Logo Sulselsatu

Demokrasi Indonesia Masih Trial and Error, Guru Besar UIN Makassar Sebut Evaluasi Sistem Pilkada Perlu Dilakukan

Muh Jahir Majid
Muh Jahir Majid

Selasa, 10 Februari 2026 17:15

istimewa
istimewa

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Pakar kebijakan publik Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Risma Niswaty, menilai wacana pilkada tidak langsung melalui DPRD dapat menjadi opsi untuk memperkuat kaderisasi partai politik sekaligus mendorong lahirnya kepala daerah dengan standar kompetensi yang lebih jelas. Sebab, partai akan memilih kader terbaiknya yang memenuhi standar kompetensi, bukan popularitas semata.

“Saya kira itu salah satu alasan mengapa beberapa elite partai cenderung setuju pilkada balik ke DPRD. Karena dengan cara itu, mungkin kita berharap mereka melahirkan kader-kader yang punya standar; standar pendidikan, standar pengalaman. Karena sekarang kita lihat siapa saja bisa maju, kita tidak tahu latar belakangnya. Padahal rakyat yang dipimpin sangat mungkin lebih cerdas dari wakilnya,” kata Risma dalam diskusi Forum Wartawan Politik (FWP) dengan tema “Menakar Wacana Perubahan Sistem Pilkada” di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (10/2/2026).

Risma menjelaskan, sistem pilkada langsung selama ini membuat kontestasi politik kerap ditentukan oleh faktor popularitas dan kekuatan modal, sehingga partai politik dinilai belum optimal menjalankan fungsi pendidikan dan kaderisasi. Ia menekankan, apabila pilkada dipindahkan ke DPRD, partai politik seharusnya memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menyiapkan kader dengan pengalaman, pendidikan, dan rekam jejak yang terukur.

Sementara itu, sosiolog Universitas Negeri Makassar Dr. Hasruddin Nur menilai salah satu keuntungan pilkada tidak langsung adalah ruang pengawasan yang lebih sempit karena jumlah aktor politik yang terlibat jauh lebih terbatas dibanding pilkada langsung. Dengan jumlah stakeholder yang lebih sedikit, praktik penyimpangan seperti politik uang dapat dengan mudah diawasi dan dicegah.

“Kalau dibilang lebih mudah, ya lebih mudah. Contohnya di Sulawesi Selatan, DPRD provinsi itu 85 orang. Kota Makassar 50 orang. Jadi proses pengawasan bisa lebih mudah, lebih gampang terdeteksi lah,” ujar Hasruddin.

Menurut Hasruddin, pilkada langsung selama ini membuka ruang politik uang yang masif karena melibatkan jutaan pemilih, sementara dalam mekanisme DPRD, potensi transaksi tetap ada namun lebih terpusat sehingga lebih mudah diawasi oleh lembaga penegak hukum. Ia juga mengingatkan bahwa pembenahan regulasi dan sistem partai politik menjadi syarat utama apabila perubahan mekanisme pilkada benar-benar diterapkan agar tidak memunculkan krisis kepercayaan publik.

Dalam kesempatan yang sama, pakar komunikasi politik Universitas Islam Negeri Makassar, Prof. Dr. Firdaus Muhammad, menilai demokrasi Indonesia masih berada dalam fase trial and error, sehingga evaluasi sistem pilkada perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sosial politik masyarakat. Ia pun menilai sistem pemilihan langsung dengan sistem one man one vote memiliki risiko besar pada terpilihnya seorang kepala daerah yang didasari oleh politik uang.

“Memang kita terlalu maju ketika pemilihan langsung, one man one vote. Tetapi setelah dievaluasi, risikonya besar sekali. Karena belum berimbang antara pendidikan politik, pemahaman politik masyarakat, dan kondisi sosial-ekonomi. Sehingga sebagian masyarakat memilih karena disodori uang. Dan itu adalah sebuah kejahatan demokrasi,” kata Firdaus.

Menurut Firdaus, jika pilkada dikembalikan ke DPRD, partisipasi publik memang berkurang, namun demokrasi tetap dapat diperkuat melalui perbaikan sistem rekrutmen calon dan sanksi tegas bagi praktik politik uang. Ia menekankan bahwa solusi terbaik adalah memastikan partai politik tidak hanya menjadi kendaraan elite, tetapi benar-benar menjalankan fungsi kaderisasi dan pendidikan politik bagi masyarakat.

Meski begitu, Firdaus tetap menyarankan agar sistem pilkada tidak diubah. Namun, ia menekankan perlu adanya perbaikan masif pada sistem regulasi, pengawasan, hingga pencalonan para kader yang bertarung pada pemilihan.

“Jalan tengahnya adalah tetap pemilihan langsung, tetapi dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Yang pertama, bagaimana menentukan calon. Calon harus ada kriteria yang ketat. Jangan hanya elite politik yang menentukan calon, lalu masyarakat disodori dua, tiga, atau lima nama, bahkan kadang hanya kotak kosong, kemudian disuruh memilih,” pungkasnya.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Ekonomi19 September 2026 20:06
OJK Siapkan Aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan dua Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang menjadi dasar pengaturan dan pengawasan Bursa Mineral dan Ko...
Makassar19 September 2026 16:59
Haka Auto Ajak Komunitas Makassar Uji Efisiensi BYD M6 DM dan Teknologi V2L
PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto) mengajak komunitas otomotif di Makassar merasakan langsung teknologi kendaraan elektrifikasi BYD melalui rangkaian keg...
Olahraga19 September 2026 16:35
Honda DBL 2026 Resmi Bergulir, Asmo Sulsel Siapkan Games dan Promo
Kompetisi Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Sulawesi resmi bergulir setelah Opening Party digelar di GOR UMI Makassar, Jumat (18/9/2026)....
News19 September 2026 13:49
Pelindo Dorong Transformasi Green Port, Luncurkan OPS di Tanjung Priok
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo meluncurkan layanan Onshore Power Supply (OPS) di Dermaga Serbaguna Nusantara, Terminal PNP Dermaga 004,...