Logo Sulselsatu

Harga Cabai Naik di Makassar, TPID Sulsel Gelar Gerakan Pangan Murah

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Rabu, 30 September 2026 20:40

Harga Cabai Naik di Makassar, TPID Sulsel Gelar Gerakan Pangan Murah. Foto: Istimewa.
Harga Cabai Naik di Makassar, TPID Sulsel Gelar Gerakan Pangan Murah. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan memperkuat upaya menjaga stabilitas harga pangan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Makassar, Rabu (30/9/2026).

GPM yang digelar di Halaman Kantor Camat Tallo tersebut turut dirangkaikan dengan edukasi QRIS dan hilirisasi komoditas cabai.

Acara resmi dibuka Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan Muh. Ilyas dan dihadiri Camat Tallo Andi Husni serta Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Oki Hermawan.

Baca Juga : Sulsel Raih TPID Award dan TP2DD Championship 2026

Pelaksanaan GPM menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi pangan dengan menerapkan prinsip 4T, yakni tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas.

Pelaksanaan tersebut menyasar komoditas pangan yang mengalami tekanan harga sekaligus memberikan akses pangan dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.

Kepala Bank Indonesia (BI) Sulsel Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, cabai menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam GPM kali ini.

Baca Juga : Program NSE CBP Rupiah dan Green PUR BI Sulsel Raih Penghargaan IABC Indonesia Awards 2026

Berdasarkan perkembangan harga per 25 September 2026, harga cabai rawit merah di Kota Makassar tercatat Rp71.250 per kilogram, berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang berada pada kisaran Rp40.000–Rp57.000 per kilogram.

“Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pelaksanaan intervensi melalui GPM. Sebanyak 250 paket tebus murah cabai disiapkan dengan harga Rp17.500 per paket,” ujar Rizki dalam rilis BI Sulsel, Rabu (30/9/2026).

Setiap paket berisi cabai merah 200 gram, cabai rawit 200 gram, dan cabai keriting 200 gram. Pembelian dilakukan menggunakan QRIS sehingga masyarakat dapat memperoleh pangan dengan harga terjangkau sekaligus menggunakan transaksi pembayaran non-tunai.

Baca Juga : Dibina Rewako, Raja Madu Sulawesi Kini Tembus Pasar Global

Selain cabai, GPM menyediakan sejumlah komoditas pangan lainnya, seperti beras, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging sapi, telur ayam ras, tepung terigu, aneka sayuran dan buah segar, serta produk olahan.

Rangkaian GPM juga dimanfaatkan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai penggunaan QRIS.

Edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap transaksi pembayaran digital yang mudah, cepat, dan efisien.

Baca Juga : Dukung Kajian IMTI 2026, BI Sulsel Dorong Penguatan Pariwisata Ramah Muslim

Penggunaan QRIS dalam transaksi GPM menjadi salah satu contoh penerapan digitalisasi pembayaran dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Bagi Bank Indonesia, pengendalian inflasi merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai Rupiah, khususnya kestabilan harga barang dan jasa.

Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia terus bersinergi dengan pemerintah melalui forum TPIP/TPID untuk merespons dinamika harga dan menjaga stabilitas perekonomian daerah.

Baca Juga : BI Sulsel Dorong Lima Proyek Investasi Unggulan Lewat SSIC 2026

Stabilisasi harga cabai dalam kegiatan tersebut juga disertai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas. Karena itu, GPM turut menghadirkan edukasi hilirisasi cabai serta showcasing produk olahan cabai dari UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan.

Pengolahan cabai menjadi produk bernilai tambah diharapkan dapat membuka potensi pasar yang lebih luas dan memperpanjang umur simpan komoditas. Langkah tersebut sekaligus memberikan peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.

Integrasi antara GPM, digitalisasi pembayaran, dan edukasi hilirisasi menjadi bagian dari pendekatan pengendalian inflasi yang lebih menyeluruh.

GPM merespons kebutuhan masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau, sementara digitalisasi dan hilirisasi diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi serta meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha.

Melalui sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan, TPID Sulawesi Selatan terus mendorong stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Bisnis30 September 2026 18:56
Jadi Baruga Friends, Bukit Baruga Beri Komisi hingga Rp15 Juta
Bukit Baruga menghadirkan Baruga Friends, program referral yang memberikan kesempatan kepada masyarakat memperoleh penghasilan tambahan melalui rekome...
News30 September 2026 18:29
Pengembalian Formulir Ditutup, Badris Salam Kandidat Tunggal Ketua REI Sulsel
SULSELSATU.com, MAKASSAR — Pengembalian formulir bakal calon Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan periode 2026–2029 resmi ditutup...
Nasional30 September 2026 18:00
LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan 3,75 Persen hingga Januari 2027
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) untuk periode 1 Oktober 2026 hingga 31 Januari 2027. Keputusan tersebut ...
Metropolitan30 September 2026 16:59
Kanal Panampu Al-Markaz Bakal Ditata Jadi Wisata Baru, UMKM Ikut Dilibatkan
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut inisiasi kolaboratif revitalisasi Kanal Panampu di kawasan Masjid Al...