Logo Sulselsatu

Lahan Kritis Berbuah, Ekosistem Pesisir Terjaga

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Minggu, 27 September 2026 09:09

Panen nanas jajaran PT Vale Indonesia Tbk bersama unsur Forkopimda setempat beberapa waktu yang lalu di Desa Tabarano, Kabupaten Luwu Timur. Foto: Istimewa.
Panen nanas jajaran PT Vale Indonesia Tbk bersama unsur Forkopimda setempat beberapa waktu yang lalu di Desa Tabarano, Kabupaten Luwu Timur. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com, LUWU TIMUR – Keberlanjutan tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi besar atau proyek berskala raksasa. Di sekitar wilayah operasional PT Vale Indonesia Tbk di Luwu Timur, upaya itu dapat dilihat dari cara lahan dimanfaatkan, pangan dikembangkan, pesisir dipulihkan, dan masyarakat diberi ruang untuk membangun sumber penghidupannya.

Di Desa Tabarano, lahan dimanfaatkan untuk menumbuhkan nanas dan mengembangkan produk turunannya. Sementara di pesisir Malili, mangrove, lamun, dan terumbu karang menjadi bagian dari upaya restorasi dan konservasi, bersamaan dengan pengembangan hasil laut untuk memperkuat mata pencaharian masyarakat.

Dua pendekatan tersebut kemudian mendapat pengakuan dalam ajang Innovation and Technology for Social and Environmental Sustainability (InTechSEA) Awards 2026. PT Vale meraih Gold Award untuk Program Pengembangan Desa melalui Pendayagunaan Lahan yang Tangguh & Alami (PONDATA) pada kategori CSR & Community Empowerment in Food serta Gold Award untuk Program Restorasi dan Konservasi Kawasan Pesisir dan Hasil Olahan Laut Kecamatan Malili pada kategori Maritime.

Baca Juga : PT Vale Bawa 37 Produk UMKM Binaan ke Kriyanusa 2026

Penghargaan tersebut menarik bukan semata karena jumlah piala yang diterima. Ia menjadi alasan untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi di balik dua program tersebut, bagaimana sebuah lahan dikembangkan, ekosistem pesisir dipulihkan, dan upaya tersebut diarahkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Ubah Lahan jadi Sumber Pangan
Cerita PONDATA bermula dari bagaimana lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali memiliki nilai bagi masyarakat.

Di Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, pendekatan yang digunakan tidak hanya berupa penanaman komoditas. Prosesnya dimulai dengan pemetaan sosial untuk memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan yang melibatkan masyarakat.

Baca Juga : PT Vale Bangun Fire Shelter Pertama di Bungku Timur, Perkuat Kesiapsiagaan Kebakaran

Pada 2024, dukungan PT Vale mulai masuk melalui bantuan pembibitan dan fasilitas pertanian. Salah satunya berupa hand tractor yang digunakan untuk memudahkan masyarakat mengolah tanah.

Dukungan tersebut kemudian berkembang. Pada tahun berikutnya, dibangun rumah kompos, rumah maggot, nursery hingga rumah produksi yang mendukung aktivitas masyarakat dalam mengelola kebun.

Bagi pemerintah desa, dukungan dari pihak industri membuka ruang yang sulit dicapai hanya dengan mengandalkan kemampuan anggaran desa.

Baca Juga : PT Vale Dukung Kolaborasi Multipihak untuk Kelola Danau Matano Berkelanjutan

“Kalau andalkan dana desa, percepatan pasti tidak terjadi. Kami bersyukur ada pihak yang melirik kami dengan pendampingan soal pembudidayaan dan pengembangan nanas,” ungkap Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo saat itu.

Dari proses tersebut, lahan kemudian dikembangkan untuk tanaman nanas dan kelapa. Infrastruktur pendukung juga dibangun untuk menunjang produktivitas lahan, termasuk jalan dan drainase dengan investasi yang disebut dalam materi program mencapai US$24.175.

Di atas lahan itu, nanas kemudian tumbuh menjadi lebih dari sekadar hasil panen. Komoditas tersebut dikembangkan menjadi sejumlah produk olahan seperti selai, jus, dodol, manisan, dan keripik nanas.

Baca Juga : Dari Air Limpasan Tambang ke Air Terolah, Menelusuri Peran LGS PT Vale

Di titik ini, PONDATA memperlihatkan bahwa nilai sebuah lahan tidak berhenti pada apa yang tumbuh di atasnya. Ada upaya untuk menghubungkan produksi dengan pengolahan sehingga komoditas lokal memiliki peluang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Data PT Vale menyebut pengembangan PONDATA telah mencakup lahan kritis seluas 5 hektare, dengan penanaman 36.000 tanaman nanas dan 200 bibit kelapa muda. Program tersebut disebut memberikan manfaat kepada 105 penerima manfaat langsung dan 390 penerima manfaat tidak langsung.

Masyarakat juga dilibatkan dalam proses panen. Bagi mereka, hasil yang mulai terlihat membawa harapan agar kebun tersebut nantinya ikut menambah pendapatan keluarga.

Baca Juga : PT Vale Integrasikan Pengelolaan Alam dan Inovasi Rendah Karbon untuk Perkuat Ketahanan Energi

“Kedepannya, kami harapkan bisa menambah pendapatan kami sebagai ibu rumah tangga,” ucap Gilda Meiyani, salah seorang anggota Kelompok PONDATA.

Hasil Panen jadi Peluang Baru
Pengembangan produk turunan membuat PONDATA bergerak lebih jauh dari sekadar program pemanfaatan lahan.

Head of External Relations PT Vale Endra Kusuma mengatakan, dukungan yang diberikan perusahaan berangkat dari potensi nanas yang dinilai dapat menjadi identitas Wasuponda sekaligus menggerakkan ekonomi desa.

“Kami melihat potensi nanas sebagai identitas Wasuponda yang bisa mengangkat ekonomi desa sekaligus menjaga lingkungan. Karena itu kami masuk dengan pendampingan teknis, bantuan sarana produksi, hingga pembangunan rumah kompos dan rumah maggot sebagai penunjang,” ujar Endra Kusuma.

Nanas yang sebelumnya berada pada tahap budidaya kemudian masuk ke proses pengolahan. Dari satu komoditas, muncul berbagai bentuk produk yang membuka kemungkinan kegiatan ekonomi baru di tingkat masyarakat.

Ketua Kelompok Pengelola Produk Turunan Nanas (PONDATA) Desa Tabarano, Yohanes Gusti, menyebut produksi nanas pada 2024 mencapai sekitar 500 kilogram. Tahun berikutnya, hasil produksi meningkat menjadi sekitar 600 kilogram dan masih berpeluang bertambah seiring berlanjutnya masa panen.

“Kita upayakan produksinya bisa terus tambah, apalagi target kita kebun nanas ini akan diperluas sampai tercapai 10 hektare,” katanya.

Potensi pengembangan itu bahkan tidak berhenti pada hasil pertanian. Kawasan tersebut mulai diarahkan memiliki potensi sebagai agrowisata nanas, sehingga kebun tidak hanya menjadi ruang produksi, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi dan kunjungan.

Turun ke Generasi Berikutnya
Cerita tentang keberlanjutan di Tabarano kemudian bergerak ke kelompok usia yang berbeda.

Pada 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-58, PT Vale meluncurkan Kelas Konservasi, program pengembangan kapasitas bagi 50 pelajar SMA/sederajat dari wilayah pemberdayaan di Luwu Timur.

Program tersebut diluncurkan di Kawasan Agrowisata Nanas PONDATA, Kecamatan Wasuponda. Materinya memadukan pembelajaran konservasi, kepemimpinan, praktik lapangan, kepenulisan, dan ekonomi hijau.

Kelas Konservasi menjadi bagian dari upaya memperluas cerita keberlanjutan dari pengelolaan lahan ke pengetahuan. Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada isu keanekaragaman hayati, perubahan iklim, rehabilitasi ekosistem dan pengelolaan lingkungan, tetapi juga dibekali kemampuan menyusun gagasan dan proyek sosial.

Chief Sustainability & Corporate Affairs PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan tantangan keberlanjutan membutuhkan lebih dari sekadar inovasi teknologi dan kepatuhan terhadap regulasi.

“Output dari kegiatan ini adalah para siswa dapat menjadi duta lingkungan yang mandiri. Mereka tidak hanya belajar secara normatif di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai pentingnya kepedulian terhadap lingkungan yang ditanamkan sejak awal,” ujar Budiawansyah.

Bagi Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo, kehadiran program tersebut memberi kesempatan kepada generasi muda untuk belajar langsung mengenai lingkungan dan konservasi.

“Program seperti ini sangat penting karena memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk belajar langsung tentang lingkungan dan konservasi. Harapannya, mereka dapat menjadi pelopor yang membawa perubahan positif di masyarakat, khususnya di Luwu Timur,” ujarnya.

Pesisir Ruang Kehidupan
Jika PONDATA berangkat dari lahan yang sebelumnya tidak produktif, cerita lainnya datang dari pesisir. Di Luwu Timur, PT Vale menjalankan program restorasi dan konservasi kawasan pesisir serta pengembangan hasil olahan laut untuk memperkuat ketahanan ekosistem sekaligus kehidupan masyarakat pesisir.

Pendekatan yang digunakan tidak hanya menempatkan pesisir sebagai kawasan yang perlu dilindungi, tetapi sebagai ruang kehidupan yang menopang berbagai ekosistem dan aktivitas masyarakat. Programnya mencakup restorasi terumbu karang, mangrove, dan lamun, sekaligus mendorong pengembangan potensi hasil laut agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Salah satu upaya tersebut dilakukan di kawasan Mangkasa Point, Desa Harapan, Kecamatan Malili. Bersama Universitas Hasanuddin, komunitas, aktivis lingkungan, dan relawan, PT Vale melakukan penanaman 50 bibit mangrove jenis Avicennia, transplantasi 200 lamun jenis Enhalus acoroides, serta aksi bersih pantai.

“Upaya ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Setelah melalui pengukuran parameter lingkungan, kami berharap transplantasi lamun di perairan Mangkasa Point ini dapat tumbuh dan berkembang sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekosistem pesisir,” kata St. Firjatih Widhah dari tim Puslit Sumberdaya Alam LPPM Universitas Hasanuddin.

Mangrove berperan menahan abrasi dan menjadi habitat berbagai biota, sementara lamun menjadi tempat mencari makan dan berkembang biak bagi organisme laut. Lamun juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon biru sehingga keberadaannya turut berperan dalam menghadapi perubahan iklim.

Namun, memulihkan pesisir bukan pekerjaan sekali selesai. Penanaman dan transplantasi menjadi langkah awal yang membutuhkan pemantauan, kajian teknis, serta kolaborasi lintas pihak agar ekosistem yang dipulihkan dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Kami ingin menghadirkan program keberlanjutan yang memberikan manfaat nyata dan dapat terus berkembang melalui dukungan seluruh pihak,” ungkap Head of Sorowako Limonite Project Suharpiyu Wijaya.

Heriyanto mengatakan program pemberdayaan yang kuat menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam proses.

Menurut dia, pendekatan kolaboratif diperlukan dengan melibatkan pengetahuan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan mitra lainnya.

Hal yang sama terlihat dalam PONDATA. Program tidak hanya berbicara mengenai apa yang ditanam, tetapi juga bagaimana masyarakat dilibatkan sejak pemetaan hingga pengembangan potensi yang ada di wilayahnya.

“Program pemberdayaan yang kuat lahir ketika masyarakat ditempatkan sebagai bagian utama dari proses, bukan sekadar sebagai penerima manfaat. Karena itu, kami terus mendorong pendekatan kolaboratif yang mempertemukan pengetahuan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan berbagai mitra untuk menciptakan solusi yang relevan dan berkelanjutan,” ujar Heriyanto.

Wakil Presiden Direktur dan Chief Operation and Infrastructure Officer PT Vale Abu Ashar mengatakan, penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap upaya perusahaan dalam memastikan aktivitas pertambangan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Bagi PT Vale, keberhasilan sebuah program tidak berhenti pada pelaksanaannya, tetapi ditentukan oleh sejauh mana program tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan kemandirian, dan menghasilkan manfaat yang dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujar Abu.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Teknologi28 September 2026 20:04
ASUS Vivobook S14 Terbaru Resmi Diperkenalkan, Bawa Intel Core 7 dan Baterai hingga 20 Jam
SULSELSATU.com, MAKASSAR – ASUS memperkenalkan laptop terbaru Vivobook S14 (S5452MA) yang ditenagai prosesor hingga Intel® Core™ 7 Serie...
Bisnis28 September 2026 18:26
Bumi Karsa Bangun Dua Jembatan Bailey Perkuat Konektivitas Routa
PT Bumi Karsa membangun dua Jembatan Bailey di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, untuk memperkuat konektivitas dan mendukung mobilitas masyarakat....
Makassar28 September 2026 18:24
Wali Kota Makassar Sampaikan Jawaban Pemandangan Umum Fraksi DPRD Soal Perubahan APBD 2026
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan jawaban dan tanggapan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar atas pema...
Makassar28 September 2026 17:37
Jelang HUT ke-26, Mal Ratu Indah Sulap Area Parkir Jadi Ruang Kreatif
Menjelang perayaan HUT ke-26 pada November 2026, Mal Ratu Indah (MaRI) menghadirkan Artcade sebagai ruang kreatif yang mempertemukan komunitas, UMKM, ...