SULSELSATU.com, BANDUNG – Program BRI Bertani di Kota (BRInita) yang dikembangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Peduli telah menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah serta 4,7 ton hasil perikanan sejak dijalankan pada 2021.
Program berbasis urban farming tersebut memanfaatkan lahan di kawasan perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan lingkungan.
Hingga 2026, BRInita telah berkembang di 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 kantor regional dan 16 provinsi.
Baca Juga : BRI Peduli Salurkan 270 Pompa Air Atasi Karhutla
Program ini menjangkau 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung.
Selain menghasilkan pangan, BRInita juga mengembangkan 70 produk olahan turunan. Pendapatan kelompok penerima manfaat tercatat mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan.
Program ini turut menyelenggarakan 62 sesi pelatihan yang mencakup pertanian perkotaan, pengelolaan sampah organik, dan pengembangan produk.
Baca Juga : BRI Peduli Dukung Gerai CERDAS PeKA, Perkuat Literasi Keuangan Mahasiswa
Program tersebut diperkenalkan kepada 35 jurnalis dari berbagai daerah melalui rangkaian Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026 di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar RW 03, Kota Bandung, Jumat (30/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para jurnalis diajak terlibat langsung dalam aktivitas pertanian perkotaan, mulai dari menyemai, menanam, merawat, hingga memanen tanaman bersama masyarakat.
BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar menjadi salah satu contoh pemanfaatan lahan perkotaan berbasis komunitas yang dikembangkan BRI Peduli bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat.
Baca Juga : Jelang MotoGP Mandalika, BRI Latih 500 Pengelola Sampah
Di lahan sepanjang sekitar 60 meter dan lebar 5 meter, warga membudidayakan beragam tanaman pangan, buah, hingga tanaman herbal.
Komoditas yang ditanam antara lain pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, ubi jalar, jeruk, jambu, sawo, lengkeng, belimbing, pisang, pandan, serai, kunyit, jahe, dan lidah buaya.
Hasil panen dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat, termasuk mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Posyandu dan warga lanjut usia.
Baca Juga : BRI Peduli Wujudkan Mimpi Mahesa, Kini Berangkat Sekolah dengan Sepeda
Untuk mendukung kegiatan tersebut, BRI Peduli menyalurkan 16 jenis bantuan sarana budi daya pada 2025. Bantuan meliputi kebutuhan pengelolaan kebun, media tanam, pembibitan, hingga pengembangan vertical garden.
Dukungan kembali diperluas pada 2026 melalui 28 jenis sarana dan perlengkapan, termasuk kebutuhan budi daya, pengelolaan sampah, serta pengembangan pertanian terpadu melalui budidaya ikan dalam ember (budikdamber) dan ikan lele.
Lurah Pajajaran, Paridin, mengatakan pemanfaatan lahan kosong melalui pertanian perkotaan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi pangan maupun peluang ekonomi.
Baca Juga : Bantu Korban Gempa NTT, BRI Siapkan 3 Posko dan Dapur Umum
“Urban farming menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan lahan kosong agar lebih produktif. Kami sangat senang karena manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang tambahan penghasilan dan usaha sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong masyarakat,” tambahnya.
Salah satu peserta BRI Fellowship Journalism 2026, Sylviani Salsabila Putri dari Kabar Cirebon menilai, keterlibatan langsung dalam kegiatan tersebut memberikan pemahaman lebih utuh mengenai pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
“Di sini kami bisa melihat langsung prosesnya, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan ikut menanam dan memanen. Pengalaman seperti ini memberi konteks yang lebih kuat bagi kami sebagai jurnalis karena kami dapat memahami bagaimana urban farming dijalankan dan manfaatnya dirasakan oleh warga,” ujarnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, BRInita merupakan salah satu implementasi program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BRI Peduli yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat langsung bagaimana masyarakat terlibat sejak proses menanam hingga panen. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga, mendukung kegiatan sosial, maupun memberikan tambahan nilai ekonomi bagi warga,” ujar Dhanny.
Menurutnya, pengelolaan BRInita juga diarahkan untuk menambah ruang hijau dan memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk serta *eco enzyme*.
Dari sisi lingkungan, program ini telah menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan luas sekitar 4.000 meter persegi.
BRInita juga mengolah 4,7 ton limbah organik, menghasilkan lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair, serta mencatat efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kilogram CO2-eq.
BRI menyebut pengembangan BRInita turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait ketahanan pangan, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News






Komentar