Logo Sulselsatu

Opini: Menguak Konflik Pembangunan New Grand Mall Makassar

Asrul
Asrul

Jumat, 04 Desember 2020 23:24

Opini: Menguak Konflik Pembangunan New Grand Mall Makassar

Penulis: M Ridjal Adelansyah SH

Sebagai masyarakat madani, tentu tidak akan menolak tupoksi “Pembangunan”. Namun berbeda ketika melihat dan menyikapi pembangunan New Grand Mall Makassar. Ada beberapa norma hukum yang perlu dipahami khususnya Pemerintah Kota Makassar untuk menyikapi masalah tersebut.

Pertama, Terkait Aspek Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Kedua, Aspek Hukum Hak Milik Satuan Rumah Susun yang lahir diatas Hak Guna Bangunan, Ketiga, Peraturan Daerah Kota Makassar No. 15 Tahun 2009 Tentang Pemberdayaan Pasar Tradisional dan Penataan Pasar Modern di Kota Makassar.

Hal yang sangat mendasar untuk perhatikan adalah kedudukan hukum Tanah Hak pengelolaan. Hak pengelolaan ini merupakan interpretasi hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah.

Sponsored by MGID

Hal ini juga merupakan bentuk implementasi system pemerintahan yang dianut oleh Indonesia; Lebih lanjut Lihat Pasal 1 angka (2) Peraturan pemerintah No. 40 Tahun 1999 Tentang Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB) dan Hak Pakai atas Tanah.

Dalam peraturan tersebut secara implisit menerangkan bahwa Hak pengelolaan (HPL) merupakan Hak menguasai dari negara yang kewenangan dan pelaksanaannya sebagian di limpahkan kepada pemegangnya. Lihat juga Peraturan Mentri Agraria/Kepala BPN No. 9 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Pemberian Dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan.

Dari penjelasan peraturan tersebut, satu hal yang perlu digaris bawahi menyangkut objek Hak Pengelolaan (HPL), bahwa objek Hak pengelolaan merupakan tanah negara, sehingga menyangkut perihal bangunan diatas tanah Hak Pengelolaan tidak lepas dari instrument hukum pengelolaan barang milik negara/daerah.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2020 sebagai Pengganti Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

Mayotitas pedagang hanya mempersoalkan harga, kata H Rustam Nur, salah satu pedagang yang sempat penulis temui, iapun mengungkapkan keinginannya agar pihak pengembang mau menyetujui harga berdasarkan Surat Keputusan (SK) walikota pada waktu itu, 42,5 Jt/m2 .

Jika dilihat dalam perspektif hukum Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah disitu di jelaskan tentang adanya perjanjian kerjasama terbatas. Seharusnya, ketika kita melihat perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Kota Makassar bersama dengan PT. MTIR pada tahun 1991 yang memuat prinsip Build, Operate, and Transfer (BOT), bertanya – tanya mengapa harus (BOT) Silahkan lihat Pasal 1 angka (16) dan (16 a) PP No. 28 Tahun 2020 sebagai pengganti PP No. 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Saya kira disitu sangat jelas.

Lebih lanjut, Kalau kita melihat berdasarkan fakta yang ada dilapangan, terbitnya Hak Milik Satuan Rumah Susun (SHMRS) diatas Hak Guna Bangunan (HGB), merupakan bentuk adanya hubungan hukum antara PT. MTIR bersama dengan pemegang sertifikat (SHMRS), hal ini perlu diperhatikan. Lihat Pasal 1 angka (17) dan (18) Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2020 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

Fenomena “Kebakaran” bagaikan suatu norma baru yang harus dapat diterima oleh setiap penghuni satuan rumah susun, sebab Kebakaran sering Kali di tafsirkan sebagai suatu keadaan diluar kehendak para pihak (forcemajeur/overmatch), tupoksinya jelas, terhindar dari gugatan wanprestasi.

Tapi satu hal yang perlu saya sampaikan, Hukum punya bahasa tersendiri, bicara tentang Forcemajeur/Overmacth yang perlu di garis bawahi adalah suatu gejala/kondisi yang tidak dapat diprediksi. Apakah kebekaran tidak dapat diprediksi….?

Fenomena Kebakaran terhadap pengelolaan barang milik negara/daerah sangat sarat dengan adanya unsur politisasi pengelolaan aset barang milik negara/daerah. Fakta menjawab setelah terjadinya kebakaran lahirlah addendum yang memuat tentang perpanjangan kontrak kerjasama. Hal ini sarat dengan penyalah gunaan keadaan (Misbruik Van Omstandingheden).

Fenomena Kebakaran dan Addendum, seakan mereduksi kehendak Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2020 sebagai pengganti PP No. 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, yang menginginkan adanya optimalisasi dalam pengelolaan barang milik negara/daerah.

Optimalisasi disini bergantung pada bukti hak yang lahir. Dalam konteks Undang – Undang Satuan Rumah Susun dikenal dua macam instrumen Hak, Silahkan lihat penjelasan, Pasal 47 dan 48 untuk memahami bagaimana kedudukan hukum pemegang Sertifikat Satuan Rumah Susun (SHMRS), sebab entitas hak sangat penting diperhatikan untuk menjamin kepastian hukum yang berlaku.

Editor: Asrul

Sponsored by ADVERTNATIVE

 Komentar

 Terbaru

Ekonomi23 September 2021 21:17
Yuk Merapat! PLN Cari Mitra Usaha untuk Bangun Lebih dari 100 SPKLU
SULSELSATU.com, MAKASSAR – PT PLN (Persero) membuka peluang kerja sama bagi para pelaku usaha untuk ikut membangun 101 stasiun pengisian kendara...
Adventorial23 September 2021 21:00
Pemkot-DPRD Masih Kaji Aturan PTM di Parepare
SULSELSATU.com, Parepare — Meski Pemerintah Kota Parepare belum memperbolehkan kegiatan sekolah luar jaringan (luring) atau Pembelajaran Tatap M...
Video23 September 2021 20:22
VIDEO: Pelawak Tukul Arwana Alami Pendarahan Otak
SULSELSATU.com – Pelawak Tukul Arwana dikabarkan sakit akibat pendarahan otak. Putra Sulung Tukul Arwana menyebut ayahnya dilarikan ke Rumah Sak...
Sponsored by MGID
Berita Utama23 September 2021 19:46
Rayakan HUT Polantas ke-66, Kapolres Jeneponto : Jangan Lukai Hati Rakyat
SULSELSATU.com,Jeneponto – Jajaran Polres Jeneponto merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Polisi Lalu Lintas (Polantas) ke-66 di Aula Pesat Gatra Kan...