Logo Sulselsatu

Alasan Perusahaan Masih Membagikan Tumbler dan Tote Bag, Ternyata Ini Nilai Bisnisnya

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Minggu, 09 Agustus 2026 14:18

Produk Liberty Sociaty dari daur ulang sampah. Foto: Istimewa.
Produk Liberty Sociaty dari daur ulang sampah. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com – Tumbler berlogo perusahaan, tote bag, notebook, pouch, dan berbagai barang promosi lain sudah menjadi pemandangan umum dalam acara bisnis. Barang-barang tersebut biasanya dibagikan saat seminar, konferensi, peluncuran produk, atau sebagai hadiah untuk pelanggan.

Bagi perusahaan, memberikan barang semacam ini tentu membutuhkan biaya. Karena itu, apakah merchandise hanya menjadi oleh-oleh, atau benar-benar bisa membantu sebuah merek dikenal lebih lama?

Sejumlah riset terbaru menunjukkan bahwa barang promosi masih memiliki potensi sebagai bagian dari strategi pemasaran, terutama jika barang tersebut benar-benar digunakan oleh penerimanya.

Baca Juga : Pertama di Asia Tenggara, Honda Kenalkan Mobil Ramah Lingkungan SUSTAINA-C dan Pocket Concept di GIIAS 2024

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi rumah tangga juga masih tumbuh 5,06 persen.

Artinya, aktivitas belanja masyarakat masih menjadi salah satu penggerak ekonomi Indonesia. Namun, bagi perusahaan, pertumbuhan ekonomi tidak berarti anggaran pemasaran bisa digunakan tanpa perhitungan.

Setiap pengeluaran tetap perlu dipertimbangkan manfaatnya. Termasuk ketika perusahaan mengeluarkan uang untuk membuat merchandise.

Baca Juga : PT Vale Ajak Masyarakat Daur Ulang Sampah Lewat Lomba Kreasi

Barang promosi yang hanya digunakan sekali tentu berbeda nilainya dengan barang yang dipakai selama berbulan-bulan.

Riset yang dilakukan Advertising Specialty Institute (ASI) bersama Promotional Products Association International (PPAI) dan dipublikasikan pada 2026 menunjukkan bahwa produk promosi memiliki kemampuan yang cukup kuat untuk membuat konsumen mengingat sebuah merek.

Studi tersebut juga menemukan bahwa dampak karbon per satu kali merek diingat melalui produk promosi sekitar delapan kali lebih rendah dibandingkan iklan digital, berdasarkan perbandingan yang digunakan dalam penelitian.

Baca Juga : Jadi Peluang Bisnis Baru, Srikandi Ganjar Latih Milenial Buat Boneka dari Plastik Daur Ulang di Sulsel

Sementara itu, riset Product Power 2026 dari PPAI menemukan bahwa 65 persen konsumen sangat mungkin menyimpan produk bermerek selama enam bulan atau lebih.

Temuan tersebut menunjukkan mengapa barang sederhana seperti tumbler atau tote bag masih menarik bagi perusahaan. Jika digunakan berulang kali, barang tersebut berpotensi membuat nama perusahaan terus terlihat.

Namun, memberikan merchandise tidak otomatis membuat pemasaran menjadi efektif.
Ada barang yang langsung digunakan setelah diterima. Ada pula yang hanya disimpan di lemari atau bahkan tidak pernah digunakan sama sekali.

Karena itu, perusahaan perlu memikirkan fungsi barang sebelum memproduksinya. Tumbler, misalnya, memiliki fungsi yang jelas. Begitu pula tote bag yang bisa digunakan untuk membawa barang atau laptop sleeve untuk melindungi perangkat kerja.

Sebaliknya, barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan penerima memiliki kemungkinan lebih besar untuk tidak digunakan.

Dalam kondisi tersebut, biaya produksi yang sudah dikeluarkan perusahaan belum tentu menghasilkan manfaat yang sebanding. Selain fungsi, perusahaan mulai melihat dari mana material merchandise berasal dan berapa lama barang tersebut bisa digunakan.

Salah satu pendekatan yang berkembang adalah menggunakan kembali material yang sudah tersedia atau tidak lagi digunakan.

Di Indonesia, pendekatan tersebut antara lain dilakukan oleh Liberty Society melalui produk corporate gifting dan upcycling. Dalam salah satu proyek bersama Blibli, Liberty Society melaporkan mengolah 500 kilogram limbah e-commerce menjadi sekitar 2.000 produk, seperti pouch, tote bag, laptop sleeve, dan phone holder.

Pendekatan ini membuat material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat digunakan kembali menjadi barang yang memiliki fungsi.

Bagi perusahaan, konsep tersebut juga membuka pilihan lain ketika ingin membuat merchandise tanpa selalu memulai dari material baru.

Pada akhirnya, merchandise bukan hanya soal memberikan barang gratis kepada konsumen.
Nilainya justru muncul setelah barang tersebut diterima.

Jika sebuah tumbler digunakan setiap hari, nama perusahaan yang tercetak di atasnya ikut hadir dalam aktivitas sehari-hari pemiliknya. Jika tote bag digunakan berulang kali, merek tersebut juga berpotensi dilihat oleh orang lain.

Karena itu, perusahaan kini tidak cukup hanya memikirkan berapa banyak merchandise yang bisa dibuat. Tetapi juga apakah barang tersebut benar-benar berguna bagi orang yang menerimanya?

Semakin berguna dan tahan lama sebuah merchandise, semakin besar peluang barang tersebut tidak berhenti sebagai souvenir, tetapi menjadi bagian dari pengalaman konsumen terhadap sebuah merek.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

News09 Agustus 2026 08:45
Siasat Licik APL, Premanisme Berkedok “Petani Lada” di Hutan Lindung Loeha Raya
Hukum dan wibawa negara di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Larona benar-benar dilecehkan....
Hukum08 Agustus 2026 23:56
Bupati Gowa Dikaitkan Tiga Kasus di Kepolisian, Satu Terancam Dijemput Paksa
SULSELSATU.com, GOWA– Bupati Gowa Husniah Talenrang dikaitkan tiga kasus hukum yang sedang berproses di Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Polr...
Politik08 Agustus 2026 18:53
Struktur Rampung, Ilham Ari Fauzi Serahkan SK 13 Ketua DPC PPP
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ketua DPW PPP Sulawesi Selatan, Ilham Ari Fauzi, menyerahkan surat keputusan (SK) kepengurusan kepada 13 Dewan Pimpin...
News08 Agustus 2026 18:02
PLN dan DPRD Sulsel Perkuat Sinergi Bahas Keandalan Listrik dan Infrastruktur
PT PLN (Persero) memperkuat koordinasi dengan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat pe...