SULSELSATU.com, MAKASSAR – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pinrang mulai berdampak terhadap aktivitas pertanian. Kondisi tersebut terutama dirasakan petani di wilayah yang minim akses irigasi.
Anggota DPRD Sulsel dari Fraksi Demokrat, Muhtadin, mengatakan terdapat sejumlah kecamatan yang terdampak musim kemarau. Dari 12 kecamatan di Kabupaten Pinrang, beberapa wilayah disebut mengalami dampak cukup serius.
“Yang terdampak itu di Kecamatan Cempaga, Kecamatan Lanrisang, dan Kecamatan Suppa. Ini yang sangat berdampak juga Kecamatan Suppa,” kata Muhtadin kepada wartawan di Kantor sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Makassar, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga : DPRD Sulsel Setujui MYP II Rp5 Triliun, Fokus Jalan, Jembatan hingga Irigasi
Menurut Muhtadin, persoalan kekeringan lebih terasa di wilayah yang jauh dari jaringan irigasi.
Ketika musim kemarau berlangsung dan curah hujan rendah, lahan pertanian yang hanya mengandalkan air hujan menjadi lebih rentan mengalami kekurangan air.
Kondisi tersebut berbeda dengan wilayah yang memiliki jaringan irigasi, meski saat musim kemarau distribusi air juga ikut terbatas akibat berkurangnya pasokan.
Baca Juga : DPRD dan Pemprov Sulsel Kompak Batalkan Kenaikan Pajak Kendaraan
Muhtadin mengatakan Kecamatan Suppa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena persoalan irigasi telah lama menjadi kebutuhan petani.
Bahkan, usulan perbaikan infrastruktur irigasi di wilayah tersebut telah disampaikan kepada pihak terkait.
“Kemarin sudah kita masukkan ke balai untuk perbaikan,” ujarnya.
Baca Juga : Debit Air Meluap Saat Hujan, Warga Jongaya Minta Jembatan Diperbaiki
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap tanaman padi, Muhtadin menyebut pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi telah didorong memberikan bantuan pompanisasi kepada kelompok tani yang membutuhkan.
“Kami sudah sampaikan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi untuk diberikan bantuan pompanisasi. Bupati juga sudah turun di setiap kecamatan untuk melihat beberapa unit pompa yang dibutuhkan,” katanya.
Ia menyebut bantuan pompa telah tersedia di sejumlah wilayah. Namun, kebutuhan di lapangan masih terus dipantau, terutama bagi kelompok tani yang lahannya paling terdampak kekeringan.
Baca Juga : Pengawasan APBD, APT Tampung Aspirasi Warga Barombong soal Kanal Induk
Muhtadin mengatakan kondisi tanaman padi saat ini masih dalam masa pertanaman, sehingga kekeringan berpotensi memengaruhi hasil panen ke depan.
“Sekarang sementara tanam. Mudah-mudahan bisa dipanen, tetapi hasilnya tidak maksimal. Kita sangat berharap hasil pertanian ini tidak di bawah 50 persen,” ujarnya.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, Muhtadin bersama pihak terkait juga melakukan pengawasan di sejumlah titik terdampak. Ia mengaku telah berkoordinasi dan berdialog dengan beberapa kelompok tani untuk mengetahui kebutuhan mereka selama musim kemarau.
Baca Juga : Belum Sepakat! DPRD Sulsel Skors Rapat Paripurna Kenaikan Pajak Kendaraan
“Kami melaksanakan pengawasan di dua titik yang disampaikan kepada kami. Kami juga sudah tanya kembali beberapa kelompok tani, ada yang sudah mendapatkan bantuan, terutama yang sangat terdampak musim kemarau ini,” jelasnya.
Muhtadin menegaskan, penanganan kekeringan membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan kelompok tani.
Bantuan pompanisasi dinilai penting sebagai langkah cepat untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.
Ia berharap intervensi tersebut dapat membantu petani mempertahankan tanaman hingga masa panen, sekaligus menekan potensi penurunan produksi akibat kekurangan air.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar