Kontak Senjata di Mimika, Dua Anggota KKB Tewas

Ilustrasi. (int)
images-ads-post

MIMIKA – Dua anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tewas dalam kontak tembak antara gabungan personel TNI-Polri di Trans Nabire, Distrik Iwakan, Mimika, Papua, Kamis (9/4/2020).

Dalam kontak tembak tersebut satu orang berinisial IS berhasil ditangkap dan saat ini berada di Mapolres Mimika untuk proses hukum lebih lanjut.

“Mereka merupakan anggota KKB yang melakukan penembakan terhadap karyawan Freeport WNA asal New Zealand di Kantor OB 1 Kompleks PT. Freeport Indonesia pada tanggal 30 Maret lalu,” kata Kabid Humas Polda Papua, Ahmad Musthofa Kamal, Jumat (10/4/2020).

Kamal mengatakan, aparat keamanan telah melakukan penindakan tegas terhadap KKB yang melakukan penembakan di kantor OB 1 kompleks PT.FI di Kuala Kencana pada tanggal 30 Maret 2020.

Kamal menjelaskan, aksi kontak ini berawal pada hari Selasa tanggal 7 April 2020 pukul 14.44 WIT telah diamankan 6 orang yang diduga akan menyuplai bahan pokok ke KKB, setelah dilakukan penyelidikan aparat gabungan berhasil menemukan tempat persembunyian kelompok tersebut.

“Aparat gabungan langsung melakukan penindakan terhadap kelompok tersebut dan sempat terjadi kontak,” ujarnya.

Selain itu, aparat gabungan berhasil mengamankan barang bukti berupa 1 Buah Air Soft Gund Merk Glock; 1 Buah Senjata Rakitan, 162 Butir Peluru. Kemudian, 10 Buah Selongsong, 20 Buah Hp, 2 Buah HT, 3 Buah Bendera Corak Bintang Kejora dan 3 Buah Kampak.

Selanjutnya, 3 Buah Busur Panah, 90 Buah Anak Panah, 11 Buah Parang, 7 Buah Senapan Angin, dan 11 Buah Potongan Bagian Senapan Angin.

Kamal menjelaskan saat ini situasi pasca-penindakan tegas terhadap anggota KKB aman dan kondusif. Aparat gabungan TNI-Polri terus melakukan pengejaran terhadap para kelompok tersebut yang melarikan diri ke hutan tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

Sementara satu orang dari kelompok KKB berinisial IS telah ditahan di Mapolres Mimika dan untuk dua korban meninggal dunia dari KKB tersebut belum diketahui identitasnya karena masih dalam proses identifikasi.

Editor: Hendra Wijaya