SULSELSATU.com – Selama abad ke-20, orang Yahudi di Barat sukses menjadi tokoh intelektual dan menempati kelas tertinggi ekonomi. Banyak sejarah dunia telah membuktikan kalau banyak orang Yahudi yang punya pencapaian tinggi.
Bahkan, tidak sedikit dari mereka sukses meraih penghargaan tertinggi ilmu pengetahuan, yakni Nobel.
Dalam kurun 1901-1962 saja, 16 persen pemenang Nobel sains adalah orang Yahudi. Salah satunya fisikawan tersohor keturunan Yahudi, Albert Einstein peraih Nobel fisika tahun 1921.
Dilansir dari CNBCIndonesia, Rabu (31/1/2024) mengacu riset Paul Burstein dalam “Jewish Educational and Economic Success in the United States” (2007) secara spesifik menuliskan di Amerika Serikat, bangsa Yahudi tercatat lebih sukses secara ekonomi dan pendidikan dibanding kelompok bangsa dan ras lain.
Apa rahasianya?
Kesuksesan orang Yahudi sebenarnya sudah memantik rasa penasaran peneliti sejak lama. Menurut Richard Lynn dan Satoshi Kanazawa dalam “How to explain high Jewish achievement” (2008) setidaknya ada dua hipotesis untuk menjelaskan pencapaian tinggi mereka.
Pertama, orang Yahudi terbukti punya kecerdasan di atas rata-rata. Soal ini, pembahasan kita tarik mundur ke ratusan tahun lalu.
Orang Yahudi yang sukses dan punya pencapaian tinggi terjadi sudah sejak lama. Tak terhitung berapa banyak dari mereka yang berhasil menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan manusia.
Seperti diungkap oleh Jacobs dalam tulisan Jewish Contribution to Civilization (1919) yang menyebut, “Yahudi Jerman berada di puncak kesuksesan Eropa”.
Dasar Jacobs menyampaikan hal itu disebabkan murni oleh pandangan empiris yang melihat kesuksesan orang Yahudi di Eropa ketika itu.
Namun, akibat belum ada alat ukur berupa tes kecerdasan atau tes Intellectual Quotient (IQ), maka pernyataan tersebut belum tentu sahih.
Setelah saat tes IQ mulai berkembang di pertengahan abad ke-20, hipotesis yang menyebut orang Yahudi punya kecerdasan tinggi, salah satunya pernyataan Jacobs, bisa diperkuat dengan hasil tes tersebut.
Hasil tes memang menunjukkan bahwa benar orang Yahudi punya kecerdasan di atas rata-rata.
Alasan kedua, kesuksesan mereka didasari oleh nilai-nilai budaya yang kuat. Nilai budaya yang dimaksud Lynn dan Kanazawa adalah etos kerja untuk mengejar kesuksesan.
Dalam keluarga Yahudi, kesuksesan adalah hal mutlak yang harus diraih setiap anak di tiap generasi. Alhasil, tiap orang tua mengharuskan anak-anaknya untuk berprestasi. Mereka memberikan asupan gizi terbaik dan memberi motivasi supaya memiliki hobi membaca.
Mereka percaya kalau literasi adalah satu-satunya cara keluar dari kebodohan. Hal ini telah dibuktikan sendiri oleh mereka berdasarkan kasus di era Kekhalifahan Islam Abbasiyah (750 M-1258 M).
Ketika itu, mengacu pada riset berjudul The Chosen Few: How Education Shaped Jewish (2012), mereka mengalami peristiwa traumatis berupa penghancuran kuil.
Dari sini, mereka kemudian terpantik untuk bisa membaca dan melepas diri dari jeratan buta huruf.
Singkat cerita, saat sudah memiliki literasi mumpuni, mereka meninggalkan pekerjaan lama di sektor pertanian dan fokus di sektor literasi dan pendidikan.
Ketika menekuni sektor baru inilah mereka percaya kalau dua hal itu terbukti membuat sejahtera dari sisi pendapatan. Atas dasar inilah, kelak orang Yahudi sangat berorientasi pada pendidikan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar