Pria Kulit Hitam Mati Dibunuh Polisi AS, Demo Rasisme Meluas

ilustrasi. (int)

JAKARTA – Kasus pembunuhan pria kulit hitam bernama Georve Floyd oleh polisi kulit putih di Amerika Serikat (AS) menundang simpati dunia. 

Ribuan orang berdemo di Auckland, Selandia Baru pada Senin (1/6) sebagai aksi solidaritas untuk memprotes pembunuhan George Floyd di AS serta melawan kekerasan polisi dan rasisme di negara mereka sendiri.

Sejumlah masyarakat dunia telah menyaksikan dengan kegelisahan yang tumbuh selama demo di AS karena rentetan insiden pembunuhan polisi terhadap pria dan wanita berkulit hitam. Floyd meninggal dunia pada 25 Mei di Minneapolis setelah seorang polisi kulit putih mengunci lehernya dengan lutut hingga meninggal dunia.

Petugas tersebut telah dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan.

Namun, itu tak menghentikan tuntutan pendemo yang meminta keadilan dan menghentikan perlakuan rasial.

Menurut laporan AFP, para pengunjuk rasa di Selandia Baru berdemo di depan Konsulat AS. Mereka berlutut sambil memegang beberapa seruan.

“I can’t breathe (Saya tidak bisa bernapas),” seperti ucapan terakhir Floyd kala dibunuh polisi.

“Virus sebenarnya adalah rasialisme,” ujar lainnya.

Ratusan lainnya bergabung dengan protes damai di tempat lain di Selandia Baru. Senin ini juga bertepatan dengan hari libur nasional di sana.

Selain Selandia Baru, ratusan orang di Brasil juga memprotes kejahatan yang dilakukan oleh polisi terhadap orang kulit hitam di lingkungan kelas pekerja Rio de Janeiro, yang dikenal sebagai favelas.

Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan mereka, dengan beberapa demonstran mengatakan: “I can’t breathe,” mengulangi kata-kata Floyd.

Di Kanada, protes antirasialisme berubah menjadi bentrokan antara polisi Montreal dan beberapa demonstran. Polisi menyatakan pertemuan itu ilegal setelah mereka mengatakan proyektil dilemparkan ke petugas yang menanggapi dengan semprotan merica dan gas air mata. Beberapa jendela hancur dan beberapa kebakaran terjadi.

Di negara-negara yang otoriter, kerusuhan menjadi kesempatan untuk melemahkan kritik AS. atas situasi mereka sendiri. Televisi pemerintah Iran berulang kali menayangkan gambar-gambar kerusuhan AS. Rusia mengatakan Amerika Serikat memiliki masalah hak asasi manusia yang sistemik.

China pun membalikkan propaganda Amerika tentang demonstrasi antipemerintah Hong Kong, yang telah lama dikatakan pemerintah di negara itu didukung oleh AS.

Dalam sebuah komentar kepada surat kabar Global Times, Partai Komunis yang berkuasa mengatakan para pengamat China telah berpesan bahwa politikus AS seharusnya berpikir dua kali sebelum berkomentar lagi tentang Hong Kong, mengetahui: “Kata-kata mereka mungkin menjadi bumerang.”

Surat kabar resmi Korea Utara Rodong Sinmun pada Senin (1/6) pun melaporkan tentang demonstrasi. Disebutkan media itu bahwa pengunjuk rasa “dengan keras mengutuk” seorang polisi kulit putih atas pembunuhan tanpa hukum dan secara brutal terhadap seorang warga kulit hitam.

Tiga foto dari Minneapolis Star Tribune, kantor berita Reuters dan Agence France-Presse menunjukkan aksi protes dalam beberapa hari terakhir di kota tempat Floyd terbunuh.

Artikel itu mengatakan ratusan pengunjuk rasa berkumpul di depan Gedung Putih sambil meneriakkan: “Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian,” dan demonstrasi juga terjadi di kota-kota lain. Tak ada komentar langsung yang ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump.

Editor: Hendra Wijaya