Logo Sulselsatu

Punya Potensi Besar, Sulsel Talk Bahas Strategi Penguatan Ekspor di Tengah Gejolak Ekonomi

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Sabtu, 17 Agustus 2024 20:23

Sulsel Talk yang bahas strategi penguatan ekspor Sulsel. Foto: Istimewa.
Sulsel Talk yang bahas strategi penguatan ekspor Sulsel. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Pada triwulan II 2024, laju pertumbuhan ekspor luar negeri SULSEL masih mengalami kontraksi sebesar -10,73 persen (yoy). Membaik dibandingkan triwulan I 2024 yang mencatatkan kontraksi lebih dalam sebesar -25,10 persen (yoy).

Tren kontraksi ekspor luar negeri ini utamanya disebabkan turunnya permintaan komodi nikel. Apalagi di tengah penurunan harga nikel di pasar global karena kondisi over supply sehingga menghambat kinerja ekspor nikel Sulsel ke negara mitra dagang (Jepang dan Tiongkok).

Selain itu, gejolak geopolitik yang semakin meningkat turut menghambat ekspor Sulsel untuk tumbuh lebih tinggi. Melihat fenomena tersebut, BI Sulsel berinisiatif menyelenggarakan seminar Sulsel Talk yang diselenggarakan pada 15 Agustus 2024 di Kantor Perwakilan BI Sulsel.

Baca Juga : 22 UMKM REWAKO Binaan BI Sulsel Jajaki Peluang Ekspor di Trade Expo Indonesia 2026

Tema yang diangkat adalah “Strategi Penguatan Ekspor Produk Sulawesi Selatan di Tengah Gejolak Ekonomi Global”. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber.

Pertama hadir Rizki Ernadi Wimanda yang merupakan Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel, dengan paparan mengenai perkembangan terkini Ekonomi global, nasional, dan Sulsel. Selanjutnya, ada Josua Pardede selaku Chief Economist PT. Bank Permata Tbk dengan paparan mengenai Strategi Penguatan Ekspor Sulawesi di Tengah Gejolak Ekonomi Global.

Narasumber ketiga adalah Arief R. Pabettingi selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) DPD Sulselbar.

Baca Juga : BI Sulsel Bawa 11 UMKM Binaan Perluas Pasar di ISEF 2026

Berdasarkan paparan ketiga narasumber, Sulsel masih memiliki peluang untuk dapat meningkatkan kinerja ekspor dalam mendorong perekonomian Daerah.

Rizki menjelaskan, saat ini kinerja ekspor Sulsel masih relatif terbatas oleh karena pemulihan perekonomian global masih belum optimal karena tingginya ketidakpastian dan dampak dari konflik geopolitik.

:Namun, pemberian insentif daerah berbasis ekspor dapat menjadi salah satu opsi solusi. Sejalan dengan hal tersebut, Arief juga menjelaskan bahwa pemberian subsidi dan premi ekspor juga merupakan langkah yang dapat diambil untuk mendorong kinerja ekspor Sulsel ke depan,” jelas Rizki.

Baca Juga : Ekspedisi Rupiah Berdaulat Sasar Lima Pulau Sulsel, Bawa Rp25 Miliar Uang Tunai

Sementara itu, Josua memaparkan, akselerasi hilirisasi rumput laut dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah produk ekspor Sulsel. Rumput laut juga merupakan komodi ekspor unggulan Sulsel. Namun, saat ini porsi rumput laut yang diekspor masih didominasi oleh raw materials (bukan produk hasil olahan).

Sementara itu, Josua menambahkan bahwa hilirisasi dan pendalaman ekspor tersebut membutuhkan peningkatan kapasitas produksi rumput laut sebagai bahan baku.

Pemberian insentif bagi para pelaku usaha, termasuk distribusi bibit rumput laut yang berkualitas dan manajemen inventory dapat membantu meningkatkan produksi sekaligus menjaga fluktuasi harga rumput laut.

Baca Juga : Perkuat Ekonomi Syariah, BI Sulsel Hadirkan Tiga Agenda Utama di BEKS 2026

Sulsel Talk triwulan II 2024 berupaya untuk memberikan solusi konkret terhadap masalah dan tantangan perekonomian Sulsel. Sebanyak 213 peserta yang hadir dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, Forkopimda, media, secara antusias menyimak dan berdiskusi pada sesi tanya jawab hingga kegiatan selesai.

Acara yang dimoderatori oleh Nana Djamal ini menyimpulkan 4 hal yaitu:

1. Sulawesi Selatan memiliki potensi ekspor non mineral dari wilayah daratan maupun kepulauan, antara lain rumput laut, ikan segar, serta pertanian dan hortikultura.

Baca Juga : BI Sulsel Hadirkan Layanan Rupiah di Pulau Kapoposang Pangkep

2. Terkait pengembangan rumput laut, terdapat kendala berupa fluktuasi harga. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan kapasitas produksi, insen:f pelaku usaha (termasuk distributor rumput laut), manajemen inventori, dan pengembangan SDM pengelola rumput laut.

3. Diperlukan SKK (Sinergi, Kolaborasi, dan Koordinasi) lintas otoritas untuk meningkatkan kinerja ekspor, antara lain 1) kepas:an mitra dagang terutama ke pasar non tradisional seper: Afrika, Nigeria, Timur Tengah, 2) dukungan pembiayaan, 3) dukungan transportasi direct call serta biaya transportasi yang terjangkau.

4. Selain itu, perlu peningkatan industri pengolahan yang selain meningkatkan nilai tambah komoditas, juga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Metropolitan18 Oktober 2026 15:48
Dari Komisariat Menuju Panggung Nasional, Dr Fachri Bachmid Berbagi Pesan Intelektual kepada Calon Kader HMI Hukum UMI
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) Angkatan 115 Basic Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Hukum Universita...
Pendidikan18 Oktober 2026 15:11
BRI Peduli Dukung Gerai CERDAS PeKA, Perkuat Literasi Keuangan Mahasiswa
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program BRI Peduli mendukung kehadiran Gerai CERDAS PeKA di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, un...
News18 Oktober 2026 09:40
Sinyal Bahaya di Balik Panggilan Tak Dikenal
Penipuan digital dapat menyusup ke aktivitas sehari-hari, mulai dari transaksi usaha kecil hingga panggilan telepon yang tampak biasa. Di tengah ancam...
Metropolitan17 Oktober 2026 23:02
Waspada Penipuan Mencatut Nama Anggota DPRD Makassar Muchlis A Misbah
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Beredar akun WhatsApp yang mengatasnamakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar H Muchlis A Mi...