menyadari kodratnya sebagai makhluk sosial.

Untuk lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa wujud nyata atau buah dari seorang mukmin yang rukuk, sujud, dan ibadah kepada Allah SWT adalah dengan melakukan aktivitas kebaikan sosial.

Seorang yang menyatakan diri beriman hendaknya senantiasa menyuguhkan, menyajikan kebaikan-kebaikan di tengah masyarakat.

Inilah tingkat kesadaran kosmik di mana orang menenggelamkan diri, menyatu dengan lingkungan sosialnya.Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada selainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat.

Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain, guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.

Penulis: RAI Makassar
Editor: Kink Kusuma Rein