SULSELSATU.com – Sejak pengepungan Rusia di Mariupol, sudah 1.207 warga sipil yang tewas hingga Rabu (9/3).
“[Serangan Rusia] menyebabkan 1.207 warga Mariupol yang damai kini tewas,” demikian pernyataan pihak berwenang kota tersebut, seperti dikutip AFP dari CNN Indonesia, Kamis, (10/3/2022).
Dikutip dari CNN Indonesia, ketika dikonfirmasi mengenai jumlah tersebut, layanan pers kepresidenan Ukraina menyampaikan, “Kami tidak memiliki jumlah pasti, tapi dari perkiraan awal, itu benar.”
Baca Juga : Gagal di Kota Kyiv dan Kharkiv, Rusia Fokus Ambil Alih Donbas di Ukraina
Angka ini terpaut jauh dari data yang diumumkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu sebanyak 516 warga sipil tewas akibat serangan Rusia di Ukraina secara keseluruhan.
Menurut data layanan darurat Ukraina, lebih dari 2.000 orang tewas akibat gempuran Rusia, terhitung hingga pekan lalu.
Sementara itu, pihak berwenang Mariupol juga menyatakan, kotanya telah melewati “sembilan hari penembakan terus-menerus terhadap warga sipil.”
Baca Juga : Ukraina Tunjukkan Perlawanan Kuat, Rusia Tingkatkan Serangan Udara dan Laut
Akibatnya, setengah juta orang di kota itu juga harus hidup “tanpa lampu, air, dan komunikasi.”
“Hati saya penuh dengan kemarahan,” kata Wali Kota Mariupol, Vadym Boichenko, dalam sebuah video.
“Hari ini, Rusia yang dipimpin oleh Presiden (Vladimir) Putin, melakukan serangan udara di kota damai, menembak rumah sakit anak-anak. Mereka ingin mengambil nyawa anak-anak kami, perempuan kami, dokter kami.”
Baca Juga : 600 Rudal Sudah Ditembakkan ke Ukraina Selama Invasi Rusia
Boichenko pun kembali menggaungkan pesan Presiden Volodymyr Zelensky agar mitra internasional Ukraina memberikan bantuan dan menerapkan zona larangan terbang di negaranya.
Rusia memang terus menggempur berbagai sudut Kota Mariupol. Terakhir, Rusia menyerang rumah sakit anak-anak di Mariupol pada Rabu (9/3), menyebabkan 17 staf terluka.
Sementara itu, beberapa upaya evakuasi di Mariupol gagal. Ombudsman Ukraina, Lyudmyla Denisova, lantas menyatakan kota tersebut terancam mengalami krisis kemanusiaan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar