Hubungan AS-China Makin Panas, Saling Awasi Gerak-gerik Diplomat

Donald Trump dan Xi Jinping. (int)
images-ads-post

JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China semakin panas. Kedua negara bahkan saling membatasi pergerakan diplomat.

China sudah menegaskan akan membalas sikap AS atas penerapan pembatasan baru bagi para diplomat Tiongkok.

“Pengekangan diplomat China adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan norma dasar yang mengatur hubungan internasional,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, Kamis (3/9/2020) seperti dikutip dari AFP.

China juga mendesak AS segera mencabut pembatasan tersebut. Menurut Hua, itu merupakan sebuah keputusan yang tidak dapat dibenarkan.

“Kami mendesak Kementerian Luar Negeri AS untuk segera mencabut, berhenti menghalangi hubungan normal antara kedua bangsa dan menyabotase hubungan bilateral,” kata Hua dilansir dari Xinhua.

Menurut dia, China selalu memfasilitasi perwakilan diplomatik dan konsuler AS untuk menjalankan tugasnya di Tiongkok sesuai dengan undang-undang dan peraturan.

AS diketahui membuat pembatasan baru bagi para diplomat senior China dalam melakukan sejumlah kegiatan rutin di negaranya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengumumkan hal tersebut pada Rabu (2/9/2020) di tengah ketegangan kedua negara yang kian memanas. Salah satu contoh pembatasan itu adalah perizinan bagi diplomat China yang hendak mengunjungi kampus atau bertemu pejabat pemerintah setempat.

“Departemen Luar Negeri telah menetapkan sebuah mekanisme persetujuan bagi diplomat senior China di Amerika Serikat untuk mengunjungi kampus universitas dan bertemu dengan pejabat pemerintah setempat,” ujar Pompeo dikutip dari CNN.

Selain itu, kata Pompeo, Kedutaan Besar China di AS butuh persetujuan Kementerian Luar Negeri jika hendak menggelar acara kebudayaan.

Pompeo mengungkapkan langkah-langkah yang diambil AS ini sebagai upaya timbal balik, di mana China juga telah menerapkan hal serupa pada diplomat AS yang ada di Negeri Tirai Bambu.

Hubungan AS-China saat ini mencapai titik terburuk akibat berbagai persoalan. Mulai dari perang dagang, tuduhan pencurian kekayaan intelektual dalam bidang teknologi, sengketa Taiwan, polemik demokrasi Hong Kong, dan isu penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur.

Kedua negara juga unjuk kekuatan militer di Laut China Selatan. Masing-masing mengerahkan kapal perang, kapal induk dan jet tempur.

Bulan lalu AS menetapkan lembaga budaya dan pendidikan China, Pusat Institut Konfusius di Amerika sebagai misi asing.

Awal tahun ini, mereka menunjuk sejumlah organisasi media Tiongkok sebagai misi diplomatik asing, dengan alasan bahwa mereka berada di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok.

Sementara itu, China telah mengusir jurnalis The New York Times, The Wall Street Journal dan The Washington Post.

Lalu AS memerintahkan Beijing untuk menutup konsulatnya di Houston pada Juli karena dianggap bagian dari upaya spionase China yang lebih besar menggunakan fasilitas diplomatik di seluruh negeri.

Editor: Hendra Wijaya