Pakar Epidemiologi Pembukaan Sekolah di Tengah Pandemi Bisa Munculkan Klaster Baru

Sejumlah murid Yayasan Taman Pendidikan dan Pengajaran Ujung Pandang mengikuti lomba menghiasi pohon natal di sekolahnya di Jalan Latimojong, Makassar, Selasa (18/12/2018). (Sulselsatu/Moh Niaz Sharief)

SULSELSATU.com – Sejumlah sekolah di Indonesia sudah mulai dibuka, proses belajar mengajar secara tatap muka dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai pembagian zona hijau yang menjadi landasan pembukaan sekolah tak seharusnya digunakan. Dia meminta pembukaan sekolah ditunda untuk mencegah risiko penularan virus Corona (Covid-19).

“Menurut saya sih tunda aja dulu. Walaupun Dikbud bikin aturan, bukan berarti itu izin untuk menyelenggarakan, dan zona hijau itu jangan sekali-kali dipakai sebagai zona yang menjamin tidak ada penularan,” ujar pakar epidemiologi FKM UI, Pandu Riono, dikutip detikcom, Selasa (14/7/2020).

Pandu mengusulkan agar pembukaan sekolah dilakukan jika penularan virus Corona sudah turun pada titik terendah. Menurutnya, zona risiko penularan Corona sangat dinamis.

“Pokoknya dikendalikan sampai titik terendah. Saran saya jangan hanya mengandalkan kriteria dari Gugus Tugas nasional yang mengatakan itu zona hijau, karena itu sifatnya dinamis. Jadi kalau masih belum yakin, tunda dulu (pembukaan sekolah),” ungkapnya.

“Apapun tunggu suasananya lebih tenang, daripada nanti masuk (sekolah) terus ada masalah. Ini masih naik terus, belum bisa dikendalikan secara nasional,” imbuh Pandu.

Lebih lanjut, Pandu menyebut ada beberapa kasus kemunculan klaster baru penyebaran virus Corona meski sebelumnya sudah tak ada kasus lagi. Menurut Pandu, penularan virus Corona di Indonesia masih tinggi.

“Sebaiknya tunda dulu. Kita belajar dari pengalaman bahwa klaster-klaster baru tumbuh, padahal di sana udah nol. Makanya saya tidak setuju dengan penzonaan. Jadi akan menimbulkan masalah baru nanti, zona hijau tapi nanti tiba-tiba ada klaster. Teman-teman dari daerah terlalu percaya dengan Gugus Tugas nasional. Risiko masih tinggi, kalau saya anggap semua di Indonesia masih zona merah,” ungkap dia.

Editor: Asrul