Logo Sulselsatu

Putusan MK Ubah Desain Pemilu Serentak, Pilkada Mundur Paling Lambat 2,5 Tahun

Asrul
Asrul

Kamis, 26 Juni 2025 20:01

istimewa
istimewa

SULSELSATU.com, JAKARTAMahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa penyelenggaraan pemilu nasional dan pemilu daerah ke depan harus dilakukan secara terpisah dengan jeda waktu minimal dua tahun dan maksimal dua tahun enam bulan.

Putusan ini menandai perubahan besar dalam desain pemilu serentak yang selama ini dijalankan Indonesia.

Ketua MK Suhartoyo membacakan langsung amar putusan perkara Nomor 135/PUU-XXII/2024 di Gedung MK, Jakarta, Kamis (26/6). Permohonan ini sebagian dikabulkan MK, diajukan oleh Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).

Baca Juga : MK Ingatkan Aparat, Karya Jurnalistik Tak Bisa Langsung Dipidanakan

“Mengabulkan permohonan pemohon untuk sebagian,” ujar Suhartoyo dalam sidang pleno.

Putusan ini menyatakan bahwa Pasal 167 ayat (3) UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak berlaku secara konstitusional apabila tidak dimaknai secara baru. Pemilu nasional – yang mencakup pemilihan presiden-wakil presiden, DPR, dan DPD – tetap digelar serentak.

Namun, pemilu daerah seperti pemilihan DPRD provinsi/kabupaten/kota serta kepala daerah, digelar paling cepat dua tahun dan paling lama dua tahun enam bulan setelah pelantikan pejabat pusat tersebut.

Baca Juga : DPD RI Buka Opsi Perbaikan Sistem Pemilu, Termasuk E-Voting

Dengan putusan ini, MK menegaskan bahwa tahapan pemilu nasional dan daerah harus disusun secara bertahap dan berurutan. Pemilu daerah baru bisa digelar setelah presiden, wakil presiden, serta anggota DPR dan DPD hasil pemilu nasional resmi dilantik.

MK juga menyatakan ketentuan serupa berlaku untuk Pasal 347 ayat (1) UU Pemilu serta Pasal 3 ayat (1) UU Pilkada. Ketiga pasal itu kini tidak lagi memiliki kekuatan hukum mengikat apabila tidak ditafsirkan sesuai dengan ketentuan jeda waktu yang ditetapkan MK.

“Pemilu daerah harus dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dalam rentang dua tahun hingga dua setengah tahun pasca pelantikan pejabat pusat,” terang Suhartoyo.

Baca Juga : Gerindra Minta Waktu Kaji Putusan MK Soal Pemilu Terpisah, Singgung Semangat UUD 1945

Putusan ini akan berdampak besar pada desain pemilu serentak yang selama ini dinilai membebani penyelenggara, pemilih, hingga aparat keamanan. Selama dua pemilu terakhir, Indonesia menggabungkan pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD, dan kepala daerah dalam satu waktu atau berdekatan.

Koordinator Perludem Khoirunnisa Nur Agustyati menyambut baik keputusan ini karena membuka ruang perbaikan manajemen pemilu dan memberi jeda waktu yang cukup bagi penyelenggara dan masyarakat.

Dengan putusan ini, skema pemilu serentak 2024 yang akan diikuti Pilkada serentak pada November 2024 kemungkinan besar harus disesuaikan. Pemerintah dan DPR kini dituntut segera menyesuaikan regulasi untuk mengatur ulang tahapan-tahapan tersebut.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Bisnis06 September 2026 21:58
Samsung Neo WindFree Lite Hadir Mulai dari 0,5 PK Sampai 2 PK: Sejuk Tanpa Hembusan Angin Langsung, Kini Lebih Terjangkau
SULSELSATU.com, JAKARTA – PT Samsung Electronics Indonesia resmi meluncurkan Samsung AC Neo WindFree Lite di pasar Indonesia. Pendingin ruangan ...
News06 September 2026 21:29
PLN UIP Sulawesi dan Gubernur Gorontalo Perkuat Sinergi Infrastruktur Kelistrikan
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi (PLN UIP Sulawesi) memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk mendukung pembang...
Politik06 September 2026 17:31
SOKSI Diminta Kembali Jadi Mesin Kaderisasi dan Penguat Golkar di Sulsel
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ketua Umum Depinas SOKSI Mukhamad Misbakhun menegaskan pentingnya konsolidasi organisasi untuk mengembalikan kekuatan...
News06 September 2026 15:56
Direktur Keamanan PT TRK Pimpin Blokade Total PSN Pomalaa, Tantang dan Maki Aparat TNI
Tindakan sewenang-wenang yang dipertontonkan pihak manajemen PT Tambang Rejeki Kolaka (TRK) di kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) Pomalaa Industr...