SULSELSATU.com – Warga di Pesisir Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur berbahagia karena ikan dan kepiting mulai melimpah.
Kondisi ini merupakan hasil dari inisiatif dari pelaku usaha untuk berkontribusi bersama menjaga ekosistem lingkungan dengan menanam kembali mangrove.
Meski sempat terancam abrasi sekitar lima tahun lalu akibat menyusutnya ekosistem mangrove, warga mulai berbahagia.
Baca Juga : PT Vale Dukung Praktik Pertambangan Berkelanjutan di Pomalaa, Terbuka terhadap Masukan
Salah seorang dari mereka, Restu mengaku rutin memancing sejak enam bulan lalu. Dia mengatakan, keberadaan ikan dan kepiting di pesisir, akhir-akhir ini mulai melimpah kembali.
“Kalau dibandingkan sekitar lima tahun lalu, jelas beda. Sekarang ikan di sini makin banyak, kepiting juga banyak. Alhamdulillah bisa dibilang ini hasil kita menanam mangrove,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.
Hasil manis yang dinikmati warga ini karena mereka mulai rutin melakukan penanaman mangrove sejak 2023 lalu, saat adanya kucuran bantuan dari industri seperti PT Vale Indonesia.
Kepala Desa Pasi-Pasi Sopyan Ibnu Hasim mengatakan, ancaman abrasi telah memberi dorongan besar ke warga untuk bergotong royong memperbaiki lingkungan sekitar.
Sopyan Ibnu Hasim mengatakan, saat ada bantuan pengembangan mangrove, para warga sangat antusias terjun langsung melakukan penanaman dengan menyediakan alat secara mandiri.
”Alat seperti cangkul, itu warga sendiri yang sediakan. Sangat antusias waktu ada program penanaman dari Vale. Sekarang sudah mulai kelihatan dampaknya. Ikan dan kepiting sudah mulai banyak lagi di pesisir. Manfaatnya langsung terasa karena sebagian dari warga, profesinya adalah nelayan,” ungkap Sopyan.
Baca Juga : PT Vale Turut Peringati Hari Dharma Samudera di Morowali
Bahkan, pemerintah desa merencanakan pengembangan hutan mangrove menjadi destinasi wisata melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Nantinya akan dikelola bersama warga.
Pembenahannya mulai dari tracking mangrove yang akan diperpanjang. Kemudian akan mengundang para pelaku UMKM lokal untuk membuka tenant di sepanjang jalur tersebut.
Tujuannya tidak lain adalah untuk menumbuhkan perputaran ekonomi dan menambah penghasilan warga sekitar.
Baca Juga : Sinergi Industri dan Pertahanan Laut, Dankodaeral VI Makassar Kunjungi PT Vale IGP Morowali
“Selain lokasi wisata, hutan mangrove juga akan dijadikan tempat edukasi bagi anak-anak sekolah. Mereka bisa ke sini mengunjungi dan mempelajari soal lingkungan,” ucapnya.
Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale Sainab Husain Paragay menjelaskan, program rehabilitasi ini awalnya dimulai dengan kajian preliminary study untuk mengidentifikasi kondisi ekosistem dan penghidupan masyarakat pesisir.
Desa Pasi-Pasi dipilih karena memiliki mangrove tua yang perlu dilestarikan dan masyarakatnya sangat bergantung pada hasil laut.
Baca Juga : RKAB 2026 PT Vale Disetujui, Tegaskan Kepastian Operasional dan Keberlanjutan Investasi
”Dari hasil baseline itu, ekosistem di Desa Pasi-Pasi ini sudah terjadi degradasi, terjadi penurunan kualitas lingkungannya, daya dukung lingkungan. itu berpengaruh dan berimbas kepada perekonomian masyarakat,” jelas Sainab.
PT Vale kemudian mendorong pembudidayaan mangrove sejak 2023. Kemudian berlanjut pada 2024 dengan menanam sekitar 2.000 pohon. Tahun ini, mereka telah merencanakan penanaman 4.000 pohon lagi.
Selain itu, Vale juga mengadakan pelatihan pembibitan dengan target 5.000 pohon.
Lebih jauh lagi, masyarakat Luwu Timur sebenarnya saat ini sedang giat juga memupuk keberlanjutan demi mengimbangi masifnya aktivitas pertambangan di kabupaten tersebut.
Berbagai inisiatif muncul, selain pemulihan ekosistem pesisir, pemanfaatan hama menjadi sumber ekonomi baru, hingga pengelolaan sampah secara terintegrasi juga digaungkan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar