SULSELSATU.com – Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, Populix mengadakan survei kesehatan mental di masyarakat Indonesia. Hasil surveinya dirilis pada Senin, (10/10/2022).
Ssurvei Populix mencatat sebayak 52 persen masyarakat Indonesia alami gangguan mental. Survei tersebut dilakukan secara online melalui aplikasi Populix terhadap 1.005 responden laki-laki dan perempuan berusia 18-54 tahun. Penelitian dilakukan pada 16-17 September 2022.
Sebanyak 59 persen di antaranya mengaku, gangguan kesehatan mental yang dialami dipicu oleh masalah finansial. Sementara itu, faktor pemicu terbesar lainnya adalah kesepian, yakni 46 persen.
Populix juga menemukan bahwa sebanyak 10 persen responden mengalami diskriminasi dan stigma yang mampu mencetus gejala-gejala kesehatan mental. Tak hanya itu, 5 persen responden merasa faktor lainnya adalah mendapat komentar buruk di media sosial.
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan pandemi Covid-19 mempengaruhi kondisi kesehatan mental dunia serta menciptakan krisis global. Gangguan kesehatan mental merupakan salah satu isu kesehatan yang mendapat banyak perhatian besar di dunia.
Mengacu laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 19 juta penduduk di Indonesia di segmen usia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Dan, lebih dari 12 juta penduduk di usia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.
“Berbagai masalah kondisi perekonomian yang tidak menentu, rasa kesepian setelah sekian lama berjalan, sosial, tuntutan pekerjaan, hingga masalah hubungan yang timbul di masa-masa ini, serta memengaruhi kesehatan mental banyak orang,” ungkap Co-founder dan COO Populix Eileen Kamtawijoyo dalam keterangan resminya.
Menurut Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes drg. R. Vensya Sitohang, M.Pid, penyebab gangguan kesehatan mental secara umum tidak berbeda di antara kelompok usia. Gejalanya bisa dipengaruhi banyak faktor.
“Sesuai teori lingkungan, maka dampak paling kuat berasal dari lingkungan terdekat, yakni individu, keluarga, dan masyarakat,” kata drg. Vensya yang dilansir dari kumparan, Selasa (11/10/2022).
Meskipun berhubungan dengan kondisi sosial lingkungan dan hubungan antarmanusia, gangguan kesehatan mental juga bisa muncul karena faktor biologis. Menurut Direktur RSJ Lawang dr. Celestinus Eigya Munthe, Sp.KJ, pemicu lain dapat berupa penyalahgunaan obat.
“Narkoba, ya, itu jelas mengganggu perkembangan kesehatan jiwa melalui gangguan fungsi sistem sarafnya. Lalu misalnya gangguan alkohol, menggunakan mengkonsumsi alkohol secara terus-menerus secara berlebihan,” jelas dr. Celestinus.
Dia menyebut bahwa remaja dan dewasa yang mengalami gangguan kesehatan mental sering dipicu dari kebiasaan merokok. Namun, biasanya diawali dengan gangguan fisik.
“Pada akhirnya akan mengganggu pada sistem perkembangan kesehatan mental. Karena kesehatan fisik dan mental itu kan satu kesatuan jadi kompleks sekali masalah gangguan kesehatan jiwa ini,” imbuhnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar