SULSELSATU.com, MAKASSAR – Dengan semangat, perempuan paruh baya itu menceritakan pengalamannya. Ia menceritakan kondisi yang membuatnya merasa perihatin dan tergerak ingin membantu ibu-ibu rumah tangga (IRT) yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga di wilayahnya.
Ia adalah Nuraeni. Ibu rumah tangga yang tinggal di daerah Pelabuhan Paotere, Makassar. Perempuan yang disapa Eni itu merangkul IRT yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Melihat permasalahan itu, dirinya merasa harus mengambil langkah nyata agar dapat meningkatkan kualitas hidup sesamanya agar tidak selalu menjadi korban KDRT.
Nuraeni mendirikan sebuah kelompok yang diberi nama Wanita Nelayan Fatimah Azzahra. IRT yang tergabung dalam kelompok ini diberdayakan dengan diberikan pendidikan serta pekerjaan agar bisa mandiri.
Di kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahra ini, Nuraeni mengajak IRT tersebut untuk meningkatkan potensi dirinya, serta mengubah pola pikir mereka agar tidak selalu menjadi korban kekerasan. Dalam mengatasi permasalahan ini, Ia terbantu dengan hadirnya program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina.
“Kita dorong mereka untuk melakukan peningkatan kapasitas dirinya. Mendorong mereka agar mandiri, mengubah pola pikirnya agar tidak selalu menjadi korban yang dibodoh-bodohi,” kata Eni saat dihubungi via telepon, Senin, (25/10/2021).
Melalui kelompok ini, Eni telah merangkul 40 ibu rumah tangga yang tergabung dalam sekolah perempuan berdaya. Tidak hanya diberikan pendidikan, IRT ini juga diberijan perkerjaan agar lebih mandiri sehingga dapat menghasilkan uang sendiri.
Eni menilai, pemicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga ini karena masalah ekonomi. Sehingga, ia ingin memandirikan mereka agar tidak lagi mendapatkan kekerasan dalam rumah.
Demi mempekerjakan ibu yang merupakan korban itu, ia membuka usaha kecil yang menghasilkan produk makanam khas Makassar. Seperti abon, otak-otak, bakso, nugget, serta frozen food hasil olahan nelayan di pelabuhan Paotere.
Tak lupa ia berucap syukur, ia menyebutkan betapa dirinya sangat terbantu dengan hadirnya program CSR dari Pertamina ini. Eni mendikte, bantuan yang diberikan Pertamina mulai dari alat, pembinaan UKM hingga proses pemasaran, dan juga pembimbingan dalam peningkatan kualitas anggota.
“Pertamina tahu apa yang menjadi kebutuhan kami. Ia memberikan semuanya. Bahkan, dia memberikan kami pembina, tidak meninggalkan kami hingga saat ini,” tuturnya penuh semangat.
Semenjak memulai kelompok ini lanjutnya, dan berkat hadirnya Pertamina, kasus kekerasan dalam rumah tangga di wilayahnya sudah berkurang. Ibi-ibu tersebut sudah punya kesibukan sendiri serta bisa menghasilkan uang tanpa bergantung sepenuhnya pada suami.
Dengan usaha kecil yang dimulainya, dirinya tidak hanya membantu ibu-ibu tersebut, tetapi juga membantu para nelayan. Ia mengaku jika membeli bahan untuk usahanya itu dari suami perempuan yang dirinya berdayakan.
Dihubungi terpisah, Senior Supervisor Communication & Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufiq Kurniawan mengatakan, program Corporate Social Rsponsibility (CSR) dari Pertamina memang dari awal tidak membatasi di bidang apa saja tapi bergerak dari hasil social mapping di wilayah operasi Pertamina.
“Dari situlah kita melakukan program CSR sehingga programnya sesuai kebutuhan masyarakat bukan asal ngasih sesuatu. Kita kembangkan secara serius dari hasil mapping. Dan khusus KDRT di Paotere itu, kita melihat hingga 50 persen dari total Sulsel sebesar 1400-an. Dia penyumbang terbesar, yang ada di Paotere itu,” jelasnya.
Lanjut Taufiq, dari banyaknya kasus itu, ada satu sosok yang kita pandang potensial untuk mengadvokasi mereka. Jadilah program pemberdayaan ini kita bina agar mandiri, beri bantuan pendampingan.
“Yang ibu-ibu itu, diberi pelatihan, keterampilan, dan peralatan juga dibantu, agar mandiri. Sekarang sudah bisa menghasilkan omset jutaan,” pungkasnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar